Categories
Lika-liku Laki-laki

Serpong – Jakarta : KRL Ekonomi AC Ciujung/KRL Sudirman-Serpong Express

Banyak Jalan Menuju Roma. Begitu orang bijak berkata πŸ˜› Begitu pun menuju Serpong, banyak alternatif angkutan yang bisa digunakan. Salah satunya adalah moda transportasi kereta listrik. Bagi yang belum pernah atau pun jarang pergi pulang (PP) Serpong – Jakarta dan Jakarta – Serpong mungkin akan berkata bahwa jarak Jakarta ke Serpong atau sebaliknya adalah jauh. Hal ini tercermin sekali dari reaksi para lawan bicara yang ngobrol dengan saya saat membicarakan rumah. Rata-rata mereka akan berkata :

“wah, jauh banget yah, Serpong, kenapa gak ambil yang deket-deket kantor aja?”, dan saya pun hanya akan tersenyum-senyum karena itu merupakan sebuah pertanyaan yang tak perlu di jawab πŸ˜€

Namun bagi saya yang sudah terbiasa rasanya deket-deket aja tuh πŸ˜› Haha.. Iya sih kalau orang Jawa bilang “witing tresno jalaran seko kulino'”.

Saya sekeluarga biasa berangkat dari rumah pukul setengah enam pagi. Perjalanan dengan sepeda motor yang gak sampai 10 menit ke stasiun Rawabuntu (kalau mobil pribadi belum pernah nyobain, belum punya πŸ˜› ) masih bisa mengejar jadwal KRL Ekonomi AC Ciujung yang berangkat 05.40 WIB dari stasiun Rawabuntu. Kalau sedang tak tergesa-gesa ke kantor atau ingin “nyantai” dulu kami ambil KRL Sudirman/Serpong Express yang berangkat pukul 06.20 WIB dari stasiun Rawabuntu. Dari perumahan kami di SCP (Serpong City Paradise) ada angkutan umum angkot warna biru jurusan BSD – Parung yang melewati gerbang belakang perumahan kami. Hanya saja kami juga belum pernah mencoba, yang sudah pernah kami naiki adalah angkot Ciputat – Muncul. Namun itu untuk tujuan ke Stasiun Serpong setelah turun dari angkot Muncul – BSD warna putih yang lewat Stasiun Rawabuntu dan ternyata memutar melewati Stasiun Serpong (mending turun di Stasiun Serpong kalau mau naik angkot ini πŸ˜› ) baru kemudian ke perempatan Muncul.

Oke, kembali ke Rawabuntu πŸ˜› Setelah membeli tiket KRL Ciujung seharga Rp 4.500 (harga tiket KRL Sudrman/Serpong Express Rp 8.000) kami segera mengantri pada titik-titik peron yang telah kami tandai yang tepat di depan pintu gerbong. Hehe.. Sebuah ide yang cemerlang karena kereta selalu berhenti di titik yang sama (walau tidak selalu pas benar πŸ˜€ ). Membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke Stasiun Tanah Abang karena KRL Ciujung akan berhenti di tiap-tiap stasiun yang dilewati sepanjang rute Serpong – Tanah Abang. Total terhitung ada 7 stasiun yang dilewati dari Stasiun Serpong ke Stasiun Rawabuntu. Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan kenapa kami memilih tempat tinggal di daerah Serpong. Stasiun yang dilalaui adalah sbb : Serpong – Rawabuntu – Sudimara – Jurangmangu – Pondok Ranji – Kebayoran – Palmerah – Tanah Abang. Untuk kereta KRL Sudirman/Serpong Express Stasiun Kebayoran tidak disinggahi dengan waktu tempuh rata-rata 30 menit.

Tiba di Stasiun Tanah Abang pukul 06.15 WIB dengan KRL Ekonomi AC Ciujung, tergantung tepat waktu atau tidaknya kereta. Rata-rata 35-45 menitΒ  waktu tempuh yang diperlukan. Apabila menumpang KRL Sudirman/Serpong Express yang berangkat satasiun Rawabuntu pada pukul 06.20 WIB, kereta akan sampai di Stasiun Tanah Abang pada pukul 07.00 WIB. Saat keluar stasiun petugas akan meminta karcis untuk di sobek. Saya kurang paham untuk tujuan apa, namun begitu peraturan yang tertera di tiket namun saya lihat banyak juga yang tidak menyerahkan tiket bisa lewat dengan mudah. Perjalanan kami lanjutkan dengan omprengan, angkutan umum plat hitam. Ongkosnya Rp 5.000 per orang untuk sampai di Lapangan Banteng. Sering sekali omprengan ini penuh, jadi kami terpaksa menggunakan bajai dengan ongkos Rp 15.000 (gak pake nawar).

Pukul 06.40 kami sudah absen di kantor πŸ˜€

*waktu tempuh dan waktu tiba dapat berubah-ubah sesuai keadaan perjalanan, kemacetan, tepat atau tidaknya jadwal kereta.

Menunggu KRL Sudirman/Serpong Express di jalur 5/6 Stasiun Tanah Abang

Suasana di dalam gerbong saat penumpang ramai

Β 

Suasana di dalam gerbong KRL saat mulai lengang.

Foto diambil pada saat perjalanan Tanah Abang – Serpong setelah melewati Stasiun Sudimara dimana banyak penumpang sudah turun jadi tidak terlihat rame berdesakan.

Holder untuk para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk

Suasana Stasiun Tanah Abang saat penumpang akan keluar dari stasiun.

Saya kira stasiun harus segera diperluas karena pada saat penumpang turun, jalur masuk dan jalur keluar yang sempit dan tidak dibedakan membuat para penumpang harus berdesak-desakan berebut jalan antara yang mau masuk dan keluar stasiun. Terutama tangga naik/turun ke peron.

Suasana di depan Stasiun Tanah Abang.

Bajai dan Ojek berbaris rapi sehingga terlihat teratur dan tidak semrawut. Namun angkot yang sering ngetem di tengah jalan, ojek yang melawan arus, truk-truk yang parkir di pinggir jalan membuat jalanan menyempit dan macet.

Suasana salah satu pintu masuk Stasiun Tanah Abang.

Lengang, namun saat penumpang turun tangga ini sangat penuh berdesakkan. Ditambah pengemis yang duduk di anak tangga yang mempersempit tangga. Namun, mulai minggu ini tangga mulai dibangun pemisah hanya saja belum jelas peruntukannya apakah sebagai pemisah jalur keluar masuk atau hanya untuk pegangan pemakai tangga.

Kereta merupakan sebuah moda transportasi yang sangat nyaman bagi saya. Tidak ada kemacetan, tidak harus capek-capek membawa kendaraan sendiri. Mungkin sampai saat ini moda transportasi kereta masih dianggap sebalah mata. Namun jika moda trasnportasi satu ini benar-benar di bangun dan dikembangkan saya yakin kemacetan di jakarta akan berkurang.Salah satunya dengan membangun fasilitas jalan ke/dari stasiun agar lebih layak jangan keretanya lancar namun akses jalan ke/dari stasiun seperti tak diperhatikan.

I hope so πŸ˜€

Tiket KRL Ekonomi AC Ciujung Rp 4.500

Dan saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada para penumpang KRL Serpong yang bersedia memberikan tempat duduknya untuk para ibu-ibu yang sedang hamil, menggendong anak terutama kepada istri dan anak saya πŸ˜€

Terima kasih juga sudah mengajak main Akhtar, menjadi om-tante yang akrab dan menjadi pendengar setia saat Akhtar ngoceh dan nangis di sepanjang perjalanan πŸ˜€

Salam kekeluargaan ^.^

update 23/03/2011 :
Tangga masuk arah selatan sudah dipisahkan antara jalur masuk dan keluar

*tulisan ini murni opini penulis sebagai salah satu pemakai moda transportasi KRL arah Serpong
**images taken with Huawei G6600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.