Categories
Lika-liku Laki-laki

It’s my wedding (1)

Kriiiiiiiiing.. kriiiiiiiiiing…

Alarm berteriak-teriak membangunkanku. Pagi itu hari rabu, 7 Oktober 2009 pukul 04.00 WIB. Hari ini aku harus mengejar pesawat pukul 07.00 pagi. Pesawat yang akan mengantarkanku ke masa depanku menuju kota empek-empek. Aku langsung bergegas untuk mandi dan sholat subuh.

Pagi-pagi buta menyeret sebuah tas beroda, bunyinya berisik menggesek aspal menuju ke jalan besar Johar Baru. Sepagi itu, di sebuah gang adalah sebuah kemujuran besar untuk menemukan angkutan umum, bajai sekalipun.

Ku pindahkan pegangan tas ke tangan kiri sembari menengok ke kanan kiri mencari secercah sorotan lampu taksi, bajai, angkot atau apapun bentuknya. Aku harus bergegas agar tidak ketinggalan bus terpagi.  Sampai di pojok kiri depan Rutan Salemba, seorang ojek motor yang hendak berangkat ke pangkalannya menawarkan jasanya padaku.

“Ojek mas?” sapanya.

“Fiuuuuh.. kenapa gak dari tadi lewat bang?” ocehku sia-sia.

“Ke Gambir berapa bang?” kataku sembari menahan pegalnya kakiku.

“25.000 aja mas” tawarnya.

“20.000 lah bang, biasanya juga segitu” negoku seperti orang yang biasa naik ojek saja.

“Ok lah, naik” jawabnya tanpa perlawanan.

Sesampainya di Gambir aku langsung masuk ke bus yang hampir penuh dan siap berangkat.  Berbekal sebuah koran yang baru saja ku beli dari seorang loper koran, belum sarapan dan masih terkantuk-kantuk.

“Perjalanan kali ini bakal menjadi sebuah cerita indah di masa depan nanti” gumamku dalam hati sembari kembali terlelap tidur diserang kantuk yang biasanya mengekangku sampai jam 7 pagi.{jcomments on}

*image source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.