Categories
Sharing Is Caring The Story

Komunikasi Pasangan

Disclaimer : Postingan ini akan sangat panjang πŸ™‚

Sesungguhnya sangat merasa beruntung masukin anak ke TPA, jadi bisa ketemu orangtua terutama ibu-ibu yang hebat. Beberapa di antaranya udah pernah ikut Pelatihan Komunikasi Pengasuhan Anak sama Bu Elly Risman. Jadi, sedikit banyak bisa sangat belajar dari cara mereka bertutur sama anak πŸ™‚ Pengen banget ikut, tapi pas tau biayanya sangat lumayan, apalagi buat sepasang, mundur pelan-pelan πŸ˜› Menurutku percuma kalo cuma salah satu aja yang ikut, karena mengasuh anak kan berdua πŸ™‚ Tapi terus mikir, ada g ya pelatihan komunikasi pasangan yang harganya terjangkau. Soalnya menurutku lagi, percuma kalo udah tau cara berkomunikasi yang bener ke anak, sama pasangan g bener komunikasinya. Anak-anak pasti akan mencontoh πŸ™‚ Keinginan itu cuma mengendap aja, sampai baca retweetnya @anakjugamanusia yang ngasih tau kalo Kelompok Peduli Anak-nya @mratuliu bikin Seminar Komunikasi Pasangan yang biayanya masih terjangkau buat kami. Pas liat tanggal, langsung senyum merekah, pas ada ibu di Serpong! Horee, anak-anak ada yang jagain. Alam berkonspirasi πŸ™‚ Nanya ke masku, masku mau! Double Yay! Anggaplah sebagai early gift Ulang Tahun Pernikahan ke-3 kami πŸ˜›

29 September lalu berangkat pagi dari rumah, karena seminarnya dimulai jam 9, registrasi dari 1/2 jam sebelumnya. Kami sampai jam 8.45. Ndilalah, pas masuk ruangan seminar, Masku langsung bilang “Komunikasi Pasangan? Kirain Komunikasi Pengasuhan Anak” Aiish, aku sediiih πŸ™ Tapi biarin lah, g akan kabur juga kan dia πŸ˜› Seminar dibuka langsung sama Mona Ratuliu, cantik πŸ™‚ Sempet baca salah satu puisi di buku “Ayah Ada Ayah Tiada” karangan Irwan Rinaldi. Buku yang isinya puisi bikinin anak kecil yang semuanya jleb banget, misalnya ini “Hanya Bi Imah yg tersenyum dan bercanda, tak pernah tanya PR segala”, “Kenapa kita harus makan malam segala kalau perut msh kenyang terasa”. Jleb! Setelah itu Pak Irwannya sempet bicara sedikit tentang peran ayah dalam pengasuhan. Dulu pernah ketemu juga sama bapak ini pas hamil Akhtar πŸ™‚

Kesimpulannya kurang lebih “Bergaullah lahir dan Batin sama Anak” Mesti waktu yang dimiliki sedikit sekali untuk anak, gunakan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa karena ayah adalah mentor terbaik untuk anak-anak. Waktu terbaik untuk ngobrol adalah 1/2 jam sebelum dan bangun tidur. Mulailah dengan menanyakan perasaan anak, lalu tanyakan apakah mau cerita. Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang kehilangan figur ayah. Bayangkan ya, di rumah sama ibu, di sekolah, rata-rata guru TK dan SD, hampir 97%, adalah perempuan. Itu tidak baik, terutama untuk anak laki-laki, karena dia g punya sosok laki-laki yang harus diteladani. Ayah-ayah supir taksi dan tukang ojek aja punya komunitas ayah sendiri loh! Hebat πŸ™‚

Setelah itu, sesi Bu Elly Risman dimulai. Aku g bisa nih nulis semuanya kali ya. Seinget aku aja πŸ˜€ Ini juga sambil nulis, sambil liat coretan di hand out aku sama masku dan contekan di twitternya @ParenThink πŸ˜› Oh iya, sebelum masuk sesi ini, dibagi angket tentang apa yang g disukai dari pasangan dan harapan apa buat pasangan. Hahaha, lucu deeh, aku sama masku g mau saling ngeliatin πŸ˜› Nah, Perkawinan itu terdiri dari harapan, mimpi, dan realitas. Realitas yang beda sama harapan dan mimpi ini yang bikin kita jadi terkaget-kaget di awal menikah dan sering jadi masalah, parahnya kalo sampai terperangkap di hati sendiri, bagai baca buku yang tebal, yang semakin kita bolak-balik, semakin g ngerti isinya apa. Nah, biar g terperangkap di hati sendiri, makanya penting komunikasi yang bener πŸ™‚

Sampe situ, tiba-tiba para istri di situ dikasih masing-masing satu bunga mawar. Udah seneng kan yaa? Ternyata bukan buat kami, disuruh berhadapan sama suami, dan mengungkapkan terima kasih yang sangat mendalam ke suami yang bersedia mengorbankan Sabtunya buat mau diajak ke seminar ini! Seneng yaa liat ayah-ayah yang mau belajar buat jadi orangtua yang lebih baik gini πŸ™‚ Momen itu lumayan ya bikin muka ini blushing-blushing lucu πŸ˜› Dan ternyata bikin suami-suami lebih rileks. Masku pas ditanyain Bu Elly, bilangnya terharu dikasih bunga mawar πŸ˜€ Nih, ada fotonya, pinjem dari twitternya @mratuliu. Yang aku tandain itu kami looh! πŸ˜€ #narsis πŸ˜›

Setelah itu dipajang lah hasil angket tadi. Ternyata kebanyakan harapan suami ke istri adalah supaya lebih sabar, hemat, dan mandiri. Yang terakhir bikin ngaca deeh πŸ˜› Nah lalu kebanyakan harapan istri ke suami adalah supaya jadi imam buat keluarga πŸ™‚ Nah harapan yang g terkomunikasikan inilah yang bikin bersitegang, saling mendiamkan, saling merendahkan. Ah, padahal ada anak-anak yang perasaannya sangat haluuus sekali, sangat peka terhadap ekspresi orang tuanya. Sekecil apapun mereka, mereka ngerti kalo ada yang g enak di keluarganya. Tegakah kita bikin hati mereka merasa tidak aman? πŸ™ *jleb, langsung inget anak-anak, langsung basah mata ini πŸ™

Iklim rumah itu cerminan fondasi keluarga, kesehatan pribadi dan kesehatan anggota keluarga, psikis maupun fisik. Jadi kalo pasangannya sering sakit-sakitan, mungkin saja itu semua karena sesuatu yang tak tersampaikan. Karena otak manusia, terutama wanita, tidak didesain untuk stress yang berlama-lama. Nah, PR besar buat kami, dan mungkin banyak pasangan muda lain adalah bikin tujuan pengasuhan anak. Kekuatan mimpi dan harapan itu sangat penting dalam keluarga supaya tau langkah apa yang harus diambil buat mencapai tujuan itu. Harus lebih banyak taqwa, syukur, sabar, beramal saleh, ditambah keterampilan interpersonal supaya langgeng πŸ™‚

Oke, jadi apa sih akar masalahnya? Pertama, lupa kalo masing-masing dari kita ini unik yang perlu perlakuan khusus yang tidak sama. Lalu, lupa juga kalo laki-laki dan perempuan itu memang beda, terutama dari cara berfikir ya πŸ™‚ Nah karena itu jadi salah pengertian dan salah harapan πŸ˜› Hadeeuh, panjang ini kalo mau ditulis satu-satu apa aja bedanya πŸ˜› Kita ke contoh beberapa kasus aja yaa? πŸ˜€

Jadi misalnya sekarang lagi perayaan ulang tahun pernikahan. Kita, si istri ini, pasti ngarepnya para suami itu inget ya, syukur-syukur beli kado. Karena kita pengen hari itu jadi lebih spesial, inisiatif lah ganti lay out ruang tamu, capeeek kan ya geser kursi dan meja sendiri πŸ˜› Terus masak atau beli makanan kesukaan suami, biar terasa lebih spesial lagi, dihiaslah dengan selada segala macem. Belum cukup, sepre diganti baru. Harapan kita adalah suami menghargai usaha kita kan yaa? Jadi pasti kecewa dan jadinya marah kalo pas suami pulang ngeloyor aja masuk, lewat ruang tamu tanpa noleh, lalu ganti baju, dan langsung makan makanan kesukaannya sambil bilang “enak ya ma?”, dan tidur aja gitu g sadar sepre baru! Jadi deh ogah-ogahan jawab suami sampe 2 hari, suami yang bingung nanya “Mama kenapa sih diem-diem gini?” Yaak, dan nyerocoslah kita kalo 2 hari yang lalu itu perayaan nikahan loh, kita udah ngapain aja! ah, siapa juga yang nyuruh kan? πŸ˜› Hahaha, padahal otak laki-laki emang gitu ternyata. Akan jauuuh lebih gampang dan bikin semua seneng kalo kita ini, to the point, hari ini perayaan nikahan kita, mau makan malem dimana! Selesai πŸ˜› Take it easy, jangan suka hidup dalam alam pikiran sendiri πŸ™‚ Sudah dipraktekin kalo yang ini, dapet deh sepatu ini πŸ˜›

 

Ada satu yang bikin mata berkaca-kaca lagi, inget ayah πŸ™‚ Jadi kan anak laki-laki itu dibesarkan dengan banyak sekali kalimat “Jangan nangis, anak laki-laki g boleh nangis!” Jadi mereka sudah terbiasa dengan pola yang seperti itu. Jadi, pas liat istri nangis yang ada di pikirannya “Kenapa nangis-nangis siih?” Mereka jadi sering menghindar. Nah, padahal kita ini, anak perempuan, dibesarkan dengan sangat penuh kasih sama ayah ibu kita. Jatuh sedikit aja “Anak perempuan ayah sakit? Apa yang sakit nak” bahkan dipeluk. Bayangkan perasaan mereka yang biasa diperlakukan seperti itu mendapati suaminya yang menghindar? Laki-laki kalo sedih butuh waktu dan ruang. Sementara wanita cenderung ingin berbagi, didengarkan, disentuh, dan dipeluk. Keliahatan kan bedanya? Makanya harus ngerti banget perbedaan itu supaya jadi tau harus bagaimana saat salah satu sedang emosi. Jangan sampai ‘gila’ dua-duanya πŸ˜€ Dengarkan dan peluk istrimu ya, suami-suami! Beri waktu suamimu berfikir ya, istri-istri πŸ™‚ Ingat yaa, bagaimanapun kita memperlakukan pasangan, itulah yang akan menjadi pola anak dan cucu kita nanti ke pasangan, bahkan anaknya nanti πŸ™ Jadi, marilah yuk sama-sama memperbaiki diri supaya generasi ke depan ini jauuh lebih baik daripada kita πŸ™‚

Satu lagi, suami itu kesadaran tentang masalah menyempit. Jadi dia emang hanya bisa fokus mikirin satu masalah. Sementara istri, kesadaran tentang masalahnya melebar. Jadi bisa banget mikir banyak hal dalam satu waktu. Nah, makanya kita ini mikirnya detail, dan kadang jadi kesel kan kalo suaminya terkesan cuek πŸ˜› Yaaah, emang itu perannya istri, otak suami emang didesain begitu, simple, karena dia laki-laki πŸ™‚ Tapi, suami jangan lupa ngingetin istri yaaa, karena saking banyaknya yang dia pikirin, sering lupa sama diri sendiri. Di situ lah, peran suami, buat puk-puk istri supaya tetep ‘waras’, biar istri merasa kalo usahanya dihargai πŸ™‚ Pasangan juga butuh validasi atas eksistensi, kasih sayang, dan peran mereka berupa pengertian, pengakuan dan pujian yaa? πŸ™‚

 

Yah semacam itu lah, selalu inget kalo kita emang beda sama suami, dan manusia itu unik. Untuk jadi seorang manusia aja, harus ada sperma yang berjuang berkompetisi sama jutaan sperma lain menuju ke sel telur yang cuma satu itu. Kita ini memang sudah diciptakan unik. Yang paling susah menurut aku adalah laki-laki itu g suka ngomong, sementara kita, wanita ini, kebutuhannya ngomong! Karena terlalu ekstrim perbedaannya itu, jadi semuanya harus bergeser ke tengah, g bisa narik ke salah satu kutub. Jadi jangan mimpi bisa mengubah pasangan seperti yang kita pengen πŸ™‚ Karena dia memang diciptakan Allah seperti itu. Justru perbedaan itu harusnya jadi kekuatan yang saling melengkapi πŸ™‚ Terima saja, karena jodoh itu Rahasia Allah dan sudah diatur sama Allah πŸ™‚

Nah, jadi apa nih yang dibutuhkan supaya komunikasi lancar? Pertama, keinginan buat berubah yang kuat, berupaya melakukan mendengar yang baik dan benar, dan mencoba merubah perilaku. Kita selalu diajari untuk bicara, tetapi tidak diajar untuk mendengarkan. Jauhkan semua penghalang untuk mendengarkan. Kebiasaan itu muncul karena sesuatu yang diulang-ulang, jadi bisa banget bikin kebiasaan baru yang lebih baik dengan rajin mengulang-ulang hal baik itu. Istri harus jadi pihak yang lebih sabar ya, abaikan dulu naluri di dalam diri yang pengen semuanya dikerjain cepet πŸ˜› Cinta itu memberi ya, beri saja, jangan meminta πŸ™‚ Percaya saja kalo semua hal baik yang kita lakukan akan berbalik baik pula ke kita πŸ™‚ If Mom Ain’t Happy Ain’t Nobody Happy! :)

Mungkin sharing ini g mengena dan tidak lengkap. Tapi semoga bisa sedikit aja membuka wawasan kita supaya membenahi komunikasi sama pasangan, dan akhirnya jadi contoh yang baik juga buat anak cucu kita nanti. Memberi teladan itu lebih kuat mempengaruhi daripada berjuta kata kan?Β  Oh iya, jangan luka bersedekah buat diri kita sendiri dengan SENYUM! πŸ˜€ Senyum membuat otak mengeluarkan hormon seretonin yang anti agresif, bikin otak rileks πŸ˜€

Selesai seminar, alhamdulillah masku seneng dengan seminar ini! Seneng liat banyak coretan di lembaran handout dia. Salah satunya ini “Sebaik-baiknya laki-laki adalah laki-laki yang baik bagi keluarganya” Semoga kita bisa menerapkan ini ke keluarga kecil kita ya, mas? I Love U πŸ™‚

PS : PR selesai ya, Renny? πŸ™‚

One reply on “Komunikasi Pasangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.