Surat untuk Akhtar #3

Surat ke-empat, dan telat lagi. Sudah terbiasa ya nak? πŸ˜› Sindrom mendadak otak buntu, mendadak bingung, mendadak gak tau mau nulis apa di setiap ulang tahun kalian, kamu dan adikmu. Gpp, ya, nak? Nulis surat buat kalian yang cuma setahun sekali harus di waktu yang benar-benar longgar, seperti sekarang *kemudian Bunda dipelototin bos πŸ˜›

Akhtar sayang, 27 Agustus 2013, bayi kecil Bunda umurnya bertambah lagi. Pagi itu kamu bangun lebih gampang, karena denger “Siapa yang ulang tahun ke-tiga hari ini?”, “Sayaaaaaa!” πŸ˜› Lalu cepet mandi untuk buka kado. Kado pertama yang Bunda dan Ayah sengaja belikan dan berikan tepat di hari ulang tahunmu πŸ˜› Bunda terharu tau kamu udah bisa memainkan pianika, meniup dan memencet tombol berbarengan πŸ™‚ Pianika yang g mahal itu kamu peluk sambil mainkan sepanjang jalan ke sekolah. Seperti mengerti kalau hari itu istimewa, kamu makan dengan cepat di mobil. Berbicara dan bertanya lebih banyak. Entahlah, kamu sudah mengerti atau cuma membeo, hari itu kamu dengan bangga bilang “Kakak ulang tahun ke-tiga hari ini” di depan gurumu, di depan temanmu, di depan Om Tante di ruangan Bunda. Waktu siang, waktu Bunda ke TPA buat nyusuin Kirana, kamu tiba-tiba minta telponin Kakek dan Nenek untuk cerita kalo kamu ulang tahun hari itu πŸ˜› Di penghujung sore, bu guru cerita kalo kamu juga bercerita kalo dikasih kado sama ayah bunda dengan muka sumringah ;’) Terus seperti itu ya, nak. Bersyukur untuk semua yang kamu dapatkan. Jangan pandang bentuk, ukuran, apalagi harganya. Ingatlah usaha, harapan, dan doa yang mengalir di setiap pemberian orang untukmu.

Akhtar sayang, siang itu, Bunda pergi ke Pasar Gembrong di Prumpung dengan tante-tante di TPA, pulang-pulang bahagia sekali bawa tentengan meja-mejaan belajar buat kamu dan Kirana. Oh iya, hari itu, Bunda perdana beliin adikmu mainan yang cewek sekali, masak-masakan πŸ˜› Itu kado Nenek dan Kakek buat kalian. Jangan lupa, Mbah di Lampung pun sudah membelikan sepeda. Lihatlah, kasih sayang mereka pada kita, pada kamu dan Kirana. Tak cukup dihabiskan untuk menyayangi ayah dan Bunda saja, sekarang mereka masih punya sayang yang meluap untuk kalian, cucunya. Doakan ayah bunda punya sayang sebesar itu juga buat kamu, adikmu, dan keluarga kalian nanti di masa depan. Bunda doakan juga kamu bisa punya kasih sayang seluas bahkan lebih luas daripada itu untuk kami, adikmu, dan keluarga kecilmu nanti. Bahkan sayang yang lebih luas untuk menyayangi orang-orang di sekelilingmu πŸ™‚

Akhtar sayang, g ada tiup lilin. Hanya ada nyanyian Selamat Ulang Tahun yang ujung-ujungnya kamu nyanyiin terus sendiri di hari itu. Bahkan malam itu, kita pulang lebih malam dari kantor karena Ayah Bunda terlalu malas ketemu macet parah di jalan karena perbaikan di tol Alam Sutera. Hanya kita, dan beberapa teman Bunda di kantor. Kamu dan adikmu kesenengan main mainan baru. Di jalan kamu tertidur, sampai rumah, masih tidur. Dan Bunda cium-ciumin kamu dan menye-menye bilang sama ayahmu “Bentar lagi kakak selesai ulang tahun ke-tiganyaa”. Maaf ya nak, ulang tahunmu berlalu tanpa ada perayaan seperti 2 tahun yang sudah-sudah πŸ˜› Karena yang terpenting, adalah bersyukur. Bersyukur untuk semua hal yang diberikan Allah pada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat umur. Semoga semakin besar, kamu akan semakin mengerti tentang artinya bersyukur.

Akhtar sayang, 2 ke 3 tahun. Yang paling bikin Bunda terharu adalah sikap kakak-kakakmu ke Kirana. Walo kamu juga sering gemes, sering gangguin Kirana, sering g langsung mau minjemin mainan ke Kirana (Adek, izin dulu sama kakak! Kakak, boleh g? Boleeeh. *baru dikasih :P), tapi kamu jaraaaaaaaaaaang sekali membalas kalo Kirana yang belum ngerti itu g sengaja menyakiti kamu. Main, ‘baca’in cerita, sampe teriak-teriak “Adek, g aman!” kalo Bunda dan Ayah sedang ngerjain kerjaan rumah. Bunda yakin Kakak Akhtar akan jadi jagoan kesayangan Kirana. Terima kasih ya, nak. Menepis ketakutan Bunda g bisa membagi waktu buat kamu dan Kirana. Terima kasih untuk mengerti dan mengalah kalau Kirana sedang mimik. Terima kasih bantuin ayah dan bunda ‘jaga’in adek :’)

Akhtar sayang,kamu sudah semakin pintar bercerita dan mengingat yang kamu alami, walo penempatan waktu masih suka salah πŸ˜› Bunda senaaang sekali, buah dari bertanya kabar kamu setiap hari, akhirnya terlihat di suatu malam sebelum tidur sebelum Bunda tanya kamu bilang “Bunda, kakak tadi senang, bla bla bla”. Percaya kami terus ya nak untuk berbagi cerita. Doakan kami bisa jadi sahabat yang asyik di waktu kamu beranjak ABG nanti. Ayah Bundanya diajak ikut gaul ya, nanti :* Lalu setidaknya dengarkanlah ucapan kami, setidaksetuju apapun kamu dengan opini kami, pikirkanlah dulu baik-baik, sebelum kamu beragumen. Karena kami sayang sekali sama kamu, nak! *Yes, I will repeat and repeat and repeat that I love U much

Akhtar sayang, 2 ke 3 tahun, banyak kepintaran yang bertambah yang dikasih Allah sama kamu. Banyak pengalaman baru yang bisa kamu cicip. Study tour, flying fox, naik kuda, evaluasi, bagi rapor, bahkan lomba 17 Agustusan perdana kamu. Heeeey, kamu itu baru 3 tahun! See, how lucky U are, nak πŸ™‚ Kami, akan berusaha sebisa kami mampu, memberikan kamu banyak pengalaman dan pilihan. Lakukan yang bikin hatimu bahagia! Dan insya Allah, selama pilihanmu tidak berlawanan dengan perintah Allah, kami ada di garda depan untuk mendukung kamu πŸ™‚

β€œIt’s not only children who grow. Parents do too. As much as we watch to see what our children do with their lives, they are watching us to see what we do with ours” – Joyce Maynard

Quote yang sangat benar. Melihat tingkah kamu, mendengar ucapan dan pertanyaan kamu, melihat begitu cepat kamu menyerap (baik dan buruk), kami jadi ingin lebih pintar, lebih membekali diri dengan ilmu. Supaya bisa menjawab semua pertanyaanmu dengan benar.Β Supaya bisa mengawal kalian dengan baik. Adopsi parenting sana-sini, menemukan error-error, benahin, ganti gaya, gabungin cara. Maaf ya, kalian jadi kayak objek percobaan πŸ™ Tapi dengar ini, camkan dalam hati, apapun itu, kami melakukan ini karena kami sayang sekali sama kalian. Kalian hidup di saat banyak sekali berita dan kabar yang g enak terdengar. Kami g selalu bisa ada di dekat kalian dalam semua fase hidup kalian. Maka, sekarang, di sini, kami mencoba dengan sangat supaya bekal yang kami berikan bisa menjaga langkah kalian. Sambil tak putus berdoa, semoga Allah selalu ada di setiap langkah itu. Amin amin amiiiin.

Akhtar sayang, kamu sudah hapal doa makan dan doa tidur. Kamu sudah belajar ngaji iqro, walo sampe sekarang belom maju dari Ja πŸ˜› Kamu juga bikin kami terharu karena hampir selalu bisa tertib kalo diajak sholat berjamaah di masjid. Hampir menetes air mata Bunda waktu pertama kali mendengar suara bayi bunda ini berteriak nyaring di antara “Amiiin” jemaah lain. Bergetar hati ini waktu kamu yang terbata-bata ngikutin surat Al Fatihah di radio terus bilang “Bunda, kakak seneng denger ini” Ya Allah, ya Allah, jagalah terus hati dan jiwa yang masih bersih ini. Bantulah kami menjadi pengawal kesholehan anak-anak kami ini. Amiiiiiiin.

Ah, tak habis-habis, Bunda bersyukur setiap melihat kamu dan adikmu. Di waktu sekarang ini, ayah bunda memang harus berhemat ketat supaya kita tetap bisa hidup layak. Banyak yang harus dikorbankan. Tapi, begitu melihat kenyamanan kalian, semuanya seperti memang layak untuk diperjuangkan. Hidup ini memang tentang berjuang, nak. Tapi jangan sampai kalian lupa menyenangkan diri kalian. Terus rukun sampai selama-lamanya, jangan sampai kalian terpecah belah, apalagi hanya untuk harta dunia. Ikatan keluarga kita jauh lebih penting daripada segala-galanya πŸ™‚

Maaf untuk ketidaksabaran Bunda, emosi Bunda yang kadang meluap karena lupa kalo kamu hanya sedang mencari tau. Maaf kalau kamu kadang harus mengalah karena Kirana sedang lebih butuh Bunda, dan kamu saat itu cuma mau sama Bunda. Maaf untuk hal buruk yang tidak sengaja kami perdengarkan, perlihatkan, atau yang kamu rasakan. Maaf kalo tanpa sengaja kami menjadi contoh yang buruk. Maaf kalo pengetahuan ayah bunda ternyata masih cetek sekali tentang banyak hal, terutama agama kita ini.

Akhtar sayang, terima kasih untuk semuanya ya nak. Apa yang kamu ajarkan dari sikapmu, motivasi supaya kami menjadi lebih baik, senyuman, tatapan sayang, apalagi kalimat “Kakak sayang banget sama Bunda, sama ayah, sama adek” Kami juga sayang bangeeeeet sama kamu, little man! Terima kasih untuk pelukan kamu. Bunda sedih kalo kamu kadang suka protes kalo dipeluk “Bunda, izin dulu!” πŸ˜›

20130827_Akhtar3tahun!

Selamat ulang tahun yang ke-3, Akhtar sayang. Semoga kamu menjadi anak yang terpilih dan berderajat tinggi serta berakhlak baik seperti Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Bunda sayaaaaang banget sama kamu :’)

4 thoughts on “Surat untuk Akhtar #3”

  1. Aaaaaah selalu terharu deh sama isi surat surat iniiiih… πŸ™‚
    Anak2x ini bikin hati hangat deh… smoga slalu jadi anak yang santun ya Kak… Kamu kebanggan kami, Kakak Bayiiiii πŸ˜‰

    1. Curahan hati iniii :*
      Amin amin amiiiin. Makasih tanteee untuk sayang buat kami yang selalu berasa meski kita jarang ketemu *nyindir πŸ˜›

  2. Selamat ulang tahun Kakak. Semoga terus sehat, bahagia, dan tumbuh jadi laki-laki yg soleh ya. Tante, Om n Khalila baca amin yang keras sangat untuk doa-doa bunda. Semoga didengar dan dikabulkan Allah.

    Itu ganteng bener pake jas. Dan pasti lebih ganteng lagi y kalo pake jas pas baca ijab kabul untuk minta anak orang nanti πŸ™‚ *apa sih tante

    1. Aih, bu tetangga udah pake foto segala di siniii πŸ˜›

      Amin amin amiiin, makasih tante om sm Lilaaa :*

      Tidaaaaaaak, itu masih lama tanteeeeeeee *emak posesif sewot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *