Jadi Ayah Ada dong!

2 Senin berturut-turut dapet kesempatan menambah ilmu gratis. G perlu jauh-jauh pergi pula. Alhamdulillah πŸ™‚

Yang pertama 8 Juli, menjelang Ramadhan di kantor, cuma perlu naik lift πŸ˜› Jadi sekarang kan lagi digalakkan work-life balance. Perdana ini ada seminar parenting di kantor πŸ™‚Β  Judul di flyer β€œTantangan Ayah/ Ibu Pekerja dalam Membangun Quality Time dengan Anak-anak”. Pembicaranya Ayah Irwan Rinaldi. Alhamdulillah, ini kali ke-3 ketemu beliau, pas lagi hamil Akhtar, dan pas jadi pembuka seminar Komunikasi Pasangan ini. Dari pembicara yang dipilih kelihatan sasaran bidiknya adalah para ayah dan calon ayah di kantor. Makanya sedih, pas acara dimulai kuota 60 orang g terpenuhi. Banyak kursi kosong. Itu pun, udah ditambahin ibu-ibu πŸ™ Sempet sedih, masku batal ikut karena ngantuk, baru pulang jam Β½ 2 pagi dari Anyer itu. Jadi pas liat dia tiba-tiba masuk ruangan, dan duduk di baris depan, walo telat itu, rasanya aku bahagia sekaliiiii *peluuuk πŸ˜€

Diskusi ini lebih ke sharing pengalaman, berbagi cerita aja. Jadi alurnya random y? πŸ™‚ Di sini juga g 100% ucapan Ayah Irwan ya, di sana sini sudah aku interpretasi sesuai pemahaman aku πŸ˜›

Diskusi dimulai dengan satu slide yang tulisannya β€œMau dibawa kemana anak kita?” yang besar. Beberapa peserta ditanya, dan jawabannya beda-beda. Terus ditanya udah ngelakuin apa buat mencapai cita-cita itu. The 1st Jleb adalah sudahkah tujuan pengasuhan itu dikomunikasikan ke pasangan. Indonesia ini angka perceraian sudah semakin tinggi, karena masalah komunikasi ini. Karena waktu menikah, kebanyakan belum pernah dapet pelajaran jadi suami/ istri apalagi jadi ayah/ ibu πŸ™

Dipaparkan data-data tentang perilaku seksologis anak-anak Indonesia, di bukan kota besar yang sangat-sangat mencengangkan. Betapa bebasnya pergaulan anak-anak sekarang ini, bahkan dari usia yang masih kecil πŸ™ Udah banyak berseliweran di dunia maya ini sebenernya. Terutama yang pernah ikut seminar dari Yayasan Buah Hati. Sudahlah, g perlu lagi dijeber di sini ya?

Kenapa bisa begitu? Karena banyak anak-anak yang merasa jenuh, kesepian, takut/marah, stress, lelah, dan terutama FATHER HUNGER. Kekurangan sosok ayah. Ayah ada, Ayah tiada. Ayah yang terlalu sibuk bekerja atas nama mencari penghasilan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi lupa kalau anaknya butuh perhatian dan pengajaran darinya. Naudzubillahhiminzalik πŸ™

Dari kecil, anak-anak ini di sekelilingnya didominasi perempuan. Ibu, pengasuh, guru TK yang mayoritas perempuan, guru-guru sekolah. Misalnya sedang menceritakan sahabat nabi Ummar bin Khattab yang kuat. Ekspresi kuat perempuan gimana sih? G akan bisa menyamai laki-laki. Itu yang terekam dalam pikiran anak laki-laki kita. Padahal di usia itu dia butuh sosok yang bisa diteladani. Di situ, ayah berperan besar sekali. Untuk menunjukkan laki-laki itu yang seperti ini. Untuk anak perempuan pun juga besar perannya, memberikan hujaman kasih sayang dan perhatian, sehingga anak-anak tidak kekurangan dan jadi mencari perhatian dari laki-laki lain di luar sana. Penuhi hati anak-anak kita ini dengan cinta yang melimpah πŸ™‚ Ini hampir sama seperti yang ditulis Masku di sini.

Kenapa kita harus mengasuh anak menjadi generasi yang tangguh? Anak punya milyaran sel otak yang siap diisi dan masa depan anak tergantung dari apa yang didapat selama masa usia dini 0 – 15 tahun. Pembentuk karakter kita adalah ayah dan ibu. Kita yang sekarang adalah kita hasil pengasuhan ayah ibu kita dari 0 – 15 tahun yang lalu. Anak kita adalah hasil pengasuhan kita selama dia 0 – 15 tahun! Berat ya kewajiban ini? *puk-puk sesama orangtua πŸ˜›

Contoh : Waktu kecil ada anak jatuh dari sepeda. Familiar dengan kalimat ini “Kenapa jatuuh? Dindingnya ya yang nakal?” terus dinding dipukul sama orangtua si anak. Kelihatan sangat sederhana. Tapi efek ke jangka panjang sangat besar. Dari peristiwa-eristiwa yang seperti itu bisa tumbuh seorang pemuda/ pemudi yang g fighting, yang sering lari dari masalah, karena kurang punya tanggungjawab πŸ™ Jadi, berhati-hatilah dengan semua ucapan dan tindakan kita πŸ™‚

Wajib salah supaya tau yang benar.

Waktu bangun tidur adalah waktu pembukaan simpul fisik dan psikologis. Ditutup di waktu akan tidur. Waktu-waktu ini tidak boleh abu-abu. Waktu yang tepat untuk bertanya dan berbicara dari hati dan jiwa ke anak. Tanya ke anak perasaannya hari ini, apa yang menarik hari ini. Biasanya yang akan keluar adalah hal yang paling berkesan. Hal yang sangat baik atau hal yang sangat buruk. Saat itulah, kita bisa menguatkan yang baik, dan memutus yang buruk. Apalagi kalo yang melakukan ini adalah ayah. Lebih bermakna dalam untuk anak πŸ™‚

Betapa penting ya waktu-waktu itu? Jangan sampai lah ya mereka tidur di depan televisi atau gadget yang berteknologi canggih. Entah apa yang mereka lihat sebelum tidur, dan masuk ke simpul psikologis mereka. Syukur kalo yang baik, kalau ternyata yang buruk? πŸ™

Apa yang harus kita siapkan sebagai orang tua? Pertama, cek rumah kita, jenis seperti apa. Banyak pamrih kah? Sepi kah? Hangat kah? Yang kedua, periksa diri kita, kenali diri kita, bagaimana kita diasuh dulu. Lalu dibicarakan dengan pasangan yang juga memeriksa dirinya dan cara diasuh dulu. Ambil yang benar untuk dilanjutkan. Yang dirasa mengganggu, apalagi mengganggu pasangan kita, pelan-pelan diperbaiki. Kita g bisa balik ke masa lalu kan? Diingat kembali pola apa yang menimbulkan karakter yang seperti itu, lalu eliminasi, tinggalkan supaya tidak kita ulangi lagi ke anak-anak kita πŸ™‚ Lalu jadilah tokoh dan peran yang sesuai dengan umur anak.

Misalnya memuji. Untuk anak 0- 10 tahun, jangan tunda pujian, jangan pelit pujian. Lihat anak bisa naliin sepatu sendiri, datengin, turunkan badan sejajar mata anak, langsung puji β€œWah, anak ayah hebat bisa naliin sepatu sendiri. Ayah bangga sama kamu, nak” sambil dipeluk. Anak 10-15 tahun, cukup kasih 2 jempol kalo dia melakukan hal yang baik. 15 tahun ke atas? Tinju kecil ayah di pundak anak laki-lakinya itu udah yang paling besar artinya buat anak πŸ™‚ Jika orangtua g pelit memuji, anak akan menjadi pribadi yang g pelit pujian. Gampang memuji istri yang dandan lama demi terlihat lebih cantik di depan suami, misalnya πŸ˜›

Ini aku ringkas dari slide, karena waktu diskusi yang g banyak, jadi di bagian ini hanya sekilas, dan langsung ke contoh tadi πŸ™‚

Anak 0 – 10 tahun, perilaku tidak berakar kesadarannya, sehingga masih tidak tetap dan mudah berubah (misalnya, hari ini bilang mau jadi dokter, besok sudah berubah lagi :P), lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal (berupa respon lingkungan terhadap yang dilakukannya), sangat egosentris, kriteria baik buruk masih ditentukan oleh kesenangan material yang diterima (yang baik adalah enak, yang buruk adalah tidak enak), dan perilaku didominasi eksternal bukan hatinya. Di tahapan ini orang tua harus melakukan PENGARAHAN, PEMBIASAAN, dan KETELADANAN.

Anak 10 -15 tahun, perkembangan intelektualnya yang semakin rasional, perilakunya mulai mengakar pada kesadaran, mulai bisa membedakan yang baik dan buruk , luwes dalam berperilaku, penilaian baik buruk berpindah ke dampak perilaku, Perilaku masuk tahap kebiasaan dan berkembang menjadi karakter kepribadian, dan mulai berorientasi ke masa depan. Di tahapan ini orang tua MENANAMKAN NILAI LEWAT DIALOG yang bertujuan meyakinkan, PEMBIMBINGAN BUKAN INTRUKSI, dan PELIBATAN BUKAN PEMAKSAAN.

Anak 15 tahun ke atas, menguatkan nilai-nilai di atas, perilaku sudah mengakar kuat dan cenderung tetap. Konsep diri sudah kuat, sehingga merasa memiliki kebebasan dalam memilih dan menentukan. DI tahapan ini orangtua membantu dalam PERUMUSAN VISI dan MISI HIDUP PRIBADI, dan PENGUATAN TANGGUNG JAWAB SECARA SPIRITUAL.

Banyak ilmu parenting, dengan segala teori dan prakteknya, tapi satu yang pasti. Pakar Parenting itu adalah AYAH dan IBU. IMHO, That’s the point πŸ™‚

Semangat ya para Ayah Ibu! Semoga berguna πŸ˜€

2 thoughts on “Jadi Ayah Ada dong!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *