Parkir Inap di Terminal I Bandara Soekarno Hatta

Bulan Februari yang lalu, Gue berkesempatan buat nyobain parkir inap di terminal I bandara Soekarno Hatta. Hal yang lumayan bikin deg-degan karena harus ninggalin mobil di tempat parkiran umum selama 2 malam. Ini adalah pengalaman pertama, secara punya mobil juga belum lama haha 😛 Tadinya sih sempet mikir buat parkir di rumah aja terus naik taksi ke bandaranya. Tapi setelah berkonsultasi dengan mbah Google akhirnya gue putusin buat parkir inap aja. Mikir lama, karena di berita-berita yang ada di mesin pencari Google terdapat beberapa kasus kehilangan namun setel yakin aja karena yakin pasti udah ada pembenahan sistem keamanan tempat parkir.

Berangkat sendiri ke bandara dari rumah hari Jumat sebelum subuh. Sendiri, istri dan anak udah berangkat duluan ke Palembang. Gue parkir di Terminal I karena pesawatnya take off dari Terminal I (ya iyalah). Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB pagi buta waktu gue berangkat. Asumsi gue karena ini baru pertama kali mo parkir inap di bandara dan gue gak tau persis tempat dan kondisi tempat parkir maka gue putusin buat berangkat jauh lebih awal dari perkiraan waktu tempuh biasanya. Jaga-jaga klo ternyata muter-muter nyari parkiran gak ketemu karena belum tau, juga jaga-jaga klo ternyata tempat parkirnya penuh (terus musti balikin mobil ke rumah lalu naik taksi gitu? ya elah, maklum dah newbie kk) 😛

Sampai di bandara masih pukul 04.30 WIB. Ambil arah Terminal I sambil tengok kanan kiri nyari plang arah Parkir Inap. Ternyata mudah menemukannya karena petunjuk arah yang jelas di bandara. Tempat masuknya sebelah kanan abis halte tempat nurunin penumpang di terminal keberangkatan atau dari tempat drop off.

Lalu akan ketemu gate parkir otomatis, pencet tombol tiket dan ambil. Jangan sampai hilang ya 😛 Itu tempat parkir umumnya. Buat parkir inap ada lagi gate yang di tunggu oleh petugas (manual). Tempat parkir inap ini adalah tempat parkir yang ada atapnya dan dikelilingi pagar hitam kira-kira 1 meter. Untuk yang parkir umum kan gak ada. Tapi pas gue kemaren dah penuh aja yang di bawah atap. Dapet parkirnya di tempat terbuka.

Tiket parkirnya berupa lembaran kertas, pas baru masuk akan ditanya nama, no HP yang bisa dihubungi.

Setelah masuk ke dalam nanti ada yang ngarahin buat parkir di tempat yang kosong. Selesai markir mobil, pas turun mobil biasanya ada yang nanyain mobilnya mau dicuci atau gak juga nanyain kapan pulangnya karena mungkin nyucinya pas hari kita pulang. Tarifnya Rp 20ribu. Gue sih cuci aja, karena emang lagi kotor dan itung-itung biar ada yang lebih merhatiin mobil. Terus ada lagi tukang ojek yang nawarin buat anter ke Terminal. Deket sih, nolak juga gpp kok yang penting baik-baik. Kalo gue sih naik, kasih Rp 5000 juga kayaknya udah banyak banget kok, deket 😛

Tarif parkir inap kayaknya gak beda ama parkir umum per jamnya. Cuma bedanya klo parkir inap itu sampai dengan 6 jam pertama Rp 20ribu. Sedang parkir umum Rp 4ribu untuk 2 jam pertama.

Gue kemaren parkir untuk 3 hari 2 malam. Biaya parkirnya masih lebih hemat dibanding gue naik taksi PP dari bandara ke rumah, sekitar 160an ribu (gue lupa persisnya).

Ya klo lebih lama lagi ya mending naik taksi klo kira-kira lebih mahal biaya parkirnya heuu 😛

Semoga tulisan ini memberi manfaat. Selamat berparkir inap di bandara. Jangan lupa kunci tambahan 😀

Oiya, ada tips buat nyabut kabel negatif aki mobil kalau ditinggal lebih dari 2 hari, takutnya mobil susah di starter.

Living Alone

alone

Jangan takut preman,
preman juga makan nasi

Jangan takut Polisi,
kalau tidur kita gilas

Jangan takut Tentara,
tentara juga punya istri

Jangan Takut Mike Tyson,
tuanya nanti parkinson

Jangan takut mak lampir,
mak lampir itu Farida Fasya

Jangan takut tetangga,
rumah kita pake pagar

Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup sendiri

Jangan takut Ibu,
Ibu uangnya dari Ayah

Jangan takut tidak naik kelas,
tinggal kita sekolah

Jangan takut monster,
monster gagah luarnya doang

Jangan takut Neraka,
banyak ibadah masuk Surga

Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidupmu sendiri

 

Lagu Timur | The Panas Dalam

KA Ekonomi Serpong – Merak | Trip to Lampung

Tiket KA Ekonomi Serpong – Merak

Ketika saya sudah di atas kereta Banten Express tujuan stasiun Rangkas benar saja banyak para penumpang membicarakan tentang sadisnya KA Ekonomi Serpong – Merak yang berangkat dari Stasiun Kota.

“Banyak copetnya” celetuk pria di depan tempat duduk saya.

Mereka biasanya beroperasi bergerombol dan mengelilingi calon korbannya sehingga mereka susah bergerak ataupun minta tolong, begitu menurut cerita mereka. Alhamdulillah saya tidak menemuinya di sepanjang perjalanan ini karena memang ternyata selepas Stasiun Rangkas kereta ini sepi.

Beberapa stasiun selepas Stasiun Serpong

Suasana Stasiun Rangkasbitung

Perjalanan menggunakan KA Serpong – Merak ini sangat melankolis bagi saya yang sangat menyukai menikmati perjalanan dengan memandang ke luar jendela menikmati suasana persawahan dan kampung-kampung kecil. Sungguh tak dinyana bahwa di sekitar kota besar (Jakarta; Tangerang) masih ada suasana perkampungan, persawahan seperti di jalur KA ini. Seperti flashback ke jaman kemerdekaan. Stasiun-stasiun kecil bahkan KA ini juga berhenti di tengah persawahan yang tidak ada stasiunnya namun ada pemukiman penduduk di sana.

Beberapa stasiun selepas Stasiun Rangkasbitung

Menikmati perjalanan di pinggir pintu KA Ekonomi yang tidak tertutup.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lebih akhirnya sampai juga di Stasiun Merak. Stasiun yang saya sangka sudah tak berfungsi lagi karena memang suasananya yang sepi dan kalau berdasarkan jadwal yang ada cuma ada satu kali pemberangkatan dan kedatangan di stasiun ini.

Suasana di Stasiun Merak dan Terminal Penyeberangan di Pelabuhan Merak.

Hal yang berbeda setelah sekian lamanya saya tidak ngeteng adalah bahwa sekarang untuk pembelian tiket harus menyebutkan nama dan alamat. Tiket penumpang juga berupa e-ticket walaupun pada saat masuk ke pintu masuk masih manual dengan menyerahkan e-ticket tersebut kepada petugas yang berjaga di depan loket otomatis yang tidak berfungsi. Menurut cerita para penumpang sistem ini darurat diberlakukan karena minggu sebelumnya terjadi insiden mobil terbakar di atas kapal. Well, semoga lebih baik lagi nanti.

Suasana di atas kapal penyeberangan Pelabuhan Merak

Suasana di Pelabuhan Bakauheni

Setelah hampir 3 jam, sampailah di pelabuhan bakauheni. Perjalanan siang selalu menyenangkan karena dapat menikmati pemandangan selat sunda yang indah dari atas kapal penyeberangan. Namun karena antrian kapal yang akan merapat, kapal ini sempat terapung menunggu antrian cukup lama, satu hal yang paling membosankan.

Perjalanan ke terminal Rajabasa dilanjutkan dengan moda transportasi bus. Satu hal yang paling mengecewakan adalah moda transportasi satu ini masih buruk pelayanannya. Saya sampai kesal dan menyesal karena tidak memilih jasa travel saja. Bus lama ngetem, hampir satu jam menunggu penumpang, sangat membuang waktu. Saya memilih Bus AC karena pertimbangan kesejukan, tetapi apa yang terjadi saudara-saudara? AC-nya angin doank, gerah, mendingan ekonomi dah. Mungkin saya kurang beruntung atau memang begini cerminan bus Bakauheni – Rajabasa? Sebuah PR besar untuk penyedia jasa angkutan di sana.

Kemaleman di Terminal Rajabasa, Lampung

Akhirnya pukul 20.00 WIB saya tiba di Terminal Rajabasa lalu menumpang menginap ke tempat saudara karena untuk melanjutkan perjalanan ke Metro sudah kemalaman dan tidak ada bus lagi yang beroperasi. Kalau pun menunggu travel Rajabasa – Metro harus menunggu penumpang penuh agar sopirnya mau jalan. Sekedar info bahwa bis ke Metro paling malam sekitar pukul 7 malam.

Selamat Jalan-jalan 😀

Info harga tiket :

– Tiket KA Serpong – Merak Rp 4.000

– Tiket kapal penyeberangan Rp 12.500

– Bis Bakauheni – Rajabasa Rp 22.000

Akhtar 1st Birthday

Lama banget nunggu jam 3 ampe setengah 8. Huhu.. apalagi bayangin bunda yang lagi berjuang ma Akhtar. Syukur lah gak ada delay buat pesawat ayah. Sekitar pukul 21.30 WIB pesawat Ayah mendarat di Bandar Udara Palembang dan Akhtar lahir 😀

Pandangan pertama dan kesan serta sensasi waktu pertama kali Ayah lihat Akhtar rasanya takkan terlupakan seumur hidup Ayah. Waktu itu Akhtar terbaring di atas perut bunda lagi di-IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Akhtar lagi nyari-nyari susu bunda terus matanya itu lho.. belok banget, lucuuuu banget, berbinar-binar, cerah, bersih. Akhtar masih mungil banget waktu itu. Eeeh.. sekarang udah gede, udah 1 tahun, udah bisa maen-maen sama Ayah.

Happy birthday my Son. Be a strong boy!