Lampung – Palembang | Mudik #2

Setelah menghabiskan waktu 2 hari di Lampung, saya melanjutkan perjalanan ke Palembang. Rute yang saya ambil adalah jalan Lintas Timur karena lebih dekat dan jalur ini memiliki jalanan dengan aspal yang mulus, lebar, dan lancar karena jalur ini masih relatif sepi, namun di musim mudik jalur ini juga gak sepi-sepi amat kok 😛

Perjalanan saya mulai sehabis sholat subuh, dengan perkiraan sampai di Palembang pada waktu Ashar. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Palembang menyetir mobil sendiri dan hanya ditemani mp3 dari handphone yang saya colokkan ke tape mobil.

Tugu Perbatasan Lampung Timur
Tugu perbatasan Propinsi Lampung
Tugu Selamat Datang Propinsi Sumatera Selatan
Rumah Makan Pagi Sore, biasanya menjadi cek poin kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum dari/menuju Palembang
Kabupaten Ogan Ilir

Teknologi sangat membantu saya dalam solo driving ini. GPS telah menuntun saya dengan tepat ke arah yang saya tuju. Hanya sekali saja saya salah belok akibat salah baca arah GPS. Maklum, GPS yang digunakan memaksimalkan aplikasi di HP Android yang saya miliki, jadi gak secanggih GPS yang memang khusus untuk mobil 😛

Hal yang paling berkesan dalam perjalanan ini adalah saat saya mampir di sebuah masjid yang megah, bersih, rapi. Kesan yang saya dapatkan bahwa masjid ini sangat terurus. Masjid ini terletak di daerah Tanjung Sejaro Kecamatan Indralaya. Komplek masjid ini tertata rapi. Mulai dari parkiran saja sudah terlihat kerapiannya. Arsitekturnya yang megah, tamannya yang terawat dengan baik. Yang menarik ada pohon kurma di tamannya. Ternyata masjid ini dibangun oleh keluarga Bajumi, dimana H. Bajumi Wahab mem-wasiatkan untuk membangun masjid untuknya dan namanya pun digunakan sebagai nama masjid tersebut. Keluarga Bajumi adalah pengusaha sukses asli Palembang.

Masjib H. Bajumi Wahab

Pukul 16.00 saya sampai ditujuan dengan badan pegal-pegal setelah 10 jam menyetir dengan dua kali pemberhentian untuk bersitirahat dan tenggorokan yang gatal setelah berkaraoke sepanjang perjalanan.

Pengalaman yang menyenangkan 😀

Serpong – Lampung | Mudik #1

Lebaran Idul Fitri yang lalu saya berkesempatan untuk mudik ke Palembang menggunakan kendaraan pribadi. Solo driving tanpa penumpang dari Serpong ke Lampung ditempuh selama 10 jam. Mobil sempat mengalami patah baut penopang ban. Awalnya saya mendengar suara gludak gluduk di mobil bagian belakang di daerah Kalianda, namun setelah saya berhenti dan mengecek kondisi ban dan kaki-kaki saya tidak bisa menemukan hal yang aneh. Baru kemudian pas sampai di fly over dekat bandara Raden Intan II ban kiri belakang lepas setelah menghajar lubang. Saya berusaha untuk tidak panik lalu menelpon saudara yang tinggal di Bandar Lampung yang datang 15 menit kemudian, untung saja masih belum pada tidur.

Alhamdulillah, TKP berada pas di depan masjid. Ada sekumpulan bapak-bapak yang sedang berbincang-bincang di warung seberang masjid. Saya pun menghampiri mereka berniat meminta tolong, dan alhamdulillah mereka punya kenalan montir yang siap dipanggil. Lima belas menit kemudian montir datang dan mengganti baut penopang ban yang patah. Wah, ternyata dari 4 baut tinggal 1 yang tersisa itu pun sudah aus kemakan gesekan. Murnya hilang semua, 2 masih bisa ditemukan di sekitar lokasi. Perkiraan saya ini akibat pemasangan mur yang tidak kencang sehabis menambal ban. Syukurlah sang montir punya serep 4 baut yang bisa dipasang. Kata beliau itu pemberian dari saudaranya, dan saya pun berkata “Alhamdulillah pak, rejeki saya”.

Bapak itu pun berkata “Tenang saja dek, di sini lingkungan orang-orang masjid, jadi kalau ada yang sedang kena musibah gini dijamin aman”

Saya pun membalas dengan senyuman seraya bersyukur pada Allah bahwa saya mengalami kejadian ini pas waktu sedang perjalanan sendiri tanpa keluarga. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengganti baut yang patah. Mur yang hilang pun diambilkan dari ban bagian depan dan kanan yang dikurangi satu-satu. Saya pun pamit kepada para bapak yang baik hati itu. Lalu saking masih shocknya saya sampai lupa menanyakan nama-nama bapak-bapak baik hati itu. Terima kasih pak, semoga kita berjumpa lagi di kesempatan yang lain.

Malam itu saya bermalam dulu di rumah saudara, lalu paginya saya mencari onderdil di pasar Bandar Lampung untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Gantiwarno, yang setelah pemekaran berganti menjadi Desa Gantimulyo, pada siang harinya.