Serpong – Jakarta via JORR

Gerbang Tol Pondok Ranji
Gerbang Tol Pondok Ranji

Dua mingguan ini saya lebih memilih berangkat ke kantor melalui Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR). Awalnya sih cuma mo bandingin jarak tempuh dan waktu tempuh dari Serpong ke Jakarta lewat jalur ini. Tapi setelah beberapa kali, sepertinya jalur ini lebih nyaman di bandingkan melalui tol Janger via alam sutera buat saya. Pertama karena pintu masuk tol dari Rawabuntu jauh lebih dekat dibandingkan pintu masuk tol alam sutera. Kedua, rasanya kalo lewat jalur ini lebih Jakarta banget, faktor lewat jalan protokol ma gedung-gedung tinggi kali ya :D. Ketiga, masih bisa ngerasaain “ngebut” di jalan tol, bisa 100an. Mungkin itu biasa aja ya kalau jalur yang biasa dilewatin itu gak macet ampe “parkir” mah tapi bisa geber mesin itu menjadi mood booster di pagi hari. Pegangan ya bunda ๐Ÿ˜›

Namun dari segi biaya jelas lebih mahal Rp 2500 per hari. Bayar tol di gerbang tol Pondok Ranji Rp 7000, kalau di Gerbang Tol Karang Tengah kan cuma Rp 4500. Bisa juga sih gak perlu bayar tol, keluarnya sebelum gerbang tol Pondok Ranji cuma risiko kena macet lebih awal makin besar ๐Ÿ˜€

Hal yang paling menyenangkan lewat jalur ini, Kak Akhtar jadi bisa lihat air mancur Bundaran Hotel Indonesia, air mancur patung kuda depan gedung Indosat, Monas, dan hal-hal yang gak ada kalo lewat Tomang. Tadi aja karena nyoba langsung belok kanan di bundaran HI kakak nyari-nyari patung kuda. Udah hafal dia urutan hal yang ditemui ๐Ÿ˜€

Ya, kedua jalur punya masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Di-mix aja biar gak monoton ya bunda ๐Ÿ˜€

Serpong – Jakarta : KRL Ekonomi AC Ciujung/KRL Sudirman-Serpong Express

ย 

Suasana di dalam gerbong KRL saat mulai lengang.

Foto diambil pada saat perjalanan Tanah Abang – Serpong setelah melewati Stasiun Sudimara dimana banyak penumpang sudah turun jadi tidak terlihat rame berdesakan.

Holder untuk para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk

Suasana Stasiun Tanah Abang saat penumpang akan keluar dari stasiun.

Saya kira stasiun harus segera diperluas karena pada saat penumpang turun, jalur masuk dan jalur keluar yang sempit dan tidak dibedakan membuat para penumpang harus berdesak-desakan berebut jalan antara yang mau masuk dan keluar stasiun. Terutama tangga naik/turun ke peron.

Suasana di depan Stasiun Tanah Abang.

Bajai dan Ojek berbaris rapi sehingga terlihat teratur dan tidak semrawut. Namun angkot yang sering ngetem di tengah jalan, ojek yang melawan arus, truk-truk yang parkir di pinggir jalan membuat jalanan menyempit dan macet.

Suasana salah satu pintu masuk Stasiun Tanah Abang.

Lengang, namun saat penumpang turun tangga ini sangat penuh berdesakkan. Ditambah pengemis yang duduk di anak tangga yang mempersempit tangga. Namun, mulai minggu ini tangga mulai dibangun pemisah hanya saja belum jelas peruntukannya apakah sebagai pemisah jalur keluar masuk atau hanya untuk pegangan pemakai tangga.

Kereta merupakan sebuah moda transportasi yang sangat nyaman bagi saya. Tidak ada kemacetan, tidak harus capek-capek membawa kendaraan sendiri. Mungkin sampai saat ini moda transportasi kereta masih dianggap sebalah mata. Namun jika moda trasnportasi satu ini benar-benar di bangun dan dikembangkan saya yakin kemacetan di jakarta akan berkurang.Salah satunya dengan membangun fasilitas jalan ke/dari stasiun agar lebih layak jangan keretanya lancar namun akses jalan ke/dari stasiun seperti tak diperhatikan.

I hope so ๐Ÿ˜€

Tiket KRL Ekonomi AC Ciujung Rp 4.500

Dan saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada para penumpang KRL Serpong yang bersedia memberikan tempat duduknya untuk para ibu-ibu yang sedang hamil, menggendong anak terutama kepada istri dan anak saya ๐Ÿ˜€

Terima kasih juga sudah mengajak main Akhtar, menjadi om-tante yang akrab dan menjadi pendengar setia saat Akhtar ngoceh dan nangis di sepanjang perjalanan ๐Ÿ˜€

Salam kekeluargaan ^.^

update 23/03/2011 :
Tangga masuk arah selatan sudah dipisahkan antara jalur masuk dan keluar

*tulisan ini murni opini penulis sebagai salah satu pemakai moda transportasi KRL arah Serpong
**images taken with Huawei G6600

MRT Jakarta dan Kemacetan Jakarta

Eaaa.. kira-kira klo banjir gimana ya? Yang pasti membutuhkan teknologi yang tinggi untuk daerah banjir seperti kota Jakarta ini. Well.. sebagai warga kelas bawah saya hanya bisa melihatย  dan berkomentar saja. Bagaimana mekanisme dan segala risiko pasti sudah dipertimbangkan oleh yang berwenang dengan baik. Seharusnya.

Walaupun begitu saya sangat berharap bahwa proyek MRT ini ataupun suatu saat nanti proyek monorail Jakarta dilanjutkan kembali, hal ini akan sangat mengurangi kemacetan di Jakarta seperti sekarang ini yang sedang dalam kondisi parah.

Beberapa bulan yang lalu pun kondisi jalanan masih tak separah sekarang. Sekarang mah buset dah.. dari Gunung Sahari ke Johar Baru saja butuh waktu hampir 1 jam. Padahal tinggal lurus dan dalam kondisi lengang saja bisa di akses dalam 10 menit – gas pol tentunya.. hehe.. ๐Ÿ˜›

Indonesia itu unique. Menurut saya negara kita tidak bisa disamakan dengan Singapura atau negara lain yang sering disamakan oleh orang-orang yang menuntut pengurangan kemacetan. Indonesia adalah negara yang besar dengan rakyat yang banyak. Negara yang luas namun memiliki infrastruktur jalanan yang tak seluas tanahnya. Standar luas jalanan harusnya minimal 2x lipat 1 jalur jalanan yang ada sekarang. Dulu, waktu rakyat Indonesia belum pada mampu beli kendaraan bermotor otomatis jalanan akan lengang dan orang-orang berduit yang bisa beli kendaraan bermotor, baik mobil ataupun motor akan leluasa menggunakan jalanan. Namun keadaan sekarang sudah membaik. Banyak rakyat kecil yang sudah bisa membeli sepeda motor. Namun saat mereka sudah mampu beli dan rakyat kecil segebitu banyaknya hanya baru mampu beli motor maka jalanan pun penuh sesak dengan motor dan ujung-ujungnya dibatasi karena dianggap mengacaukan jalan. Padahal jalanan juga milik rakyat. Mereka berhak menikmati fasilitas negara yang tidak hanya diperuntukkan bagi para orang berduit yang bisa bawa mobil mewah. Suatu hari nanti saat rakyat Indonesia sudah mampu membeli mobil semua, saya yakin jalanan akan bersih dari motor dengan sendirinya karena beralih menggunakan mobil. Dan saat itu jalanan akan benar-benar mampet jika infrastruktur jalan masih seperti sekarang. Macet, semrawut, lampu lalu lintas mati, pengendara ugal-ugalan, sanksi pelanggaran lalu lintas yang tak tegas dan bisa damai, semua bisa ditemui di jalanan Jakarta.

Sebagai sesama pengguna jalananan, saya mencoba untuk tak selalu menyalahkan pengendara motor yang ugal-ugalan, naik trotoar, berhenti di depan garis penyeberangan pejalan kaki. Karakter seperti itu terbentuk akibat situasi dan kondisi jalanan, saya percaya bahwa bukan sepenuhnya salah mereka. Bagaimana mau tahu peraturan kalau pendidikan saat memperoleh SIM (Surat Ijin Mengemudi) saja tidak didapat karena bisa ‘nembak’. Bagaimana mereka mau mengerti peraturan kalau ijin mereka menaiki kendaraan mereka pun mereka peroleh secara instan tanpa dibekali hal-hal peraturan yang harus mereka mengerti. Mereka memang wajib mencari tahu tentang hukum peraturan dan semua orang dianggap tahu hukum oleh hukum tapi tak semua orang peduli dengan hal-hal seperti itu. Mereka hanya tahu yang penting mereka bisa mengendarai kendaran mereka tanpa harus ditilang sama pak Polisi. Untuk itulah mereka harus punya SIM.

Semuanya berawal dari pendidikan. Saya setuju, karena pemikiran orang yang berpendidikan akan lebih masuk akal dibanding mereka yang tak berpendidikan. Mindset mereka akan lebih menghargai peraturan. Majukan pendidikan bagi rakyat Indonesia dan semua hal akan membaik seiring pendidikan layak yang rakyat bisa peroleh.

Maju terus Indonesiaku…

*Tulisan yang tertuang dari pikiran setelah motor yang ku kendarai bersama istriku yang sedang hamil diserempet oleh pengendara yang ugal-ugalan di jalanan Jakarta yang semrawut. Thanks God, they’re OK..{jcomments on}

My House.. yeah.. Our House

ย 

“Ya, namanya juga angkot, pasti muter-muter dulu dikit kalo gak gitu dia gak dapet duit” kataku kepada istriku karena dia cerewet kok angkotnya muter-muter dulu.

“Lagian juga kita salah angkot kok, haha..” tambahku.

But, this is in weekend, kalo hari kerja itu adalah tantangan kita selanjutnya.. siap-siap istriku ๐Ÿ˜€

{jcomments on}

ย