Jakarta – Pangandaran (Desa Emplak, Kalipucang)

Ya.. ojeknya emang cepet, but as usually bis Transjakarta yang selama ini kukira dapat diandalkan untuk hal buru-buru seperti ini harus kutunggu selama setengah jam. Brrr.. Itu pun karena aku memaksakan diri buat masuk berdesakkan dengan penumpang lain yang terlihat makin kesal karena sudah terlalu penuh. Saking kelamaannya menunggu bis, sampai aku tak melihat lagi kalau bis itu koridor PGC – Senen. Zzzzzzzz… Akhirnya aku harus turun di halte UKI untuk pindah bis TransJakarta jurusan Kampung Rambutan. Lagi-lagi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mendapatkan bis. Dua jam lima belas menit berlalu, akhirnya sampai juga di Terminal Kampung Rambutan. Sudah pukul 20.40 dan untunglah Bis Perkasa Jaya jurusan Kampung Rambutan – Pangandaran yang merupakan bis terakhir malam itu, masih berada di ‘landasan’-nya untuk menungguku naik 😛 Tarif bis Perkasa Jaya ini hanya Rp 55.000 dengan AC alami 😛

Berangkat tepat pukul 20.50 aku dihantarkan sampai bundaran Emplak, Kecamatan Kalipucang, Ciamis pada pukul 04.30 WIB. Hari masih gelap di sana, orang yang janji mau menjemputku pun tak kunjung datang. Firasatku benar.. Dia masih tiduuur 😛 Beruntung jam segitu masih ada seorang tukang ojek nganggur lagi nonton televisi. Aku pun memutuskan untuk naik ojek dan membayar 15.000 saja untuk jarak yang tak terlalu jauh namun daripada harus berjalan kaki aku lebih memilih berterimakasih pada tukang ojek karena masih mangkal sampai pagi 😀

Akhirnya sampai juga di penginapan manten laki. Langsung bersiap-siap untuk acara akad pagi nanti.

Pukul 09.00 WIB rombongan berangkat, langsung disambut dengan oleh Ki Lengser, yang merupakan salah satu prosesi pernikahan adat sunda, mapag penganten (menjemput pengantin). Dialah yang mengarahkan jalannya upacara tersebut. Begitu rombongan kedua mempelai datang ke tempat resepsi, Ki Lengser-lah yang akan menyambut dan mengarahkan mereka ke kursi pelaminan dengan diiringi para penari dan pembawa umbul-umbul.

Lalu dilanjutkan penyerahan manten dan sambutan-sambutan sebelum akadnya dimulai. Saking khidmatnya mengikuti akad sampai lupa mengabadikan momen itu dengan kamera 😛

Setelah prosesi selesai, foto-foto sudah, rombongan pun meninggalkan lokasi untuk bertarung menuju kampung halaman di Lampung. Aku pun ikut menebeng sampai Jakarta. Beuuh.. ngebayangin rombongan ini 18 jam di bis ini, puyeeng 😛

Menyarter bis Adi Jaya, mobil yang biasa melayani trayek Metro – Rajabasa ini, rombongan berangkat pukul 3 sore dari Lampung dan sampai di lokasi pada hari berikutnya pukul 11. Lama karena rombongan pun sama-sama belum pernah berpengalaman berpergian ke daerah Ciamis ini. Aku menyusul malamnya karena harus absen sore dan sebenarnya gak tega ninggalin istri tapi wes kadung janji meh teko e 😀

Pulangnya tak lupa mampir ke Nagrek buat sekedar beli peuyeum dan ubi bakar cileumbu. Hmm.. Nyam.. Nyam.. Perut kenyang tidurpun nyenyak 😀

Sayang gak sempet liat pantai Pangandaran, padahal dah deket 😛 Maybe next time 😀 {jcomments on}

Our Little Vehicle (Pulsar 200)

 

Pertimbangan lain tentunya motor ini have a big size for boncenger-nya. Dengan body yang gede, tentu saja motor ini bakal nyaman untuk berduaan 😛 Dan pertimbangan itu sangat tepat, sampai saat ini pun motor ini masih terasa seperti saat pertama kali diturunkan dari dealer 😀 Sangat memuaskan. Tentu saja body yang yahud menjadi pertimbangan, sehingga tak perlu lagi untuk memodifikasi sana-sini. Satu-satunya hal yang ku lakukan hanya mengganti ban standarnya dengan BT-45. Namun, hari ini aku tak yakin nanti bisa beli lagi merk ini karena sekarang harganya dah ampun banget dah.. 😀 Alternatif mungkin pake ‘sendal jepit’ aja nanti.. haha 😛

Sudah lumayan banyak tempat yang ku kunjungi bersama motor ini. Bersama sekumpulan anak-anak kantor yang hobi naik motor, kami menamakan diri Bantenk Rider Community (BRC), telah beberapa kali melakukan touring ke beberapa tempat di Jawa Barat. Gak jauh-jauh sih, berbenturan juga dengan waktu kerja jadi trek yang kami ambil tak memakan lebih dari 3 hari perjalanan pulang pergi. Terhitung sekitar 5 kali touring yang kami lakukan. Namun sekarang-sekarang ini sedang vacuum karena kesibukan di kantor.

Road to Tangkuban Parahu

Road to Kuningan

Dan hal yang paling ku sukai adalah touring sehari-hari dengan istriku 😀

Tak melupakan kebutuhan rumah tangga, kami pun melengkapi Pulsar 200 kami dengan “kotak nasi” serba guna – Givi E45 yang sangat membantu dalam membawa perlengkapan berkendara dan terutama saat belanja 😀

Dan terakhir, hati-hati di jalan 😀

{jcomments on}