Keputusan Hari Ini Bagaimana Hidupmu Nanti

Tahun baru, resolusi baru. Begitu orang bilang. Resolusi untuk menjalani tahun baru dengan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Gue? Gue gak pernah mikirin hal begituan. Buat gue, bisa jadi juga rata-rata cowok lebih suka menjalani hidup yang mengalir. Berpikiran bahwa hidup adalah hari ini. Urusan besok adalah bagaimana besok. Sampai gue kenal istri gue.

Gue sampai pada sebuah pemikiran. Menemukan dua buah kata yang saat susunannya berbalik memiliki arti yang sangat berbeda. Kata itu adalah “gimana ntar” dan “ntar gimana”.

Gimana Ntar?

Ini gue banget (dulu). Saat gue gak pernah mikirin rencana keuangan bahkan untuk rencana 2 bulan ke depan. Uang hari ini adalah untuk kebutuhan hari ini. Intinya, gue gak mo repot. Mo hidup santai. Gak perlu ribet-ribet pusing ngitungin duit πŸ˜€

Ntar Gimana?

Dua kata yang berstruktur kalimat tanya ini sering kali terdengar dari mulut Istriku (dulu masih pacar πŸ˜› ). Pertanyaan ini akan muncul saat kami membicarakan tentang masalah-masalah kehidupan yang berkaitan dengan sektor keuangan.

“Gila ya! Cewek itu ribet minta ampun” keluh gue sebagai seorang cowok.

Mau begini mau begitu susah banget. Apa-apa harus sistematis. Selalu Matematis. Beda banget ama gue yang berpikiran uang yang ada hari ini ya untuk hari ini. Masalah besok adalah gimana besok.

Gue sampai kesel sama cewek gara-gara sifat yang satu ini. Tapi jangan salah. Hal ini adalah alasan terkuat gue memilih pasangan (I love You Istriku πŸ˜› ). Tanpa bermaksud membandingkan dengan wanita-wanita lain.

Gue berpikiran bahwa gue gak akan pernah maju, gue gak akan pernah punya apa-apa kalau gue masih memakai cara-cara membelanjakan uang yang sangat gak berkonsep begini. Sampai gue pada satu kesimpulan bahwa gue harus memilih pasangan yang benar-benar bertolak belakang dengan sifat gue dan hal yang paling cerdas gue lakuin saat itu adalah menyerahkan gaji gue kepada istri gue (waktu itu masih pacar tentunya) untuk dikelola dan dikeluarkan bila hanya ada posnya.

Waw.. cara satu ini sangat berhasil. Bukan gue yang hebat, tapi istri gue yang konsisten banget me-manage keuangan gue.

Namun ada beberapa efek yang perlu diperhatikan saat mengambil keputusan ini. Pertama : Anda akan dicap sebagai seorang ISTI (ungkapan yang sering dipakai suami-suami yang merasa dirinya hebat karena mereka tidak disetir oleh istri mereka untuk mem-bully suami-suami yang “kelihatannya” takut istri). Tidak tepat kalau mereka bilang takut istri. Hello? Ini jaman apa boy? Jaman sekarang suami istri bukan kayak jaman dulu. Dimana istri adalah pelayan suami. Istri harus selalu menuruti perintah suami. Jaman sekarang adalah jamannya suami istri adalah partner kerja. Bekerja sama di dalam sebuah ikatan rumah tangga untuk menjalankan tangga-tangga rumah, eh πŸ˜›

Kedua : Tiap hari bokek. Apalagi elo adalah seorang cowok dengan kawanan yang cowok banget. Elo hidup dengan uang hari ini yang udah diitung pas buat kebutuhan pokok hidup sehari. Sekali lo belanja diluar pos, lo akan membinasakan pos-pos lain yang berhubungan dengan kelangsungan hidup.

Suami mengurusi anak? Bapak rumah tangga? Kenapa gengsi? Justru gue musti nanya kepada orang-orang yang bangga karena walau mereka sudah menikah tapi mereka masih “seperti” bujang. Gue cuma bisa bilang “Luruskan niat. Ingat alasan lo dulu nikah mau apa”. Gue membela diri? Iya dong. Hidup adalah tentang pilihan dan hal yang paling bijaksana menurut gue adalah menghargai tiap putusan orang dalam menjalani hidupnya sendiri tanpa perlu menghakimi. Indahnya hidup πŸ˜€ (Dih, jadi ngelebar kemana-mana. Curcol Mas? πŸ˜› )

Satu hal yang pasti, Hidup terencana dengan pos-pos keuangan yang telah terplot dan tidak boleh diganggugugat satu sama lain memberikan efek yang sangat positif dalam urusan masa depan. Hari ini, gue semakin membuktikannya, SIM A πŸ˜€

My Camera is My Expression

All about passion

Passion. Kata-kata ini begitu populer di telingaku akhir-akhir ini. Passion yang menurut kamus mbah google adalah gairah, semangat memang sangat diperlukan dalam sebuah pekerjaan. Kalimat yang lebih populer lagi dipikiranku saat ini adalah sebuah judul buku “Your job is not Your Career”. Kalimat ini semakin menyemangatiku untuk terus menggeluti dunia fotografi. Ya, mungkin passion gue di sini. Mungkin. Satu hal yang pasti adalah bahwa mengerjakan sesuatu yang berawal dengan gairah selalu menghasilkan karya yang lebih daripada terpaksa mengerjakan sesuatu.

Sesi foto kali ini terinspirasi dari keruwetan pikiran akibat keruwetan sistem baru KRL CL yang bikin kesel. Suasana hati kala itu adalah antara marah dan sedih. Marah karena KRL sangat terlambat dan lamban. Sedih karena harus membiarkan Akhtar ikut dalam hingar bingar keributan angkutan masal ini. Mungkin gak terlalu nyambung, namun foto-foto ini mencoba mewakili perasaan kala itu dan membuat pikiran plong *curcol dan lebay, isn’t it?

My Camera is My Expression

don’t give me a gun

think

and this is the main idea

Sad or Angry? I think this is an anger

*This is only the expression of the heart, does not intend to corner any of the parties

c e CE r e RE w e t WET

“Apaan sih? Cerewet!”

Sebuah ekspresi yang biasa keluar dari mulut seseorang yang sudah keselnya sama seseorang yang biasanya banyak bicara, banyak ngatur, gak mau diem. Cerewet itu baik untuk kesehatan selama masih dalam takaran yang benar. Untuk seseorang yang pendiam, kepala batu sepertinya cocok dengan tipe-tipe seperti ini.

cerewetGue suka orang yang cerewet, karena cerewet adalah lawan kata dari sifat gue. Gue butuh seseorang yang cerewet untuk kekeraskepalaan gue. Wakakak..

Cerewet itu indah. Dunia sepi tanpa orang yang cerewet. Bayangkan sja berada dalam satu ruangan yang semuanya pendiam. Satu saja orangnya cerewet, dunia yang sempit pun terasa penuh sesak, rame gitu deh ampe dongkol pengen nonjok haha..

“Cerewet banget sih”

Cerewet buat gue berarti sebuah perhatian. Gue percaya seseorang itu cerewet kepada diri kita karena masih memiliki perhatian dan kasih sayang. Justru kalau tidak ada yang men-cereweti berarti kita mulai dijauhin orang atau bisa juga tuh orang sebenernya pada cerewet tapi dah bosen nyerewetin πŸ˜›

Cerewet, cerewet, cerewet. Dunia tidak maju tanpa orang-orang cerewet. Cerewet adalah sebuah timbal balik dari si pelaku cerewet terhadap perilaku kita. Entah itu cerewet, ntah itu sebuah sinisme tapi hal-hal itu menunjukkan bahwa mereka memiliki perhatian kepada kita.

So, the conclusion is “Cerewet itu Indah” πŸ˜€

I love my wife πŸ˜€

image source