Car Free Day Bandung

Car Free Day Bandung
Car Free Day Bandung
Car Free Day Bandung
Car Free Day Bandung

Awalnya sih mau ke Lavie nganterin Istri tercinta beli pakaian anak-anak. Cuma karena belum tau Bandung dan hanya tau jalan karena dipandu GPS di hanphone android tersayang terus dilewatin kesini ke jalan Dago jadinya ya sekalian dah jalan-jalan menikmati car free day di Bandung. Keren ya car free day di Bandung nih, isinya gak cuma orang-orang yang berolahraga tetapi banyak juga stages and stands diluar olahraga. Karena setau gue car free day ya orang sepedahan, maen futsal, atau olahraga lain gitu. Walaupun gue tau juga liat di tipi haha, karena bahkan di Jakarta pun gue belum pernah ikutan car free day, apalagi yang di Serpong πŸ˜€ :jitak

Car free day di jalan Dago ini ada panggung musik, stand promo kartu GSM, siaran radio, terus banyak yang jualan makanan πŸ˜€ Ada yang bawa anjing, maen skateboard, poto-poto. Pas turun mobil gue udah siap-siap buat salah kostum karena emang kami kan siap-siap buat belanja bukan buat olahraga, eh ternyata banyak juga kok yang kostumnya bukan kostum olahraga πŸ˜€ Oiya, kakak terkesima banget kayaknya ama kakak-kakak yang maen skateboard. Nanti ya kak klo udah diatas 3 tahun ayah beliin papan skateboard πŸ˜€

Oh iya, ini rahasia. Sebenernya Ayah udah tau kalo jalan ke Lavie bisa muter gak ngelewatin jalur car free day, tapi yah kapan lagi ikutan car free day di bandung? haha πŸ˜›

Pengalaman dengan MRT Singapura (Orchard – Novena)

Β 

Setelah merasa bisa, langsung saja mengantri di mesin tiket untuk membeli tiket. Langsung saja masukan uang koin sesuai tarif yang diminta mesin lalu pilih stasiun tujuan. kartu akan keluar dari mesin dan bisa dipakai untuk masuk ke dalam MRT.

bingung? πŸ˜›

Tiket MRT

Setelah dapat tiket, kami langsung antri di pintu masuk. Antriannya nyaman karena benar-benar diatur dan para penumpang pun mentaati garis-garis yang dibuat ntuk kenyamanan antrian, seperti garis lajur untuk masuk dan lajur khusus untuk keluar. Para penumpang pun tidak berebut masuk, mereka menunggu para penumpang yang akan keluar terlebih dahulu.

Pintu Orchard

Saya bertanya kepada sobat disebelah “Ini kapan berangkatnya?”. Ternyata MRT ini saking halusnya sampai-sampai MRT sudah berjalan pun tidak terasa. Begitu juga saat sudah sampai di stasiun tujuan. pengeremannya sangat halus, tidak terhentak-hentak. Waw.. sungguh nyaman πŸ˜€

Suasana di dalam MRT Singapura

Β 

Peta perjalanan MRT. Menampilkan informasi yang real time mengenai posisi stasiun yang sudah dan akan dilewati. Sangat informatif sehingga tak perlu khawatir terlewat.

Kami memutuskan untuk keluar di pintu novena, karena memang cuma ingin mencoba dan kembali lagi ke orchard. Namun karena ternyata waktu coba-coba beli tiket tadi 2 orang sobat saya salah klik tujuan maka saat turun di Novena mereka tidak bisa keluar. Mesin tidak mau membukakan pintu untuk tiket yang dibeli yang turun bukan di stasiun tujuan. Canggih πŸ˜› Walau sistemnya otomatis untungnya tetap ada petugas yang mantengin di pintu. Langusng saja dengan bahasa Inggris yang pas-pasan saya minta tolong untuk “membebaskan” 2 sobat saya. Kami pun di kenai $1 per orang agar bisa keluar πŸ˜›

Pintu Novena

Lalu kami membeli tiket lagi untuk kembali ke orchard Road. Petualangan seru pun berakhir. Perjalanan kembali ke hotel dilanjutkan dengan menumpang taksi πŸ˜€ πŸ˜›

Taksinya juga keren-keren, nyaman, bagus-bagus πŸ˜€

Eh, apaan nih? πŸ˜› haha.. ini mah hasil tangan iseng aja, gatel pengen motret πŸ˜€

Informasi MRT Singapura :

SMRT Website

Download MRT Network Map

For station exits to access landmarks and shopping malls near the Circle Line,
please click here

Jakarta – Ciwidey

Setelah mampir ke Kampung Stroberi untuk check in dan beristirahat sejenak, perjalanan di lanjutkan ke Situ Patengan. Ada juga yang menyebutnya Situ situ patenganPatenggang. Perjalanan sekitar 20 menit dari tempat kami menginap. Tempat yang menarik. Pemandangannya indah dan menyejukkan. Sayang, waktu tiba di sana hari hujan dan yang kami dapati hanya Situ yang terhalang kabut hujan πŸ˜›

Berikut cerita singkat tentang Situ Patengan :

Β 

Berasal dari bahasa Sunda Pateangan-angan (saling mencari). Mengisahkan cinta putra Prabu dan Putri Titisan Dewi yang besar bernama Alam. Kisantang dan Dewi Rengganis, mereka terpisah untuk sekian lama karena cinta mereka yang begitu dalam mereka saling mencari dan akhirnya dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta”.
Dewi Rengganis pun minta dibuatkan Dana dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/Pulau Sasaka).
Menurut cerita ini yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau Asmara senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka.

Tapi lain ya sama gosip yang beredar bahwa kalau bawa pacar pulangnya putus? πŸ˜› Oo.. mungkin karena bukan pasangan cinta abadinya kali ya πŸ˜€

Situ Patengan

Ya, saya adalah seorang Ayah yang Bahagia.

Situ Patengan{jcomments on}

images taken with Canon Digital Ixus 80

Jakarta – Pangandaran (Desa Emplak, Kalipucang)

Ya.. ojeknya emang cepet, but as usually bis Transjakarta yang selama ini kukira dapat diandalkan untuk hal buru-buru seperti ini harus kutunggu selama setengah jam. Brrr.. Itu pun karena aku memaksakan diri buat masuk berdesakkan dengan penumpang lain yang terlihat makin kesal karena sudah terlalu penuh. Saking kelamaannya menunggu bis, sampai aku tak melihat lagi kalau bis itu koridor PGC – Senen. Zzzzzzzz… Akhirnya aku harus turun di halte UKI untuk pindah bis TransJakarta jurusan Kampung Rambutan. Lagi-lagi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mendapatkan bis. Dua jam lima belas menit berlalu, akhirnya sampai juga di Terminal Kampung Rambutan. Sudah pukul 20.40 dan untunglah Bis Perkasa Jaya jurusan Kampung Rambutan – Pangandaran yang merupakan bis terakhir malam itu, masih berada di ‘landasan’-nya untuk menungguku naik πŸ˜› Tarif bis Perkasa Jaya ini hanya Rp 55.000 dengan AC alami πŸ˜›

Berangkat tepat pukul 20.50 aku dihantarkan sampai bundaran Emplak, Kecamatan Kalipucang, Ciamis pada pukul 04.30 WIB. Hari masih gelap di sana, orang yang janji mau menjemputku pun tak kunjung datang. Firasatku benar.. Dia masih tiduuur πŸ˜› Beruntung jam segitu masih ada seorang tukang ojek nganggur lagi nonton televisi. Aku pun memutuskan untuk naik ojek dan membayar 15.000 saja untuk jarak yang tak terlalu jauh namun daripada harus berjalan kaki aku lebih memilih berterimakasih pada tukang ojek karena masih mangkal sampai pagi πŸ˜€

Akhirnya sampai juga di penginapan manten laki. Langsung bersiap-siap untuk acara akad pagi nanti.

Pukul 09.00 WIB rombongan berangkat, langsung disambut dengan oleh Ki Lengser, yang merupakan salah satu prosesi pernikahan adat sunda, mapag penganten (menjemput pengantin). Dialah yang mengarahkan jalannya upacara tersebut. Begitu rombongan kedua mempelai datang ke tempat resepsi, Ki Lengser-lah yang akan menyambut dan mengarahkan mereka ke kursi pelaminan dengan diiringi para penari dan pembawa umbul-umbul.

Lalu dilanjutkan penyerahan manten dan sambutan-sambutan sebelum akadnya dimulai. Saking khidmatnya mengikuti akad sampai lupa mengabadikan momen itu dengan kamera πŸ˜›

Setelah prosesi selesai, foto-foto sudah, rombongan pun meninggalkan lokasi untuk bertarung menuju kampung halaman di Lampung. Aku pun ikut menebeng sampai Jakarta. Beuuh.. ngebayangin rombongan ini 18 jam di bis ini, puyeeng πŸ˜›

Menyarter bis Adi Jaya, mobil yang biasa melayani trayek Metro – Rajabasa ini, rombongan berangkat pukul 3 sore dari Lampung dan sampai di lokasi pada hari berikutnya pukul 11. Lama karena rombongan pun sama-sama belum pernah berpengalaman berpergian ke daerah Ciamis ini. Aku menyusul malamnya karena harus absen sore dan sebenarnya gak tega ninggalin istri tapi wes kadung janji meh teko e πŸ˜€

Pulangnya tak lupa mampir ke Nagrek buat sekedar beli peuyeum dan ubi bakar cileumbu. Hmm.. Nyam.. Nyam.. Perut kenyang tidurpun nyenyak πŸ˜€

Sayang gak sempet liat pantai Pangandaran, padahal dah deket πŸ˜› Maybe next time πŸ˜€ {jcomments on}

Our Little Vehicle (Pulsar 200)

Β 

Pertimbangan lain tentunya motor ini have a big size for boncenger-nya. Dengan body yang gede, tentu saja motor ini bakal nyaman untuk berduaan πŸ˜› Dan pertimbangan itu sangat tepat, sampai saat ini pun motor ini masih terasa seperti saat pertama kali diturunkan dari dealer πŸ˜€ Sangat memuaskan. Tentu saja body yang yahud menjadi pertimbangan, sehingga tak perlu lagi untuk memodifikasi sana-sini. Satu-satunya hal yang ku lakukan hanya mengganti ban standarnya dengan BT-45. Namun, hari ini aku tak yakin nanti bisa beli lagi merk ini karena sekarang harganya dah ampun banget dah.. πŸ˜€ Alternatif mungkin pake ‘sendal jepit’ aja nanti.. haha πŸ˜›

Sudah lumayan banyak tempat yang ku kunjungi bersama motor ini. Bersama sekumpulan anak-anak kantor yang hobi naik motor, kami menamakan diri Bantenk Rider Community (BRC), telah beberapa kali melakukan touring ke beberapa tempat di Jawa Barat. Gak jauh-jauh sih, berbenturan juga dengan waktu kerja jadi trek yang kami ambil tak memakan lebih dari 3 hari perjalanan pulang pergi. Terhitung sekitar 5 kali touring yang kami lakukan. Namun sekarang-sekarang ini sedang vacuum karena kesibukan di kantor.

Road to Tangkuban Parahu

Road to Kuningan

Dan hal yang paling ku sukai adalah touring sehari-hari dengan istriku πŸ˜€

Tak melupakan kebutuhan rumah tangga, kami pun melengkapi Pulsar 200 kami dengan “kotak nasi” serba guna – Givi E45 yang sangat membantu dalam membawa perlengkapan berkendara dan terutama saat belanja πŸ˜€

Dan terakhir, hati-hati di jalan πŸ˜€

{jcomments on}

1st Day in Singapore – Singapore (2)

Β 

Foto dengan gaya lompatan sepertinya wajib ya? πŸ˜› Soalnya kalo gaya yang lain dah basi sih πŸ˜€ πŸ˜€

Next destination, Clarke Quay..

Pemberhentian terakhir hari ini sebelum acara bebas masing-masing adalah Orchad Road. Makan malam kali ini di Seoul Garden. Di sini sebelum makan harus selalu memastikan bahwa tempat kita makan berlabel halal. Dengan begitu sebagai muslim kita tidak was-was untuk menyantap semua masakan karena bebas dari makanan yang diharamkan πŸ˜€

The last session is foto-fotooo.. yay πŸ˜›

Sayang sekali, baru jepret beberapa kali kamera poket, Canon Ixus 80, ku yang telah dibawa muter-muter seharian mengalami low batt and the photo session is over πŸ™ πŸ˜›

{jcomments on}

My First Trip to Singapore (1)

Β 

And all of us went to sleep, prepare for tomorrow morning πŸ˜€ Tapi ternyata perut keroncongan and gak ada jatah makan malam πŸ˜€ πŸ˜€ But, untung saja mini market 24 jam mudah dijumpai dan aku pun memilih mie , makanan yang aman untuk disantap di malam hari. Setelah kenyang tidur pun nyenyak. Singapore, aku akan mengacak-acakmu besok pagi. πŸ˜› {jcomments on}