Ayah Kemana?

Kantukku telah tiba

Ayah dan bunda ada dimana

Aku ingin kita bertatap muka

Kenapa setiap hari begini saja

 

Kantukku telah tiba

Aku kembali bertanya

Kenapa aku dibiarkan tidur sendiri saja

Padahal aku ingin berbagi cerita

 

Kantukku telah tiba

Tempat tidur yang sepi tanpa cinta

Selimut yang dingin tanpa kata-kata

Bantal dan guling tak bisa bicara

Ayah bunda entah kemana

 

cover buku ayah ada ayah tiada
Ayah Ada Ayah Tiada (Suara Hati Anak Tentang Peran Ayah), Irwan Rinaldi

Puisi di atas adalah salah satu puisi yang terdapat di buku “Ayah Ada Ayah Tiada” halaman 10, yang disunting oleh Irwan Rinaldi. Tulisan-tulisan yang berasal dari ungkapan hati anak-anak. Jeritan hati mulai dari pagi sampai pagi lagi.

Puisi ini berpesan bahwa sebaiknya orang tua terutama para ayah untuk selalu berusaha hadir menjaga dua waktu penting dalam hidup anak-anaknya. Waktu bangun pagi dan waktu mau tidur. Peran ayah di waktu akan tidur adalah memeriksa tingkah laku yang dilakukan anak-anaknya seharian, karena biasanya anak-anak akan melaporkan dua jenis saja, yaitu tingkah laku yang paling buruk dan tingkah laku paling baik. Kalau buruk maka ayah membenarkannya. Kalaubaik maka kuatkanlah hingga tertanam pada pikiran anak-anak.

Pertama kali mendengar puisi ini dibacakan oleh Mona Ratuliu dalam pembukaan sebuah seminar parenting, hati saya terenyuh dan meneteskan air mata. Saya seperti ditampar oleh kata-kata dalam puisi ini. Menegaskan kembali bahwa ada 2 orang anak kecil yang sangat membutuhkan saya, bahwa sebisa mungkin saya harus hadir dalam tiap detik tumbuh kembang mereka. Terima kasih untuk kumpulan puisi yang sarat pesan ini.

Untuk para ayah : “Ayo kembali ke rumah. Ayo kita bermain bersama anak-anak kita. Ayo kita temani mereka. Ayo kita jadi sahabat mereka“.