Bebe, when are you going out?

Beuh.. tapi gila ya. Berpergian dengan pesawat yang dulu ku anggap sebagai hal yang sangat mewah kini kulakoni hampir setiap minggu. Huff.. kayak orang kaya aja ya.. haha.. Semua demi menjadi suami siaga. Walau aku tak bisa sepenuhnya menjadi suami yang siaga, malah yang ada ‘kakek siaga’ karena di sini ayah mertuaku yang senantiasa siap sedia bila sewaktu-waktu istriku mules πŸ˜›

Sudah minggu ke-38 dan bebe belum pengen lahir πŸ˜› Kalau menurut HPL dokter sih masih 30 agustus namun bisa maju hingga 2 minggu. Aku hanya berdoa semoga aku bisa hadir menemani saat istriku melahirkan nanti. Kalaupun tidak semoga Istriku dapat melahirkan anakku dengan sehat dan selamat.

Bebe.. Jadi kapan mo keluar?Ayah menunggumu πŸ˜› πŸ˜€

images taken with Huawei G6600 Passport {jcomments on}

Upacara 17an

Β 

Drum band Bea dan Cukai selalu mengiringi setiap upacara di Lapangan ini

Pulangnya iseng lewat jembatan penyeberangan yang nampaknya mubadzir karena jarang di lewatin oleh para pemakai jalan ini sembari melihat pemandangan yang ada πŸ˜›
dan ternyata gedung ini ora gud banget yak πŸ˜›

Tuh kaan.. enakan juga lewat jembatan penyeberangan nyebrangnya πŸ˜›

Yah.. terlepas dari semua ironi yang ada, cuma bisa berucap Dirgahayu Indonesiaku!!!! πŸ˜€

{jcomments on}

Jakarta – Pangandaran (Desa Emplak, Kalipucang)

Ya.. ojeknya emang cepet, but as usually bis Transjakarta yang selama ini kukira dapat diandalkan untuk hal buru-buru seperti ini harus kutunggu selama setengah jam. Brrr.. Itu pun karena aku memaksakan diri buat masuk berdesakkan dengan penumpang lain yang terlihat makin kesal karena sudah terlalu penuh. Saking kelamaannya menunggu bis, sampai aku tak melihat lagi kalau bis itu koridor PGC – Senen. Zzzzzzzz… Akhirnya aku harus turun di halte UKI untuk pindah bis TransJakarta jurusan Kampung Rambutan. Lagi-lagi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mendapatkan bis. Dua jam lima belas menit berlalu, akhirnya sampai juga di Terminal Kampung Rambutan. Sudah pukul 20.40 dan untunglah Bis Perkasa Jaya jurusan Kampung Rambutan – Pangandaran yang merupakan bis terakhir malam itu, masih berada di ‘landasan’-nya untuk menungguku naik πŸ˜› Tarif bis Perkasa Jaya ini hanya Rp 55.000 dengan AC alami πŸ˜›

Berangkat tepat pukul 20.50 aku dihantarkan sampai bundaran Emplak, Kecamatan Kalipucang, Ciamis pada pukul 04.30 WIB. Hari masih gelap di sana, orang yang janji mau menjemputku pun tak kunjung datang. Firasatku benar.. Dia masih tiduuur πŸ˜› Beruntung jam segitu masih ada seorang tukang ojek nganggur lagi nonton televisi. Aku pun memutuskan untuk naik ojek dan membayar 15.000 saja untuk jarak yang tak terlalu jauh namun daripada harus berjalan kaki aku lebih memilih berterimakasih pada tukang ojek karena masih mangkal sampai pagi πŸ˜€

Akhirnya sampai juga di penginapan manten laki. Langsung bersiap-siap untuk acara akad pagi nanti.

Pukul 09.00 WIB rombongan berangkat, langsung disambut dengan oleh Ki Lengser, yang merupakan salah satu prosesi pernikahan adat sunda, mapag penganten (menjemput pengantin). Dialah yang mengarahkan jalannya upacara tersebut. Begitu rombongan kedua mempelai datang ke tempat resepsi, Ki Lengser-lah yang akan menyambut dan mengarahkan mereka ke kursi pelaminan dengan diiringi para penari dan pembawa umbul-umbul.

Lalu dilanjutkan penyerahan manten dan sambutan-sambutan sebelum akadnya dimulai. Saking khidmatnya mengikuti akad sampai lupa mengabadikan momen itu dengan kamera πŸ˜›

Setelah prosesi selesai, foto-foto sudah, rombongan pun meninggalkan lokasi untuk bertarung menuju kampung halaman di Lampung. Aku pun ikut menebeng sampai Jakarta. Beuuh.. ngebayangin rombongan ini 18 jam di bis ini, puyeeng πŸ˜›

Menyarter bis Adi Jaya, mobil yang biasa melayani trayek Metro – Rajabasa ini, rombongan berangkat pukul 3 sore dari Lampung dan sampai di lokasi pada hari berikutnya pukul 11. Lama karena rombongan pun sama-sama belum pernah berpengalaman berpergian ke daerah Ciamis ini. Aku menyusul malamnya karena harus absen sore dan sebenarnya gak tega ninggalin istri tapi wes kadung janji meh teko e πŸ˜€

Pulangnya tak lupa mampir ke Nagrek buat sekedar beli peuyeum dan ubi bakar cileumbu. Hmm.. Nyam.. Nyam.. Perut kenyang tidurpun nyenyak πŸ˜€

Sayang gak sempet liat pantai Pangandaran, padahal dah deket πŸ˜› Maybe next time πŸ˜€ {jcomments on}

Pameran Foto BKF

Β 

Di kesempatan acara ini mendapatkan tugas yang lama tak ku lakukan. Dapat jatah seksi hiburan, akhirnya dapet kesempatan buat cari temen nge-band lagi setelah lama gak mbetot gitar.

Terus berkat kesetiaan para fans kami yang tergabung dalam “Pasukan Bodrek” maka kami pun mendapatkan “uang saweran” sebesar Rp 124.000 yang alhamdulillah telah kami sumbangkan kepada cacing-cacing di perut kami saat makan siang di rumah makan padang wahidin πŸ˜›

Terima kasih untuk para donatur πŸ˜›

{jcomments on}