Ada Cinta yang Besar

di sebungkus Beng Beng…

JpegSiapa yang pas kecil bingung milih Top atau Beng-beng? Hihi…

Makanan enak yang udah lama banget aku kenal ini, jadi berbeda di pandangan sejak satu minggu lalu..

Jadi ceritanya begini..

Anak-anak dapet goody bag ulang tahunan temennya di deket rumah. Peraturan bunda, boleh dimakan satu hari satu. Di suatu pagi, abis nyuapin anak-anak sarapan, aku mual karena abis begadang.

“Dek, bunda boleh gak minta potong cokelatnya sedikit? Bunda mual inii”. Dan aku dapet sepotek beng-beng. Makasih anak cantik πŸ˜€

BeberapaΒ Β  hari kemudian, pas anak-anak dapet goody bag dari ulang tahunan temennya di sekolah. Akhtar ubek-ubek tasnya, lalu..

“Bunda, nih cokelatnya buat bunda” sambil nyodorin beng-beng

“Looh, kenapa buat bunda? KakakΒ  kan suka”

“Gak papa buat bunda aja. Bunda kan suka”

Huwaaaaaa……..mau nangis akuuu! Anakku manis sekaliiiii :’)

Lalu ada suara kecil

“Bunda, coklatnya buat bunda juga. Bunda kan cuka”

Huwaaaaaa…adeknya gak kalah maniiis :’)

I do feel loved πŸ™‚

Anak-anak kecil yang mau berkorban ngasih makanan yang mereka juga suka karena mereka pikir Bundanya suka pas minta sepotek cokelat itu. Semoga kebaikan dan ketulusan kalian gak berubah sampai selamanya ya nak. Semoga selalu sayang ayah sama bunda yaa πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 18 : Belajar Bahasa Peradaban

Akademi Keluarga Sesi 18 : Belajar Bahasa Peradaban

Oleh : Ustad Herfi Ghulam Faizi

Bahasa adalah bagian dari peradaban. Kita mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Kita juga seharusnya jangan melupakan bahasa daerah supaya tetap terpelihara. Kita juga mempelajari bahasa asing, namun bahasa Arab seringkali tidak dijadikan pilihan karena banyak hal dan alasan. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai dalam Alquran al-Karim (QS. Yusuf : 2, QS. Az-Zumar : 28, QS. Asy-Syu’ara’ : 195).

Β β€œDengan bahasa Arab yang menjelaskan”, bisa diterjemahkan semua bahasa lain memiliki keterbatasan dalam kemampuannya menjelaskan. Bahasa Arab adalah bahasa yang mampu menjelaskan. Bahasa Arab menjadi kunci untuk memahami Alquran dan Assunah.

Β Sahabat mulia, Umar bin Khattab, mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab sesungguhnya adalah sebagai bagian dari agama Islam. Bahasa Arab sangat luas, konteks kalimat sangat banyak, makan yang terkandung bisa menjadi sangat banyak. Jika kita hanya percaya pada suatu terjemahan, kemungkinan kita akan kehilangan makna yang sebenarnya menjadi sangat besar. Jadi akan jauh lebih baik, jika kita mengerti setiap hurufnya. Pemahaman tentang Alquran akan semakin baik. Pemahaman akan pedoman menjadi baik akan membuat kita menjalankan agama dengan lebih baik pula.

Selain itu, perbedaan bahasa umat manusia adalah merupakan tanda kebesaran Allah. Bahasa pemersatu yang menyatukan seluruh umat di berbagai belahan dunia itu menjadi sangat penting. Dan sebagai bahasa pemersatu umat, bahasa tersebut adalah bahasa Arab.

Β Bahasa Arab adalah bahasa yang santun. Bahasa Arab yang digunakan dalam Alquran adalah bahasa Arab yang paling tinggi. Bahasa Arab dalam Alquran adalah sebaik-baiknya bahasa.

Β Bahasa Arab terlihat susah karena kita tidak terbiasa menggunakannya sehari-hari. Namun Allah adalah yang Maha Adil. Allah tidak menurunkan Alquran hanya untuk orang Arab saja. Bahasa Arab harus kita yakini pasti diturunkan oleh Allah supaya kita semua bisa mempelajarinya dan menjadi mengerti tentang pedoman agama kita ini.

“Sebaik-baik manusia di kalangan kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya” (Al-Bukhari)

Masih belum terlambat untuk memulai. Semoga Allah mudahkan.

Sejujurnya, materi ini adalah materi yang aku tulis dengan blank. Jadinya paling pendek πŸ™ Iya, waktu diajarin, pas anak-anak tiba-tiba masuk ke kelas dan ikut duduk, yang bikin aku jadi gak konsen πŸ˜› Tapi jauh di lubuk hati, tau banget walo seluruh hati menyetujui kalau memang harus belajar bahasa Arab, sisi hati yang kecil, yang bilang kalau belajar bahsa Arab itu susah lebih mendominasi πŸ™ Jadi ya gitu, belum jalan juga. Sedih, padahal bahasa Arab adalah bahasanya umat Muslim πŸ™

Di pertemuan bulan Februari, ustadzah bilang kami gak perlu bikin tugas lagi. Hahaha, senang sekaliiii! Tapi kok ya pas materinya bagus, jadi malah sayang kalo gak dibagi di sini. Semoga Allah kasih waktu dan jalan ya supaya aku bisa tetep nulis materi sekolah sampai programnya selesai bulan April nanti πŸ™‚

Ah, sekolah udah mau selesai. Tapi kok tetep merasa jauuuh sekali dari keluarga yang sesuai ajaran Allah dan Rasul? πŸ™

Akademi Keluarga Sesi 17 : Mengenalkan Tauhid dan Surga

Materi 17 Januari 2015.

Akademi Keluarga Sesi 17 : Mengenalkan Tauhid dan Surga

Oleh : Ustad Budi Ashari

Β Seorang tokoh filosofi besar, penulis dan komposer pada abad pencerahan mengenalkan konsep bahwa anak di bawah 18 tahun tidak boleh diperkenalkan konsep ketuhanan karena ketuhanan adalah hal yang abstrak. Hal itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. DI dalam Islam, abstrak berbeda dengan ghoib. Percaya pada hal yang ghoib termasuk tauhid harus diajarkan sejak dini. Ilmu Tauhid adalah yang pertama dan utama. Tanpa tauhid, perababan yang ada adalah peradaban yang rusak, yang lebih parah, peradaban yang tidak sadar kalau mereka adalah bagian dari peradaban yang rusak. Apabila seorang muslim kehilangan tauhid, maka itu berarti dia telah kehilangan segala-galanya. Naudzubillahiminzalik.

Urutan menanamkan tauhid adalah Al Hifdt, yaitu menghapal. Lalu Al Fahm, yaitu memahami. Dan terakhir Al I’tiqod, Al Iqon, At Tashdiq, yaitu meyakini atau membenarkan. Misalnya, saat mengajarkan anak untuk sholat. Contohkan dulu, lakukan saja. Jika anak sudah mengikuti, beri tahu bacaan sholat. Tentang rukun atau sunnahnya, biarkan diajarkan di belakang. Lalu jika sudah dilakukan, ajarkan tentang makna sholat, salah satunya ibadah adalah bentuk syukur karena telah diberi banyak sekali nikmat oleh Allah Swt. Hasil akhirnya, diharapkan ibadah bukan dilakukan seperti robot, tetapi dilakukan dengan kesadaran karena sudah merasakan nikmatnya.

Al ghazali menjelaskan bahwa memulai mengenalkan tauhid harus dengan talqin, yaitu diperdengarkan dengan maksud supaya anak meniru. Anak yang diperdengarkan nyanyian, akan menyanyi. Anak yang diperdengarkan sumpah serapah akan menyumpah serapah. Anak yang diajarkan kalimat Allah akan mengeluarkan lisan berupa kalimat Allah pula. Mulailah persering mengucapkan bahwa Allah lah pencipta. Allah lah yang menjaga, dst.

Agar anak β€˜berinteraksi’ baik dengan Allah, hal yang bisa kita lakukan adalah pertama, Hidupkan fitrah manusia. Contoh, Tidak perlu dalil hanya untuk memotong kuku yang mulai memanjang. Secara fitrah, kuku yang panjang akan mempersulit aktivitas. Ajarkan anak untuk peka terhadap fitrah manusianya. Lalu mulai pula kenalkan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Lebih baik jika yang dikenalkan adalah kenikmatan yang ada dalilnya di Alquran. Contoh, tentang nikmat anggota tubuh yang ada dalam QS. Fathir : 3 dan QS. Adz Dzariyat : 21. Ajarkan untuk berterima kasih selalu pada Allah atas semua nikmat. Urusan dunia lihatlah ke bawah supaya tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan. Semoga anak kita menjadi anak-anak yang lisannya selalu memuji Allah Swt.

Ketiga, muroqobatullah, yaitu, mengajarkan bahwa orang selalu dilihat Allah. Allah selalu bersama kita. Allah selalu mengawasi kita. Berlakulah tulus dan tidak munafik. Keempat, latihlah ibadah wajib, sambil berjalan, sambil selipkan nilai. Terakhir, perbanyak kisah tauhid (bukan dongeng) dan keutamaannya. Misalnya, kisah Nabi Ismail yang diperintahkan disembelih oleh Allah untuk mengajarkan anak kekuatan percaya pada perintah Allah.

Anak-anak yang memiliki tauhid akan tidak mudah lelah, bosan, putus asa, penat, dan sakit. Anak-anak yang bertauhid akan bisa menghibur diri di tengah rasa-rasa tersebut karena harapan mereka diletakkan hanya di sisi Allah. Harapan memberi semangat yang besar untuk berjuang. Selain itu, manusia tidak ada yang sempurna, anak-anak yang memiliki tauhid, akan mudah kembali ke jalan yang benar saat berbuat salah. Contohnya, adalah Nabi Adam dan Setan. Setan memilih menyalahkan Allah. Nabi Adam mengaku salah dan menerima hukuman dari Allah untuk tidak menjadi penghuni surga lagi.

Anak-anak yang memiliki tauhid akan mudah meminta maaf saat salah, di kemudian hari akan memudahkan melepas mereka saat mereka pergi jauh dari kita, orangtuanya. Anak yang kokoh tersebut insya Allah akan menjadi orangtua yang kokoh pula nanti yang akan membangun keluarga yang kokoh yang semoga satu peradaban gemilang umat Muslim akan terwujud kembali. Amin ya rabbal alamin.

Menurutku, ini adalah materi yang sangat penting. Waktu ada materi ini, aku jadi melihat hal-hal yang selama ini aku anggap kecil jadi berasa sangat besar. Beruntung sekali kami ini, punya anak yang saat hujan turun, refleks bilang “Alhamdulillah hujan”. Anak-anak yang bersyukur akan datangnya hujan sebagai berkah, bukan yang ‘mengutuk’ hujan.

Insya Allah, walau dimulai dengan telat, saat ini kami sudah on the track tentang menanamkan tauhid ini kepada anak-anak πŸ™‚ Saat jatuh, Allah yang sembuhkan. Saat dibeliin mainan, Allah yang kasih rejeki. Saat lihat gunung, Allah yang ciptakan. Alhamdulillah, anak-anak sudah fasih sekali menyebutkan keimanannya kepada Allah.

Alhamdulillah, semoga Allah selalu menjaga keimanan kami sampai akhir waktu nanti. Amiiin πŸ˜€

Surat untuk Akhtar #4

Akhtar sayang, surat ke 5 yang harusnya ada di ulang tahun ke 4, telat hampir 1/2 tahun. Huhu, maaf ya naaak πŸ˜› Memang di beberapa waktu belakangan ini, bunda cukup jungkir balik rasanya untuk menyelesaikan semua. Kerjaan kantor, tugas ‘sekolah’ bunda, project beberapa album buat keluarga kita, buat kamu, buat adek, buat kakek nenek, jualanan sampe ke banyak banget kepengenan bunda itu loh. Sampe-sampe blog keluarga kita jadi sering dianggurin. Sampe-sampe bikin surat buat kamu aja telatnya separah ini. Maaf yaaa, kak :*

Akhtar sayang, 3 ke 4 tahun. Bunda ingat muka bahagia kamu waktu sepeda hijau kamu bisa maju waktu kamu kayuh hanya setengah sadel karena kakimu belum sampai memutar satu putaran penuh. Haha, iya, dulu memang sepeda yang dibeli itu lebih besar dari ukuran seusia kamu. Supaya tahan lama πŸ˜› Tiap minggu bertambah baret di kakimu, lenganmu, lututumu. Tapi kamu tetap berusaha. Sampai akhirnya kamu bisa ngebut! Teruslah seperti itu ya nak, tumbuhlah menjadi anak yang tidak pernah merasa lelah mencoba, selalu berusaha, dan tidak menyerah πŸ™‚

Akhtar sayang, banyak sekali kepintaran yang diberikan Allah kepada kamu. Mulai dari toilet training yang lulus (yaah, sesekali masih sih kamu ngompol sekarang ini! :P), kosakata yang terus bertambah, penalaran pikiran yang makin berkembang, kemampuan motorik yang sangat baik (udah bisa lepas pasang kancing sendiri dan heiii, playground perumahan itu mah udah semuanya bisa ya kak? :D), nyusun puzzle sampe 100pcs lebih, bisa nyebut huruf R sampai ke hapalan surat dan doa. Di tahun ini juga kamu mendapat pengalaman baru lagi, melihat kebesaran Allah di Seaworld sama teman-teman. Berterimakasihlah selalu atas semua kepintaran dan kemampuan yang bertambah itu hanya kepada Allah ya nak. Allah yang Maha Pemberi πŸ™‚

Akhtar sayang, di balik semua kepintaran itu, bunda masih aja mengkhawatirkan badan kamu yang masih saja mungil. Kamu makan banyak, jarang sekali susah makan. Kamu juga tidak memilih (kecuali ayam sama daging kalau dimasak tidak empuk atau dipotong terlalu besar. Masih susah ya kak?). Bu guru bilang, di sekolah kamu akan makan sayurnya duluan, apapun itu, sampai habis, baru disusul lauk, terakhir baru nasi πŸ˜› Ya Allah, bantu kami lebih untuk hal ini boleh yaa? πŸ™‚

Akhtar sayang, di balik kejahilan kamu, kamu tumbuh menjadi anak yang peduli dan penuh kasih sayang. Tali tas temenmu belibet, kamu bantu benerin. Tantemu pake sepatu diinjek, kamu suruh berhenti jalan dulu, lalu kamu nunduk benerin sepatunya. Tapi yang paling bunda ingat, saat kamu habis sakit, dan ada perayaan hari ibu. Kamu yang biasanya demam panggung, jadi mau maju, dan bergerak sekenanya cuma karena Bunda bilang, bunda sedih kalo kamu gak mau maju. Huhuhu, terima kasih ya naaak :’) Kakak, teruslah tumbuh jadi anak yang penyayang ya nak, sekeras apapun dunia yang akan kamu hadapi nanti. Karena anak baik akan disayang sama Allah πŸ˜€

Akhtar sayang, kamu juga sudah menanamkan beberapa hal baik. Buang sampah di tempatnya, kalo lampu merah berhenti, membantu adek beresin minumannya yang tumpah dan lain-lain. Semoga bisa jadi kebiasaan baik yang akan memudahkan kehidupan kamu nanti ya nak πŸ™‚

Akhtar sayang, kamu juga udah bisa menamai perasaan kamu. Gak nyaman, nyaman, senang, sampai sedih. Bunda masih ingat di suatu malam saat Mbah pulang ke Lampung, kamu menahan tangis, dan baru pecah saat Bunda bilang tidak apa-apa kalo menangis. Nak, tahukah kamu, saat mendengar tangisan kamu, hati Bunda ini juga jadi sediiiih sekali, tapi Bunda harus menjadikan kamu anak laki-laki yang kuat, yang bisa menghadapi kekecewaan dan kesedihan dengan gagah perkasa. Kakak Akhtar nanti kan akan jadi pemimpin keluarga, kakak Akhtar adalah orang yang paling kuat di keluarga kamu nanti. Insya Allah, Allah bantu kita ya kak πŸ™‚

Akhtar sayang, pak polisi di rumah yang suka balikin kata-kata ayah bunda buat ayah bunda juga. Haha, pengingat ayah bunda supaya bertingkah dan berkata-kata yang baik terus yaa πŸ˜› Akhtar juga jadi pelindung Kirana, yang bantuin adek ngapa-ngapain, yang jadi partner in crime Kirana main air basahin baju, tapi juga yang aktif gangguin Kirana. Ah, kak, bunda masih suka aja bilang (terutama kalo beresin baju kecil kamu sama liat foto kecil kamu), “Ya Ampun ayaah, anak kita ini kok udah gede ajaaa!” πŸ™‚

Akhtar sayang, sungguh Bunda harus lebih banyak bersyukur karena Allah sudah menitipkan kamu ke keluarga kecil kita. Seorang laki-laki kecil yang menentramkan hati kami. Terima kasih untuk banyak sekali perhatian kamu, terutama saat Bunda harus memilih mendahulukan Kirana dulu ya, nak. Terima kasih kamu yang mau memeluk Bunda dari belakang, saat Kirana masih butuh disusui Bunda, padahal kamu ingin tidur sambil dipeluk Bunda. Terima kasih nak.

Sekali lagi Bunda minta maaf untuk hal buruk yang kami tidak sengaja perdengarkan, perlihatkan, contohkan ke kamu ya kak. Semoga Allah mau menghapuskan hal-hal jelek itu dari ingatan kamu yang ternyata bisa megingat hal yang sudah cukup lama berlalu. Semoga Allah berkenan menjadikan kamu anak yang berakhlak baik dan nanti akan menjadi anak sholeh yang doanya akan didengar oleh Allah.

Muhammad Akhtar Zeeshan, laki-laki kecil kesayangan kami. Selamat ulang tahun ke-4 ya kak. Tinjulah congkaknya dunia, doa kami di nadimu πŸ™‚

Kami sayang sekali sama kamu :*

Di Libur Imlek

Kalo udah lama ‘nganggur’, jadi susah ya mau nulis konsisten lagi. Huhuhu…sedih πŸ™ Mari dicoba dari nulis yang paling fresh dulu, siapa tau semangatnya jadi timbul lagi yaa πŸ˜€

Cerita libur satu hari di hari Kamis di minggu kedua Februari ini aja. Eh, gak libur satu hari deng, lah hari Senin Selasanya aku gak masuk juga ke kantor karena kakak sakit. Pas Rabu udah siap-siap, baru sadar kalo besoknya libur πŸ˜› Semacam tanggung yaa ;D *hush, padahal inget sama potongan tunjangan πŸ˜›

Jadi pagi itu dimulai dengan kami masak yang instan-instan karena beras gak ada πŸ˜› Lalu masku nyelesaiin nyuci, sementara aku beberes rumah. Seperti biasa, baru keluar rumah jam 11. Padahal anak-anak udah pake baju dari Tante Desi yang baru aku keluarin dari koper baju baru yang belum muat, sejak jam 8. Hahaha…

Sampe ngunci pager, kami gak tau mau kemana. Ish πŸ˜›

Ya udah, karena hari itu mendung, gpp deh main di playground depan di jam segitu. Termenyenangkan bayar 20ribu saja udah puas main berEMPAT! Ya maaf, kadang pengen banget anak-anak main di playground lain yang heits, tapi ngebayangin uang yang harus keluar, belum lagi pendamping. Hadeuh, sudahlah playground depan rumah juga gak kalah oke πŸ˜›

Karena sepi, beneran jadi main berempat. Udah lama banget gak main di situ bikin Kirana jadi ‘mengkeret’ lagi. Mengulang dari awal lagi deh. Jadi harus rutin tampaknya, pak suami? πŸ˜€

Jpeg

Niatnya mau duduk manis aja nungguin, tapi anak-anaknnya manggil-manggil terus! πŸ˜› (btw, akhirnya aku punya sendal yang kece lagi!)

20150219_Maiiin

20150219_Maiiin--Harus berusaha naik ini sendiri dulu…

20150219_Maiiin---Supaya bisa turun lewat perosotan gajah! πŸ˜€

20150219_Maiiin----

20150219_Maiiin-----Kakak ini, manis sekali, adeknya ditungguin dan disemangatin pasti bisa terus πŸ™‚

20150219_Maiiin-Karena manjatin perosotan yang cuma lurus aja dari bawah sudah terlalu gampang ya kak? πŸ˜›

Jpeg

Jpeg

Pas satu jam main, pas hujan turun rintik-rintik. Ya sudah, berenti ya mainnya? πŸ˜€

Abis bersih-bersih (dan adek berhasil pipis di toilet!), kami baru mikir mau kemana lagi πŸ˜› Cari makan dulu lah. Cap cip cup, akhirnya kami makan lagi di Soto H. Mamat yang deket Latinos. Enak siih, tapi gak enak pas bayarnya πŸ˜›

Lalu kami lanjut ke ITC, nyari sepatu buat Masku karena sepatunya jebol kena banjir di deket TPA. Sholat dulu gantian. Karena sholat gantian ini, ada tragedi Kirana pup πŸ˜› Ya, anak ini, baru mulai toilet training, tapi beneran udah gak mau pake dispo sama sekali πŸ˜›

Alhamdulillah, sepatu dapet. Akhtar sama Kirana juga ikut heboh nyobain sepatu. “Bunda, aku coba-cobain aja kok. Nanti kalo bunda ada rejeki, aku dibeliin ya?” *brb, nangis dulu :’) Mampir bentar ke tempat DVD, udah lama gak nyetok πŸ˜› Diakhiri dengan beli kaos kaki buat semua. Pas ditanya seneng gak “Kakak seneng soalnya dibeliin kaset sama kaos kaki” Ya ampun, naaak, dibeliin kaos kaki 5ribu aja udah seneng kamu! πŸ˜€ Adek? udah bobo di gendongan ayahnya πŸ˜€

Hatiku hangat sekali :’)

TapiΒ  kami gak langsung pulang, pengen main ke Mall Alam Sutera, mau nyari alat bento sekalian ngintip wedges di P*yless (mahaalnyaaa, aku gak mau main ke situ lagi! *pundung). Akhtar tertidur di jalan, jadi begitu sampe, kami gantian sholat. Mushollanya keren bangeeet di situ, gak basa-basi. Keren!

Lalu kami kok mengarah ke Gramedia! ini kedua kalinya dalam bulan ini. Ya sudah, pasrah aku πŸ˜› Karena sekalian beliin titipan temen, jadi kami bisa bikin kartu anggota yang kartunya lagi habis, jadi nanti harus ke situ lagi πŸ˜›

Jpeg20150219_BukuuuumaduuuPressure itu adalah tiba-tiba pak suami masukin buku jahit itu ke tas belanjaan sambil bilang “Nih, beli, gak ada alesan lagi ya gak jadi baju anak-anak” πŸ˜› Bukunya sudah sempet aku liat, tapi aku balikin lagi ke rak karena liat harganya. Ya biasalah, ibu-ibu πŸ˜›

Terus jalan-jalan aja. Mondar-mandir sampe Akhtar minta makan lagi dan terpaksa jadi makan di luar lagi πŸ˜› Ketemu Serambi Botani di situ! Langsung bungus minuman kunyit buat masku, dan nyobain madu dari sana yang diklaim asli. Sholat lagi di lantai lain dan tetep ada mushola layak! Huwaaa.. Terus Kirana pipis di toilet lagi! Huwaaaa.. Terus masku kok ya mau-maunya walo kaki pegel, tetep nemenin aku nyari si Daiso! Mungkin karena sepatu baru kali yaa? Hahaha…

Akhirnya ketemu lah Daiso yang pake H. Hahaahahha…jadi selama ini aku salah, yang ada di alam sutera itu ya tempat makan! Bukan tempat barang-barang jepang Serba berapa ribu yang kayak di PVJ itu! Hahahaha..

Ya sudah, kami pulang πŸ˜€ Anak-anak langsung tidur gak pake mandi πŸ˜› Mampir bentar di Indomar*t buat beli beras. Ya daripada gak punya beras πŸ˜›

Another one full of happy day! Terima kasih ya, Allah πŸ™‚

#ILoveDNWMoreBecause

Kemarin sore, jam 5 teng, kami absen, langsung jalan ke parkiran, naik mobil jemput anak-anak. 5.25, kami berangkat lagi menuju rumah.

Seperti biasa, jalan ke Tomang situ macet. Di tengah jalan, hujan turun. “Alhamdulillah, hujan” kata kakak. Iya, alhamdulillah πŸ˜€ Masih optimis bisa sholat magrib di rumah.

NOT.

Ternyata pas mau keluar tol di rawa buntu sana, udah ada antrian mobil. Melipir puter aja keluar dari Tol BSD, ternyata sama aja. Gpp, niatnya mau muter lewat belakang. Tapi kok ya macet jugaaaaaa. Akhirnya tetep masuk antrian mobil yang banyak itu. Anak-anak tidur satu per satu. Lama-lama yang ngelonin ikut tidur juga. Itu sudah jam 7 lewat. Pupus sudah harapan indah sholat magrib di rumah πŸ™

Baru dibangunin pas pak suami minta beliin nasi padang buat makan malem. Pas liat jam, ya ampuuuun udah hampir jam 9 πŸ™

Suami aku nyetir sendirian di tengah macet yang parah itu hampir 2 jam πŸ™

So, when he slept at that night, I saw him deeply (tentu saja sambil usel-usel πŸ˜› ), and prayed..

“Ya Allah, berikahlah kesehatan dan kekuatan yang banyak buat suamiku. Jadikan lelahnya sebagai penghapus dosa-dosanya. Jadikan juga sebagai amal baik yang Engkau berkahi”

I do love U, pak suami. Terima kasih yaa menjaga kami ;’)

Nemenin Ayah Moto :)

Mulai mencicil cerita yaaa. Walo pasti banyak yang terlupa πŸ˜› Oh iya, ini bukan karena aku inget banget seperti yang sering dituduhkan ke aku πŸ˜› Itu gunanya ada foto! Pengingat di saat lupa. Hihi..

Awal bulan November harusnya kami ikut perayaan Hari Oeang sperti tahun lalu (btw, kok gambarnya gak ada semua itu pak suamiiii? πŸ™ ). Tapi alhamdulillah masku dapet kerjaan moto lagi yang lokasinya di deket rumah saja πŸ™‚ Jadi lah di hari Sabtu itu, kami bertiga aja di rumah πŸ˜€ Beberes, masak seadanya, dan bujuk-bujuk Kirana supaya mau difoto pake kerudung jualan πŸ˜›

Kirain pasti sudah beres, ndilalah, kejadian seperti moto sebelumnya berulang. Huuuuh, sebel sebenernya! Kalo belum beres dan bukan karena yang moto yang telat harusnya ya udah. Kalo mau lanjut, harus ada ekstra charge πŸ™ Tapi lagi-lagi karena usaha ini baru merintis, besoknya Masku harus moto lagi. Lokasinya di kantor! (Zzzzzz, bensinnnya berapa itu? Tolnya berapa? -_-)

Tapi pak suami ngiming-imingi aku ke Thamcit sih yaaa, jadi ya sudahlah, anggap sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui yaa πŸ™‚ Let’s go! πŸ˜€

Karena outdoor, berarti mainan anak-anak harus siap. Snack juga siap. Yang agak berat cuma bekal tahu isi πŸ™‚

JpegMasih ada sisa-sisa perayaan kemarinnya πŸ™‚

Ternyata mainan segambreng cuma bisa menahan mereka sebentar πŸ˜› Ya udah sana lari-lari di taman sampe rambut lepek kena keringet πŸ˜› Gini ya ternyata rasanya jagain anak-anak outdoor. Langsung ngebayangin masku yang tiap bulan harus jaga mereka kalo aku sekolah πŸ˜› Oh yes, mereka dapet bonus Qtel* dari Oom yang mau difoto. Isssh… πŸ˜›

20141102_Nemeninayahmotooooo

20141102_NemeninayahmotooRefleksi! Hihi..

JpegI love u both, kiddos :*

Udaaah, abis itu, ke Thamcit bentar. Pulang, mampir sholat di Masjid di Alam Sutera. Lupa blas, hari itu kami makan apa πŸ˜›

20141102_NemeninayahmotoooAdeeek. celananya putiiiih ituu! πŸ˜›

Melihat pak suami yang berusaha lebih keras untuk menafkahi kami, cuma bisa berdoa semoga Allah semakin menyayangi dia. Memang dia memang suka moto. Memang kadang lelahnya gak sebanding sama nominalnya. Ya udah lah, anggap aja, pak suami sedang me time. Dapet berapa aja itu adalah bonusnya πŸ˜€ Semoga rejeki yang memang didapat dari keringat berpeluh dalam artian sebenarnya itu, menjadi rejeki yang halal dan diberkahi buat keluarga kami :’)

Bonusnya, anak-anak bisa dikasih selipan pelajaran. Itu loh ayah kalian sedang berusaha lebih keras buat kita πŸ˜€ Semoga ada hasilnya buat anak-anak, terutama buat kakak yang nanti akan jadi kepala keluarga. Hihi…

Walo panas-panas, We do have fun πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Udah keliyengan baca materinya? Hihi, tenang, ini copy paste terakhir sejak terpaksa libur ngeblog πŸ˜›

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Oleh : Ustadzah Poppy Yuditya

Β Di dalam suatu keluarga, yang wajib mencari nafkah adalah suami. Nafkah suami diberikan pada orang yang menjadi tanggungannya, ibunya, ayahnya, saudarinya, saudaranya, dan seterusnya. Jika istri juga mencari nafkah, maka akan terdapat dua pintu rejeki. Walau begitu, pintu yang dibuka hanya satu saja, yaitu suami. Walau yang dikeluarkan adalah dari istri, tetap melalui suami (bisa melalui izin). Hal itu bisa menumbuhkan dan meningkatkan qowammah suami.

Β Jika suami dan istri telah mengerti peran masing-masing dan memiliki pola pemahaman yang sama, maka hubungan dengan mertua, ipar, dan keluarga besar sudah pasti akan baik. Sayangnya, karena suami istri belum mengerti secara baik peran masing-masing, banyak masalah bermunculan. Tidak cocok dengan ibu mertua, pilihan berbeda, sampai perahu pernikahan terancam karam. Sangat ironis jika perahu itu benar-benar karam bukan karena pasangan suami istri dan anak (ring 1) saja, namun karena hubungan dengan keluarga yang masih mahram (ring 2), apalagi karena keluarga yang bukan mahram (ring 3). Maka benahilah dulu ring 1, baru ke ring berikutnya. Bagaimana ring 2 dan 3 bisa baik, jika ring 1 saja masih berantakan? Jangan mengorbankan ring 1 untuk ring 2 apalagi ring 3.

Β Kita harus yakin bahwa tujuan syariat itu pasti memudahkan, bukan menyusahkan. Salah satu contohnya, saat Islam mengharuskan istri keluar rumah harus dengan izin suami. Jangan dipikir bahwa itu menyusahkan istri, bahkan keluar mencari kerupuk saja harus izin suami. Jangan terlalu memikirkan susahnya tanpa dijalankan dahulu. Karena saat dijalankan, istri belum tentu akan susah. Yakinlah pada perintah Allah.

Β Seperti diriwayatkan H.R. Tarmidzi, Rasulullah SAW bersabda orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrinya. Maka seorang suami yang baik akan senantiasa berbuat baik pada istrinya, termasuk memberi nafkah yang layak.

Β Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim : dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya. Jadi, saat memang bisa membantu keluarga yang lain, maka bantulah. Niscaya Allah akan menggantikan keikhlasan kita akan digantikan Allah dengan pahala yang sangat besar.

Β Kita juga harus sangat memperhatikan tentang bahayanya ipar masuk ke dalam rumah. Bahkan di dalam HR Bukhori dan Muslim, saat seorang Ansar bertanya pada Rasulullah bagaimana pendapatnya tentang saudara lelaki suami, Rasulullah menjawab Saudara lelaki suami adalah kematian. Mari belajar lagi tentang mahram lalu berlakulah sesuai ketentuan Allah. Jangan hanya karena malu, segan, maka ketentuan itu dilanggar. Contohnya : Berboncengan dengan ipar laki-laki. Jika tidak mau dengan alasan menjaga hubungan dengan mahram, mungkin akan dicap berlebihan oleh masyarakat. Tapi tidak apa-apa, kita sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu ridho Allah.

Β Namun jangan terlalu kaku, di luar yang sudah ditentukan Allah tentang halal dan haramnya, selalu perhatikan adab. Jika terjadi masalah dalam hubungan suami istri, maka boleh dibicarakan dengan orang saleh di sekitar. Orangtua boleh dimintai pendapat asal masuk kategori tersebut. Jika memang butuh waktu, maka berilah waktu. Jangan memaksakan menyelesaikan masalah saat masih emosi. Solusi yang ditawarkan supaya tetap kuat kokoh berdiri adalah terus bersabar. Bersabarlah, tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, atau kesedihan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan karenanya.

Β Semoga hubungan kita dengan pasangan, anak-anak, orang tua, mertua, dan keluarga besar senantiasa berjalan baik. Amin ya rabbal alamin.

Banyak ya PRnyaaa? Hihii…

Pulang dari sekolah, disuruh Masku nunggu dijemput. Dijemputnya ternyata pake motor temen yang lupa kalo ternyata dia bawa helm 1. Jadi melipir dulu ke rumah temen yang lain pinjem helm. Aku ‘diculik’ nemenin mancing bareng temen-temen kantor! Padahal lagi ngambek juga πŸ˜› Tentu saja aku bawel. Soalnya pas pergi, anak-anak belum bangun! Dan gak pamit kan mau mancing πŸ™ Huhuhu…tapi kan istri sholehah harus nurut suami yaa? πŸ™‚ Lagian gak ngerti dari situ gimana caranya pulang sendiri πŸ˜›

Selesai hampir magrib, bawa banyaaaaaaak sekali ikan patin πŸ™‚ Makasih ya ibu jagain anak-anak seharian lagi πŸ™‚ Ikan-ikan juga dibersihin besoknya, dimasukin ke plastik kecil-kecil isi beberapa potong πŸ˜€ Alhamdulillah πŸ˜€

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Lompat ke satu bulan setelahnya. Hoooop! 13 Desember 2014 πŸ˜€

Kali ini sekolahnya cuma berdua karena di rumah masih ada Ibu. Konyolnya aku gak baca lokasinya. Udah sampe di Kelapa Dua, ternyata pindah ke Djuanda πŸ˜› Telat 5 menit, tapi insya Allah gak ketinggalan materi apa-apa πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Oleh : Ustad Galan

Β Pendidikan dimulai dari rumah. Rumah adalah lembaga pendidikan pertama. Di dalam rumah, semua pelajaran pertama seharusnya dimulai. Seorang pemimpin keluarga akan diminta pertangungjawaban tentang keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Ikutilah jalan yang ditunjukkan dalam Alquran dan Hadis karena jalan yang ditunjukkan pasti lurus. Jadi kuat tidaknya masyarakat dapat dilihat dari kuat tidaknya rumah-rumah di dalam masyarakat tersebut.

Β Jika rumah, sekolah, dan masyarakat adalah pilar utama pendidikan. Maka rumah adalah yang pertama dan yang paling kuat. Rumah adalah tempat anak-anak diterima pertama kali dalam keadaan fitrah. Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu banyak waktu di rumah dibanding di tempat lain. Orangtua bertanggungjawab pada anaknya. Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orangtua di hadapan anak-anaknya. Allah menjadikan rasa cinta untuk anak-anak di hati kedua orangtua. Keluarga adalah satu-satunya jamaah yang orang berafiliasi selama hidupnya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya rumah dalam pendidikan.

Β Sayangnya, pendidikan saat ini sangat jauh dari tuntunan dalam Islam. Sekolah β€˜jauh’ dari masjid. Sekolah di negara Islam mengikuti kurikulum dan manajemen di sekolah barat. Bahkan di banyak sekolah, sekolah menghancurkan apa yang diajarkan di dalam rumah. Β Padahal seharusnya sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hubungan antara sekolah dan orangtua harus berjalan harmonis. Bisa dilakukan dengan kegiatan belajar bersama orangtua, pertemuan rutin orangtua dan guru, sampai tugas harian yang ditujukan guru agar anak lebih dekat kepada orangtuanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih sekolah yaitu wajib tidak menyebutkan keburukan sekolah (apalagi gurunya) di hadapan anak. Guru harus memiliki wibawa yang besar sekali untuk anak. Anak sudah mulai diajak untuk melihat bakal sekolah dan kegiatannya. Peralatan sekolah pun sudah harus disiapkan sebelum mulai tahun ajaran. Yang perlu disoroti saat ini adalah fenomena orangtua yang mengajak anaknya untuk memilih sekolahnya. Padahal anak adalah tanggung jwab orangtua. Orangtua lah yang seharusnya memutuskan, bukan anak (apalagi anak di bawah usia sekolah wajib).

Lalu, fenomena yang lain adalah memberi anak banyak sekali kursus tambahan. Lebih banyak lebih baik. Apakah itu perlu? Menurut Khalid Asy-Sayntut, seorang pakar pendidikan Islam, hal itu tidak perlu. Guru/kursus tambahan hanya untuk anak-anak yang lemah dan orangtua yang tidak mengerti. Khalid Asy-Syantut bahkan menjabarkan agenda harian anak sejak bangun sampai tidur lagi yang dibedakan dengan agenda jika anak ujian untuk dapat dijadikan pedoman sehari-hari.

Jika memiliki anak banyak, orangtua mengajarkan anak pertama, lalu anak pertama mengajarkan adiknya sambil orangtua mengontrol. Jika liburan, bukan tidur dan bermain yang diperbanyak. Terus rutin belajar adalah yang paling disarankan. Namun waktu belajar boleh dikurangi. Waktu tidur boleh diperbanyak tapi hanya sedikit. Boleh menambah waktu main, tapi sedikit juga. Akan jauh lebih baik jika ada kegiatan tambahan yang membawa manfaat. Jika mulai besar, liburan bisa digunakan untuk magang kerja.

Jadilah orangtua yang tidak hanya fokus pada nilai. Fokuslah pada usaha dan perbaikan pada jawaban yang diberikan anak-anak. Mari berusaha menjadikan rumah yang akan menghasilkan anak-anak sholeh dan sholehah yang berprestasi gemilang. Lagi-lagi, jika ingin anak yang dekat dengan fitrahnya, orangtua pun harus sekuat tenaga berusaha untuk lebih dahulu dekat dengan fitrah.

Lagi-lagi mata berkaca-kaca. Membayangkan sebuah sekolah yang sedang berusaha menanamkan kekaguman anak pada guru, namun tak lupa bahwa kekaguman pada orangtua pun tak oleh luntur :’) Sebuah sekolah yang menanamkan iman :’)

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Masih di hari yang sama…

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Oleh : Ustadzah Nurliani Rahma Dewi

Adab adalah 2/3 dari ilmu itu sendiri. Jadi dalam belajar, adab harus diterapkan. Sebelum belajar, dilakukan pengkondisian supaya adab belajar tetap bisa terjaga. Baca tulis di Kuttab adalah aplikasi iman dengan pedoman Alquran. Urutannya dimulai dari juz 30 tentang alam, manusia, kisah, dan tadabur.

Calistung haruslah berangkat dari satu tujuan besar. Allah memerintahkan supaya kita membaca, menulis, dan berilmu. Tujuan besar itu ada di surat Al Alaq. Ayat pertama untuk Rasulullah adalah Iqra, bacalah. Membaca adalah perintah pertama Allah. Apakah ada yang lebih jelas daripada itu? Jadi benahi niat kita, ajarakan anak membaca untuk menaati perintah Allah, supaya Allah ridho, bukan hanya mengikuti kurikulum semata. Menghapal dan memahami arti harus sepaket, tidak boleh dipisahkan.

Membaca harus diartikan secara utuh, yaitu membaca kitab Alquran, membaca hukum alam, dan membaca norma-norma. Pelajaran membaca harus mengukuhkan iman kepada Allah dengan pedoman Alquran. Iqro adalah keseimbangan dalam ilmu. Artinya apa yang kita baca, harus kita aplikasikan dan diwujudkan dalam amal. Maka, jagalah apa yang kita baca. Begitu pun, apa yang kita tulis, apa pun itu harus kita pertangungjawabkan. Periksa lagi, benarkah apa yang kita baca/ tulis.

Kedua, tentang menghitung. Islam juga adalah agama yang mengharuskan umatnya supaya pintar berhitung. Sangat miris, di lingkungan kita pasti banyak sekali anak-anak yang pintar matematika, namun jarang sekali kita menemukan seseorang yang ahli menghitung waris. Padahal dasar mengitung waris, sudah jelas besarannya dalam Alquran. Jangan sampai ilmu yang ada dibuat untuk melakukan hal maksiat.

Di Kuttab, menghitung adalah ilmu pilihan. Diajarkan tersendiri, namun diintegrasikan pada ilmu lain. Tentu saja didasarkan pada Alquran. Contohnya, kisah di surat Ad Dhuha, tentang Asbabun Nuzul. Dari situ, bisa diajarkan tentang durasi kegiatan lama/ sebentar, bilangan belasan dan kelipatannya. Contoh integrasi, misalnya dengan IPS, saat belajar angka 3, tugasnya adalah bersilaturahmi dengan 3 tetangga.

Mengajarkan ilmu juga harus berkesinambungan supaya ilmu melekat. Jika merunut dari shiroh, perintah membaca jauh lebih dahulu daripada perintah sholat. Sholat saja diajarkan saat 7 tahun, berarti bukan masalah jika calistung diajarkan sebelum 7 tahun.

Sebagai orangtua boleh punya target, tapi jiika anak belum mampu, jangan kecewa berlebih. Sabar dalam proses, hati-hati pada niat. Sudah berusaha, sudah konsisten, ikhlaskan pada Allah. Berusaha saja, serahkan pada Allah. Allah yang menciptakan, dengan izin Allah pula, anak akan diberi pemahaman.

Iman sebelum Alquran, mempelajari Alquran untuk menambah keimanan. Jadi jadikan membaca, menulis, dan berhitung sebagai salah satu cara kita mendidik anak supaya menaati perintah Allah, supaya lebih dalam imannya karena pengetahuan calistungnya nanti.

Insya Allah, Allah akan mudahkan πŸ™‚

Waktu pemaparan ini, mataku sampai berkaca-kaca. Wooooow, saat iman seseorang sudah tinggi, bahkan calistung aja jadi bermakna begitu besar. Ayo niat ulang, ngajarin anak calistung adalah salah satu cara kita supaya Allah ridho karena itu adalah perintah Allah. Iqro’ πŸ˜€

Abis sekolah, karena malemnya masih aja sibuk ngurusin album Kirana #2 dan ngebut bikin PR ini, pergi sekolah pas belum beres-beres sama sekali. Dan telat beberapa menit πŸ™ Suami sama anak juga gak disiapin bekal, Jadi mereka harus cari sendiri. Maaf yaaa pak suamii :* Makasiih jagain anak-anak πŸ™‚

Pulang dari sekolah, mampir bentar ke rumah Chaca. Main sekalian nganterin pesenan gamis sama kerudung ibu ini πŸ˜› Sebenernya pengen lama, tapi inget cucian yang segunung dan rumah yang berantakan bangeeeet, ditambah tempat parkir biasa udah dipalang jadi harus parkir di depan RM Padang, jadi cuma bentar ke sana πŸ˜› Maaf ya Chaaa πŸ˜›