#ILoveDNWMoreBecause

Kemarin sore, jam 5 teng, kami absen, langsung jalan ke parkiran, naik mobil jemput anak-anak. 5.25, kami berangkat lagi menuju rumah.

Seperti biasa, jalan ke Tomang situ macet. Di tengah jalan, hujan turun. “Alhamdulillah, hujan” kata kakak. Iya, alhamdulillah πŸ˜€ Masih optimis bisa sholat magrib di rumah.

NOT.

Ternyata pas mau keluar tol di rawa buntu sana, udah ada antrian mobil. Melipir puter aja keluar dari Tol BSD, ternyata sama aja. Gpp, niatnya mau muter lewat belakang. Tapi kok ya macet jugaaaaaa. Akhirnya tetep masuk antrian mobil yang banyak itu. Anak-anak tidur satu per satu. Lama-lama yang ngelonin ikut tidur juga. Itu sudah jam 7 lewat. Pupus sudah harapan indah sholat magrib di rumah πŸ™

Baru dibangunin pas pak suami minta beliin nasi padang buat makan malem. Pas liat jam, ya ampuuuun udah hampir jam 9 πŸ™

Suami aku nyetir sendirian di tengah macet yang parah itu hampir 2 jam πŸ™

So, when he slept at that night, I saw him deeply (tentu saja sambil usel-usel πŸ˜› ), and prayed..

“Ya Allah, berikahlah kesehatan dan kekuatan yang banyak buat suamiku. Jadikan lelahnya sebagai penghapus dosa-dosanya. Jadikan juga sebagai amal baik yang Engkau berkahi”

I do love U, pak suami. Terima kasih yaa menjaga kami ;’)

Nemenin Ayah Moto :)

Mulai mencicil cerita yaaa. Walo pasti banyak yang terlupa πŸ˜› Oh iya, ini bukan karena aku inget banget seperti yang sering dituduhkan ke aku πŸ˜› Itu gunanya ada foto! Pengingat di saat lupa. Hihi..

Awal bulan November harusnya kami ikut perayaan Hari Oeang sperti tahun lalu (btw, kok gambarnya gak ada semua itu pak suamiiii? πŸ™ ). Tapi alhamdulillah masku dapet kerjaan moto lagi yang lokasinya di deket rumah saja πŸ™‚ Jadi lah di hari Sabtu itu, kami bertiga aja di rumah πŸ˜€ Beberes, masak seadanya, dan bujuk-bujuk Kirana supaya mau difoto pake kerudung jualan πŸ˜›

Kirain pasti sudah beres, ndilalah, kejadian seperti moto sebelumnya berulang. Huuuuh, sebel sebenernya! Kalo belum beres dan bukan karena yang moto yang telat harusnya ya udah. Kalo mau lanjut, harus ada ekstra charge πŸ™ Tapi lagi-lagi karena usaha ini baru merintis, besoknya Masku harus moto lagi. Lokasinya di kantor! (Zzzzzz, bensinnnya berapa itu? Tolnya berapa? -_-)

Tapi pak suami ngiming-imingi aku ke Thamcit sih yaaa, jadi ya sudahlah, anggap sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui yaa πŸ™‚ Let’s go! πŸ˜€

Karena outdoor, berarti mainan anak-anak harus siap. Snack juga siap. Yang agak berat cuma bekal tahu isi πŸ™‚

JpegMasih ada sisa-sisa perayaan kemarinnya πŸ™‚

Ternyata mainan segambreng cuma bisa menahan mereka sebentar πŸ˜› Ya udah sana lari-lari di taman sampe rambut lepek kena keringet πŸ˜› Gini ya ternyata rasanya jagain anak-anak outdoor. Langsung ngebayangin masku yang tiap bulan harus jaga mereka kalo aku sekolah πŸ˜› Oh yes, mereka dapet bonus Qtel* dari Oom yang mau difoto. Isssh… πŸ˜›

20141102_Nemeninayahmotooooo

20141102_NemeninayahmotooRefleksi! Hihi..

JpegI love u both, kiddos :*

Udaaah, abis itu, ke Thamcit bentar. Pulang, mampir sholat di Masjid di Alam Sutera. Lupa blas, hari itu kami makan apa πŸ˜›

20141102_NemeninayahmotoooAdeeek. celananya putiiiih ituu! πŸ˜›

Melihat pak suami yang berusaha lebih keras untuk menafkahi kami, cuma bisa berdoa semoga Allah semakin menyayangi dia. Memang dia memang suka moto. Memang kadang lelahnya gak sebanding sama nominalnya. Ya udah lah, anggap aja, pak suami sedang me time. Dapet berapa aja itu adalah bonusnya πŸ˜€ Semoga rejeki yang memang didapat dari keringat berpeluh dalam artian sebenarnya itu, menjadi rejeki yang halal dan diberkahi buat keluarga kami :’)

Bonusnya, anak-anak bisa dikasih selipan pelajaran. Itu loh ayah kalian sedang berusaha lebih keras buat kita πŸ˜€ Semoga ada hasilnya buat anak-anak, terutama buat kakak yang nanti akan jadi kepala keluarga. Hihi…

Walo panas-panas, We do have fun πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Udah keliyengan baca materinya? Hihi, tenang, ini copy paste terakhir sejak terpaksa libur ngeblog πŸ˜›

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Oleh : Ustadzah Poppy Yuditya

Β Di dalam suatu keluarga, yang wajib mencari nafkah adalah suami. Nafkah suami diberikan pada orang yang menjadi tanggungannya, ibunya, ayahnya, saudarinya, saudaranya, dan seterusnya. Jika istri juga mencari nafkah, maka akan terdapat dua pintu rejeki. Walau begitu, pintu yang dibuka hanya satu saja, yaitu suami. Walau yang dikeluarkan adalah dari istri, tetap melalui suami (bisa melalui izin). Hal itu bisa menumbuhkan dan meningkatkan qowammah suami.

Β Jika suami dan istri telah mengerti peran masing-masing dan memiliki pola pemahaman yang sama, maka hubungan dengan mertua, ipar, dan keluarga besar sudah pasti akan baik. Sayangnya, karena suami istri belum mengerti secara baik peran masing-masing, banyak masalah bermunculan. Tidak cocok dengan ibu mertua, pilihan berbeda, sampai perahu pernikahan terancam karam. Sangat ironis jika perahu itu benar-benar karam bukan karena pasangan suami istri dan anak (ring 1) saja, namun karena hubungan dengan keluarga yang masih mahram (ring 2), apalagi karena keluarga yang bukan mahram (ring 3). Maka benahilah dulu ring 1, baru ke ring berikutnya. Bagaimana ring 2 dan 3 bisa baik, jika ring 1 saja masih berantakan? Jangan mengorbankan ring 1 untuk ring 2 apalagi ring 3.

Β Kita harus yakin bahwa tujuan syariat itu pasti memudahkan, bukan menyusahkan. Salah satu contohnya, saat Islam mengharuskan istri keluar rumah harus dengan izin suami. Jangan dipikir bahwa itu menyusahkan istri, bahkan keluar mencari kerupuk saja harus izin suami. Jangan terlalu memikirkan susahnya tanpa dijalankan dahulu. Karena saat dijalankan, istri belum tentu akan susah. Yakinlah pada perintah Allah.

Β Seperti diriwayatkan H.R. Tarmidzi, Rasulullah SAW bersabda orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrinya. Maka seorang suami yang baik akan senantiasa berbuat baik pada istrinya, termasuk memberi nafkah yang layak.

Β Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim : dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya. Jadi, saat memang bisa membantu keluarga yang lain, maka bantulah. Niscaya Allah akan menggantikan keikhlasan kita akan digantikan Allah dengan pahala yang sangat besar.

Β Kita juga harus sangat memperhatikan tentang bahayanya ipar masuk ke dalam rumah. Bahkan di dalam HR Bukhori dan Muslim, saat seorang Ansar bertanya pada Rasulullah bagaimana pendapatnya tentang saudara lelaki suami, Rasulullah menjawab Saudara lelaki suami adalah kematian. Mari belajar lagi tentang mahram lalu berlakulah sesuai ketentuan Allah. Jangan hanya karena malu, segan, maka ketentuan itu dilanggar. Contohnya : Berboncengan dengan ipar laki-laki. Jika tidak mau dengan alasan menjaga hubungan dengan mahram, mungkin akan dicap berlebihan oleh masyarakat. Tapi tidak apa-apa, kita sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu ridho Allah.

Β Namun jangan terlalu kaku, di luar yang sudah ditentukan Allah tentang halal dan haramnya, selalu perhatikan adab. Jika terjadi masalah dalam hubungan suami istri, maka boleh dibicarakan dengan orang saleh di sekitar. Orangtua boleh dimintai pendapat asal masuk kategori tersebut. Jika memang butuh waktu, maka berilah waktu. Jangan memaksakan menyelesaikan masalah saat masih emosi. Solusi yang ditawarkan supaya tetap kuat kokoh berdiri adalah terus bersabar. Bersabarlah, tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, atau kesedihan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan karenanya.

Β Semoga hubungan kita dengan pasangan, anak-anak, orang tua, mertua, dan keluarga besar senantiasa berjalan baik. Amin ya rabbal alamin.

Banyak ya PRnyaaa? Hihii…

Pulang dari sekolah, disuruh Masku nunggu dijemput. Dijemputnya ternyata pake motor temen yang lupa kalo ternyata dia bawa helm 1. Jadi melipir dulu ke rumah temen yang lain pinjem helm. Aku ‘diculik’ nemenin mancing bareng temen-temen kantor! Padahal lagi ngambek juga πŸ˜› Tentu saja aku bawel. Soalnya pas pergi, anak-anak belum bangun! Dan gak pamit kan mau mancing πŸ™ Huhuhu…tapi kan istri sholehah harus nurut suami yaa? πŸ™‚ Lagian gak ngerti dari situ gimana caranya pulang sendiri πŸ˜›

Selesai hampir magrib, bawa banyaaaaaaak sekali ikan patin πŸ™‚ Makasih ya ibu jagain anak-anak seharian lagi πŸ™‚ Ikan-ikan juga dibersihin besoknya, dimasukin ke plastik kecil-kecil isi beberapa potong πŸ˜€ Alhamdulillah πŸ˜€

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Lompat ke satu bulan setelahnya. Hoooop! 13 Desember 2014 πŸ˜€

Kali ini sekolahnya cuma berdua karena di rumah masih ada Ibu. Konyolnya aku gak baca lokasinya. Udah sampe di Kelapa Dua, ternyata pindah ke Djuanda πŸ˜› Telat 5 menit, tapi insya Allah gak ketinggalan materi apa-apa πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Oleh : Ustad Galan

Β Pendidikan dimulai dari rumah. Rumah adalah lembaga pendidikan pertama. Di dalam rumah, semua pelajaran pertama seharusnya dimulai. Seorang pemimpin keluarga akan diminta pertangungjawaban tentang keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Ikutilah jalan yang ditunjukkan dalam Alquran dan Hadis karena jalan yang ditunjukkan pasti lurus. Jadi kuat tidaknya masyarakat dapat dilihat dari kuat tidaknya rumah-rumah di dalam masyarakat tersebut.

Β Jika rumah, sekolah, dan masyarakat adalah pilar utama pendidikan. Maka rumah adalah yang pertama dan yang paling kuat. Rumah adalah tempat anak-anak diterima pertama kali dalam keadaan fitrah. Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu banyak waktu di rumah dibanding di tempat lain. Orangtua bertanggungjawab pada anaknya. Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orangtua di hadapan anak-anaknya. Allah menjadikan rasa cinta untuk anak-anak di hati kedua orangtua. Keluarga adalah satu-satunya jamaah yang orang berafiliasi selama hidupnya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya rumah dalam pendidikan.

Β Sayangnya, pendidikan saat ini sangat jauh dari tuntunan dalam Islam. Sekolah β€˜jauh’ dari masjid. Sekolah di negara Islam mengikuti kurikulum dan manajemen di sekolah barat. Bahkan di banyak sekolah, sekolah menghancurkan apa yang diajarkan di dalam rumah. Β Padahal seharusnya sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hubungan antara sekolah dan orangtua harus berjalan harmonis. Bisa dilakukan dengan kegiatan belajar bersama orangtua, pertemuan rutin orangtua dan guru, sampai tugas harian yang ditujukan guru agar anak lebih dekat kepada orangtuanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih sekolah yaitu wajib tidak menyebutkan keburukan sekolah (apalagi gurunya) di hadapan anak. Guru harus memiliki wibawa yang besar sekali untuk anak. Anak sudah mulai diajak untuk melihat bakal sekolah dan kegiatannya. Peralatan sekolah pun sudah harus disiapkan sebelum mulai tahun ajaran. Yang perlu disoroti saat ini adalah fenomena orangtua yang mengajak anaknya untuk memilih sekolahnya. Padahal anak adalah tanggung jwab orangtua. Orangtua lah yang seharusnya memutuskan, bukan anak (apalagi anak di bawah usia sekolah wajib).

Lalu, fenomena yang lain adalah memberi anak banyak sekali kursus tambahan. Lebih banyak lebih baik. Apakah itu perlu? Menurut Khalid Asy-Sayntut, seorang pakar pendidikan Islam, hal itu tidak perlu. Guru/kursus tambahan hanya untuk anak-anak yang lemah dan orangtua yang tidak mengerti. Khalid Asy-Syantut bahkan menjabarkan agenda harian anak sejak bangun sampai tidur lagi yang dibedakan dengan agenda jika anak ujian untuk dapat dijadikan pedoman sehari-hari.

Jika memiliki anak banyak, orangtua mengajarkan anak pertama, lalu anak pertama mengajarkan adiknya sambil orangtua mengontrol. Jika liburan, bukan tidur dan bermain yang diperbanyak. Terus rutin belajar adalah yang paling disarankan. Namun waktu belajar boleh dikurangi. Waktu tidur boleh diperbanyak tapi hanya sedikit. Boleh menambah waktu main, tapi sedikit juga. Akan jauh lebih baik jika ada kegiatan tambahan yang membawa manfaat. Jika mulai besar, liburan bisa digunakan untuk magang kerja.

Jadilah orangtua yang tidak hanya fokus pada nilai. Fokuslah pada usaha dan perbaikan pada jawaban yang diberikan anak-anak. Mari berusaha menjadikan rumah yang akan menghasilkan anak-anak sholeh dan sholehah yang berprestasi gemilang. Lagi-lagi, jika ingin anak yang dekat dengan fitrahnya, orangtua pun harus sekuat tenaga berusaha untuk lebih dahulu dekat dengan fitrah.

Lagi-lagi mata berkaca-kaca. Membayangkan sebuah sekolah yang sedang berusaha menanamkan kekaguman anak pada guru, namun tak lupa bahwa kekaguman pada orangtua pun tak oleh luntur :’) Sebuah sekolah yang menanamkan iman :’)

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Masih di hari yang sama…

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Oleh : Ustadzah Nurliani Rahma Dewi

Adab adalah 2/3 dari ilmu itu sendiri. Jadi dalam belajar, adab harus diterapkan. Sebelum belajar, dilakukan pengkondisian supaya adab belajar tetap bisa terjaga. Baca tulis di Kuttab adalah aplikasi iman dengan pedoman Alquran. Urutannya dimulai dari juz 30 tentang alam, manusia, kisah, dan tadabur.

Calistung haruslah berangkat dari satu tujuan besar. Allah memerintahkan supaya kita membaca, menulis, dan berilmu. Tujuan besar itu ada di surat Al Alaq. Ayat pertama untuk Rasulullah adalah Iqra, bacalah. Membaca adalah perintah pertama Allah. Apakah ada yang lebih jelas daripada itu? Jadi benahi niat kita, ajarakan anak membaca untuk menaati perintah Allah, supaya Allah ridho, bukan hanya mengikuti kurikulum semata. Menghapal dan memahami arti harus sepaket, tidak boleh dipisahkan.

Membaca harus diartikan secara utuh, yaitu membaca kitab Alquran, membaca hukum alam, dan membaca norma-norma. Pelajaran membaca harus mengukuhkan iman kepada Allah dengan pedoman Alquran. Iqro adalah keseimbangan dalam ilmu. Artinya apa yang kita baca, harus kita aplikasikan dan diwujudkan dalam amal. Maka, jagalah apa yang kita baca. Begitu pun, apa yang kita tulis, apa pun itu harus kita pertangungjawabkan. Periksa lagi, benarkah apa yang kita baca/ tulis.

Kedua, tentang menghitung. Islam juga adalah agama yang mengharuskan umatnya supaya pintar berhitung. Sangat miris, di lingkungan kita pasti banyak sekali anak-anak yang pintar matematika, namun jarang sekali kita menemukan seseorang yang ahli menghitung waris. Padahal dasar mengitung waris, sudah jelas besarannya dalam Alquran. Jangan sampai ilmu yang ada dibuat untuk melakukan hal maksiat.

Di Kuttab, menghitung adalah ilmu pilihan. Diajarkan tersendiri, namun diintegrasikan pada ilmu lain. Tentu saja didasarkan pada Alquran. Contohnya, kisah di surat Ad Dhuha, tentang Asbabun Nuzul. Dari situ, bisa diajarkan tentang durasi kegiatan lama/ sebentar, bilangan belasan dan kelipatannya. Contoh integrasi, misalnya dengan IPS, saat belajar angka 3, tugasnya adalah bersilaturahmi dengan 3 tetangga.

Mengajarkan ilmu juga harus berkesinambungan supaya ilmu melekat. Jika merunut dari shiroh, perintah membaca jauh lebih dahulu daripada perintah sholat. Sholat saja diajarkan saat 7 tahun, berarti bukan masalah jika calistung diajarkan sebelum 7 tahun.

Sebagai orangtua boleh punya target, tapi jiika anak belum mampu, jangan kecewa berlebih. Sabar dalam proses, hati-hati pada niat. Sudah berusaha, sudah konsisten, ikhlaskan pada Allah. Berusaha saja, serahkan pada Allah. Allah yang menciptakan, dengan izin Allah pula, anak akan diberi pemahaman.

Iman sebelum Alquran, mempelajari Alquran untuk menambah keimanan. Jadi jadikan membaca, menulis, dan berhitung sebagai salah satu cara kita mendidik anak supaya menaati perintah Allah, supaya lebih dalam imannya karena pengetahuan calistungnya nanti.

Insya Allah, Allah akan mudahkan πŸ™‚

Waktu pemaparan ini, mataku sampai berkaca-kaca. Wooooow, saat iman seseorang sudah tinggi, bahkan calistung aja jadi bermakna begitu besar. Ayo niat ulang, ngajarin anak calistung adalah salah satu cara kita supaya Allah ridho karena itu adalah perintah Allah. Iqro’ πŸ˜€

Abis sekolah, karena malemnya masih aja sibuk ngurusin album Kirana #2 dan ngebut bikin PR ini, pergi sekolah pas belum beres-beres sama sekali. Dan telat beberapa menit πŸ™ Suami sama anak juga gak disiapin bekal, Jadi mereka harus cari sendiri. Maaf yaaa pak suamii :* Makasiih jagain anak-anak πŸ™‚

Pulang dari sekolah, mampir bentar ke rumah Chaca. Main sekalian nganterin pesenan gamis sama kerudung ibu ini πŸ˜› Sebenernya pengen lama, tapi inget cucian yang segunung dan rumah yang berantakan bangeeeet, ditambah tempat parkir biasa udah dipalang jadi harus parkir di depan RM Padang, jadi cuma bentar ke sana πŸ˜› Maaf ya Chaaa πŸ˜›

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Satu kali terpaksa bolos ‘sekolah orang tua’ pas mudik Oktober lalu. Dapet sih modulnya, tapi aku kok belum dapet kliknya kalo cuma baca ringkasan materi dalam format powerpoint itu. Jadi ada 2 sesiΒ  yang belum aku share ya. Semoga ada jodoh buat nulis 2 sesi itu sebisa aku πŸ˜€

Lompat ke sesi 13 πŸ™‚ Sekolah bulan November 2014.

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Oleh : Ustadzah Nunu Karlina

Β Tema pertama, Panduan Wisata. Di dalam Alquran, perjalanan bisa diterjemahkan sebagai bepergian (terutama untuk berdagang), yang mengembara (atau menjelajahi bumi), dan yang berpuasa (karena hanya makan bekal seadanya). Wisata bisa diartikan sebagai bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya dalam rangka rekreasi, penyelidikan, atau investigasi. Tujuan wisata yang disebutkan syariat adalah perjalanan menuju ke tiga masjid, yaitu Masjid Haram, Masid Rasulullah, dan Masjid Aqsa.

Hukum berwisata pada dasarnya adalah mubah. Jika untuk ibadah haji atau berjihad, maka hukumnya menjadi wajib, karena menjadi sebuah ketaatan pada Allah SWT. Jika dilakukan dalam rangka berdakwah, mengambil pelajaran dengan jalan merenungkan tanda-tanda alam yang mereflesikan kebesaran Allah, dan untuk mengamati nasib bangsa-bangsa terdahulu termasuk apa yang menimpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka, makan berwisata menjadi dianjurkan. Jika berwisata hanya untuk kesenengan ke tempat yang di dalamnya tersebar kerusakan, hukum berwisata menjadi Makruh. Sedangkan yang menyebabkan hukumnya menjadi haram, adalah wisata yang dilakukan dengan tujuan maksiat dan menjadi mempersempit hak-hak orang lain yang ditetapkan Allah (misal, berwisata tapi menunda membayar hutang).

Selain itu, kita harus sangat memperhatikan adab berpergian. Banyak berdoa dari sejak keluar rumah, naik kendaraan, perjalanan, sampai kembali lagi ke rumah. Bukankah doa musafir adalah salah satu doa yang diijabah oleh Allah? Hapalkan juga dzikir yang disunahkan oleh Rasulullah. Alih-alih menyanyi “naik-naik ke puncak gunung”, lebih baik jika bertakbir. Seperti dalam hadits,

Etika bepergian pun harus selalu dijaga, seperti berniat mencari ridho Allah, membawa perbekalan rukhiyah dan materi, dan berakhlak baik selama perjalanan. Sebaiknya ditunjuk pemimpin, yaitu ayah. Kenakan pakaian yang menutup aurat.

Aktivitas di perjalanan pun harus tetap berpegang pada syariah. Tidak menunda waktu sholat. Wisata kuliner tentu saja diperbolehkan, namun harus tetap memperhatikan halal dan haramnya. Tahan lah diri untuk selalu memakan makanan yang halal. Jika di tempat wisata, ada permainan yang berbahaya, silahkan dihitung manfaat dan mudharatnya.

Tema kedua, Bermain Keluarga Muslim. Di dalam Alquran, kata main diartikan sebagai lalai dan perkataan yang sia-sia. Makna yang negatif. Di zaman Nabi, banyak anak kecil yang saat mereka besar menjadi orang yang mulia. Seperti apakah mereka bermain?

Dunia anak-anak identik dengan permainan. Bukan tidak boleh, diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Aisyah ra. biasa bermain-main boneka perempuan saat Rasulullah datang ke rumahnya pada waktu beliau kecil. Sebagai orangtua, bukan mainan mahal yang diperlukan anak, tapi interaksi per hari yang harus selalu dijaga.

Jangan biarkan anak lalai karena bermain. Ajari anak mengenal waktu bermain. Sebaliknya, jangan paksa anak bermain. Di dalam Islam, belajar itu ada adabnya. Bermain bukan tujuan, tapi jembatan saja. Belajar memang harus dikondisikan belajar, bukan sambil bermain. Duduk tertib, mendengarkan yang berbicara di depan. Dan pilih alat bermain yang benar (contoh : dadu dekat dengan judi, dilarang).

Kehidupan ini adalah perjalanan yang akhirnya adalah bertemu Allah SWT, mari kita isi dengan banyak kegiatan bermanfaat dan diridhoi, dan menjauhi kesia-siaan sebagai bekal kita untuk pulang ke negeri akhirat nanti.

Yang paling jleb tentang adab belajar. Weeew, jadi gak ada itu pembenaran anak kinestetik! Belajar ya harus duduk *lirik tajam ke Akhtar πŸ˜› Bermain sambil belajar jadi berasa mentah sekali πŸ™

Semoga bisa lebih disiplin tentang belajar dan bermain ini ya πŸ™‚

Hasil Ujian Itu…

Sesungguhnya mengingat 2 bulan yang udah lewat itu ternyata berat sekali yaaaa buat otak? Hahaha.. Ya sudah, nanti kalo sudah lowooong banget baru dicicil ditulis di sini πŸ˜› Nanti mau nulis-nulis mulai dari Januari aja dulu kali yaa? πŸ˜€

Yang ter-gres dulu. Jadi, waktu nulis yang rasanya udah lama banget itu, aku pamit mau ujian. Kami cuma dibekali 5 modul yang bisa didownload. Tanpa tatap muka di kelas. Gak kaget sih, soalnya dulu pas UPKP ke golongan 2c juga gitu. Yang terasa beda, adalah kadar kepercayaan diri yang sudah merosot drastis πŸ˜› Sudah lama gak belajar, saingan banyak yang baru lulus kuliah dan cumlaude pula πŸ˜› Belum lagi ada dua anak kecil yang harus diurus πŸ˜€ Sama sekali gak sempet belajar, sampe rumah, niatnya belajar, malah ngerjain kerjaan rumah atau langsung tepar πŸ˜›

Jadi, I’m kidding youΒ  not, waktu memutuskan mau ikut itu, aku banyak sekali berfikir kalau aku cuma akan datang sebagai penggembira πŸ˜›

Tapi, sedikit semangat tiba-tiba menyeruak. Ibu, waktu aku isengΒ  bilang mau gak ke Jakarta supaya aku bisa belajar, langsung menyanggupi. Ya masak aku beneran datang ujian tanpa usaha sama sekali? Lah ini ibuku jauh-jauh dateng loh dari Palembang ;’)

Jadi aku pasrahkan saja hari-hari berlalu. Kalo ada waktu luang di kantor, malah milih ngedit album yang vouchernya expire 1 Desember πŸ˜› Sempet sekali memaksakan baca sekilas karena ada try out dari kantor. Hasilnya? Malu-maluin banget πŸ˜› Bertekad akan mulai belajar saat ibu sudah datang ke Jakarta. Sekitar 1 minggu sebelum ujian πŸ™‚

Tapi apakah bener bisa belajar? Hahahahahaha *ketawanya miris ini πŸ˜› Yang bener-bener bisa baca cuma pas perjalanan pulang pergi kantor. Kami memilih tetep naik mobil supaya aku bisa baca, dan masku bisa denger aku baca apa πŸ˜› Seringnya ya cuma persamaan dan lawan kata di buku TPA pinjeman dari Yoga πŸ˜› Itu juga harus disyukuri, karena aku sebenernya selalu mual kalo baca di perjalanan :))

Iya, ada tatap muka di kelas belum tentu efektif buat banyak sekali orang. Tapi buat aku, lumayan banget 5 hari tanpa dibebani dengan kerjaan yang terus bertambah. Apalagi waktu itu, di subbagian aku yang harusnya punya 4 personil, tertinggal 2 orang saja. Di kantor, sama sekali gak bisa meluangkan waktu buat baca 1 – 2 halaman saja. Sampe rumah, anak-anak mau main. Hahaha…*ketawa hampaΒ  *lirik 200 halaman :))

Jadi, kami memutuskan untuk gak masuk di hari Jumat terakhir sebelum ujian Seninnya. Berniat dengan sangat mau belajar. Ya walau ternyata tetep aja gak bisa sepenuhnya belajar (bahkan sempet kedistract beresin baju-baju buat keluar dari lemari :P), setidaknya jauh lebih banyak daripada kalo maksain belajar di kantor πŸ˜›

Jumat itu, pengumuman kalo lokasi aku sama Masku beda. Huwaaaaa..drama part 1 πŸ˜›

Hari Minggu, ada dua orang yang berusaha belajar sebisa mereka di rumah. Maaf ya anak-anak kalian jadi sering dicuekin πŸ˜› Niatnya gak sampe begadang, apa daya masih 3 modul belum selesai. Jadi malem itu, aku baru tidur jam 1/2 4 pagi dengan hidung meler karena begadang, dan pesen sama Ibu minta bangunin satu jam setelahnya karena harus berangkat pagi karena kami mau naik kereta. Yes, masku turun duluan di Pondok Ranji, lalu aku di Kemayoran sambung ojeg aja πŸ˜€

Jam 7 kurang banyak, aku sudah masuk ke aula. Sendirian πŸ˜› Sambil sentrap-sentrup, masih bolik-balik satu modul yang belum tersentuh sama sekali. Begitulah akibatnya kalo mau menghapal detail 200 halaman πŸ˜›

Ujian dimulai. Ternyata TPAnya ada sistem minus. Dan ternyata susaaaaah bangeeeet kosakatanya! Di wacananya juga kok ya banyak angka pula. Ah, gpp, masih bisa berusaha di hitungan. Loh loh ini harusnya bisa dihitung. Tapi kok waktunya mepet banget gini. Keluar ruangan, kepala berdenyut! Pengen nangis, karena inget Ibu udah jauh-jauh dateng dari Palembang, kok anaknya gak maksimal berusaha πŸ™

But, the show must go on. Lanjut ke materi 5 modul itu. Udah siap-siap susah soalnya waktu UPKP dulu soalnya detail sekali. Dan jreeeeng, 60 soal saja buat modul 200 halaman itu. Pengen nangis lagi, kok begini amaaat. Ada satu materi yang aku inget itu ada di halaman paling depan. Berpuluh halaman di belakang yang sudah diusahakan banget dihapal (sampe ada diagram segala!), blas, tertiup bagai butiran debu πŸ™ Oh iya, 30 menit saja, ruangan langsung riuh, udah gak sabar mau cepet keluar semua πŸ˜›

Hari itu, begitu ketemu Masku, aku langsung minta diajak makan bakso! Makin pening. Sampe rumah, pengen langsung tidur. Tapi anak-anak ngajak main. Hihi…

Hari kedua, Psikotes. Standar kepercayaan diri udah semakin merosot pas kenalan sama sebelah aku. Beberapa tahun lebih muda daripada aku πŸ™‚ Well, makin bikin semangat merosot, pas denger balikan kertasnya sementara aku baru ngerjain 2/3 halaman. Hahaha..ya sudahlah, nothing to lose. Do what I can do. As best as I can πŸ˜€

Yang penting sudah berusaha! Lah wong aku udah seneng banget ituuu pas liat Masku naik di gerbong yang sama waktu pulang ujian, padahal gak janjian! *cetek πŸ˜›

Let Allah do the rest πŸ™‚

Satu bulan, belum ada pengumuman. Ya sudahlah πŸ™‚

Rabu, 14 Januari 2015, sekitar jam 1/2 11 malem, “Ky, Kiky lulus nih UPKP”

tapi sayang Masku belum πŸ™

Terdiam, browsing di webnya, gak salah ternyata, dan tau-tau mata berkaca-kaca. Ya Allah, terima kasiiiiiiih πŸ™‚

I still can remember clearly what I felt when I wrote this posting. Allah menjawabnya 1,5 tahun kemudian. Aku seneng bangeeeeeeeeeet lulus UPKP. Tapi aku lebih seneng karena merasakan perbedaan cara aku menyikapinya. Bukan Kiky yang merasa kalo memang dia pintar dan wajar banget kalo lulus. Tapi Kiky, yang jadi lebih percaya kekuatan besar doa suami, orangtua dan saudara-saudara. Kiky, yang sampe bisa nangis karena merasa kelulusan ini, menjadi salah satu yang terpilih dari sekitar 7 persen saja yang lulus ini, adalah rejeki yang sangat besar dari Allah. Rejeki yang harus dipertanggungjawabkan kelak. Ini adalah kelulusan pertama yang bikin aku sampe berkaca-kaca πŸ™‚

Ah, 2005 ke sini. Setelah 2 kali harus berjuang. 9,5 tahun kemudian baru bisa pindah pangkatnya ;’)

Ya Allah, terima kasih, terima kasih, terima kasih. Terima kasih sudah membantu aku belajar, menggerakan tanganku memilih yang benar. Terima kasih untuk pemikiran dan emosiku yang berkembang ini. Bantu aku ya supaya bisa mempertanggungjawakan kelulusan ini πŸ™‚

Semoga abis ini, ujian ini reguler ada, dan semoga Masku bisa segera lulus juga. Amiiiin :’) Tapi dipikir-pikir, emang bedanya apa, lah mau lulus gak lulus, aku kan tetep cita-citanya mau jadi istri sholehah yang nurut sama suaminya kan? *kecup Masku :* *tapi sekali lagi ada ujian, gadgetnya aku sembunyiin dulu sambil sodorin hasil TPA dan psikotest kami dulu yang nilai dia semuanya lebih gede daripada aku πŸ™‚

Cerita(nya masih) Tahun 2014 – Oktober

Ini sudah Januari 2015 ya? Hari ke-8 pula. Tapi saya tetep keukeuh mau nulis tentang 2014 yang baru sampe Oktober itu! Hahaha…

Pulang dari mudik ke Palembang ini, sisa 1/3 bulan lagi sampe Oktober selesai. Aku mau nulis hal-hal yang mau aku ingat aja koook πŸ™‚

*20 Oktober, walo sekantor sama pak Suami, diajakin makan siang bareng itu adalah suatu kemewahan! Hahaha… *gelendotan sama Masku πŸ˜›

20141020-24_OLK.com

*24 Oktober, akhirnya (di)beliin hape baru sama Pak Suami. Setelah beberapa minggu gak ada hape (yang entah keselip, ketinggalan, atau emang diambil orang itu), aku punya hape lagiiii! Alhamdulillah, tapiiii, kontak-kontaknya manaaa? Huhu…

*Ada suatu hari, anak-anak jalan-jalan ke Lapangan Banteng sama teman-teman dan bu guru πŸ™‚

*26 Oktober, Chaca maiiiin ke rumaaaah! :* Pagi bangeeeet yaa, aku belum mandi, udah ada yang Assalamualaikum πŸ˜›

20141026_OLK.com1

20141026_OLK.com

20141026_OLK.com3Makasiiih Bude buat kaos-kaos kece kamiii :*

20141026_OLK.com2

Terus kami dikerjain sama Renny! Diajakin ikut kondangan ke syukuran 4 bulanan temennya πŸ˜› Padahal niatnya cuma nganter soalnya kayaknya kompleknya deket. Suamiku pake celana pendek itu! Aku pake sendal jepit :)) Yaaa, itung-itung nambah kenalan lah yaaa πŸ˜€ Abis ke situ, balik lagi ke rumah buat sholat magrib, dan Kirana nangis mau ikut Chaca πŸ˜› Nungguin loh taksinya balik padahal di luar hujan πŸ˜›

Terima kasih sudah dataaaaang, kalian :*

*Carseat dicuci, ada yang kesenengan gak pake carseat yaaa πŸ˜›

20141027_kitikkitikEntahlah, dua anak ini seneeeeeeeeeeng banget dikitik-kitik *lirikan tajam ke Pak Suami -_-

*30 Oktober, alhamdulillah masih bisa ngerasain nginep di hotel :))

20141030_welfieee

*31 Oktober, akhir bulan ditutup dengan susah nyari parkir karena sudah dibangun panggung buat persiapan hari Oeang πŸ˜€ Jadi deh, anak-anak yang hari itu pake baju muslim/ah harus jalan dari kantor ke TPA. DRess codenya baju putih. Untuuuung aja ada baju oleh-oleh dari kakek nenek waktu pulang dari Mekah πŸ™‚ Lupaaaa banget kenapa, anak-anak jadi bete. Kirana jadi mahal senyumnya. Padahal kan mau pawai tahun baru Muharram πŸ˜› Ah, another carnaval πŸ™‚

20141131_PawaiMuharram

My kids are growing soooo fast! ;’)

20141131_PawaiMuharram-20141131_PawaiMuharram--Pas udah gabungin foto di atas, baru liat ada editan ini duluan :)) Ya udah, pajang dua-duanya gpp yaaa πŸ˜›

Pas nyadar, eeeeh, aku sendirian ibu-ibu yang ngintiiil! Hahaha…perasaan pas pawai terakhir itu rameee yaaa yang ngintil πŸ˜›

Β  Next, November! πŸ˜€

Tentang kenangan

Pernah gak, tiba-tiba teringat kenangan masa lalu yang konyol terus rasanya ampe mual karena gak rela dan terus menolak bahwa itu pernah terjadi? Ada beberapa pengalaman konyol yang selalu terngiang di kepala, dan entahlah, makin dilupakan makin dia mengakar kuat di otak πŸ˜›

Salah satu yang tak terlupakan adalah saat pertama punya Pulsar 200, yang sekarang mati suri gara-gara gak kebelai lagi. Saat itu di pertigaan lampu merah kenari, posisi mau berangkat kantor. Pas lampu merah menyala, disamping gw ada pengendara pulsar juga, warna biru. Dan apa yang terjadi sodarah? Gw salamin tuh bro-bro yang gw baru liat disitu, dong… dan udah gitu aja, lampu hijau terus jalan. Mungkin karena waktu itu gw terbawa suasana motor baru, terus katanya para pengendara pulsar itu friendly banget, dan kayaknya bro itu heran juga, siapa yang nyalamin gw? Haha..

Bantu Ayah Nyuci Mobil

Pekerjaan apa yang paling mengasyikan sekaligus menggemaskan? Pekerjaan itu adalah pekerjaan apa saja yang tiba-tiba mereka nongol, my little “monsters” πŸ˜› Tiap lagi ngerjain sesuatu mereka akan bertanya : “Ayah lagi ngapain?”, “Ayah itu apa?”, “Ayah kok digituin?”, dan rentetan pertanyaan menggemaskan selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya yang tidak akan ada habisnya (hiperbola bingit :P).

Pagi ini Ayah memutuskan buat nyuci mobil di rumah, berhubung musim hujan ehm.. ehm.. berat rasanya ngebayangin pulang dari tempat cucian mobil terus mendung atau klo lagi sial banget ujan di tengah jalan sebelum nyampe rumah. Kalau kotor pas pergi kan ya sudahlah ya πŸ˜€ Lalu datanglah anak-anak ganteng dan cantik.

Awalnya sih cuma nanya “Ayah lagi ngapain?”, lalu berlanjut senggol-senggol air di bak, eh jongkok.. terus ambil gayung.. nyalain keran pula.. terus basaaaaah.. terus kalo dibilangin “Iya, gak papa, nanti dicuci” Adek tuh yang suka bilang πŸ˜› Lalu alasan alasan dan alasan yang akan membuat mereka tetap ditempat lalu dikuasainya area tersebut menjadi area permainan, dan di foto inilah sebagian adegan itu terekam.. Haaaaaah.. yang penting lo pada seneng daaaah πŸ˜€