The Best Who Knows You is You

“Perhatikan jalur dua masuk kereta Commuter Line tujuan Tanah Abang”

Suara di pengeras suara itu kian terasa akrab di telinga kami : saya, istri, dan anak laki-laki, sebuah keluarga kecil yang setiap hari mengandalkan moda transportasi Kereta Listrik (KRL).KRL menjadi andalan utama kami untuk pergi menuju tempat kerja. Naik dari stasiun Rawabuntu lalu turun di stasiun Tanah Abang. Setiap hari kerja di pagi buta, kami sudah berangkat menuju stasiun untuk berangkat ke kantor. Udara pagi yang dingin nan sejuk, segar terasa di paru-paru. Hal yang sangat berbeda setelah sampai di Jakarta.

Berangkat lebih pagi adalah sebuah pilihan. Pilihan agar istriku bisa mendapatkan tempat duduk tanpa harus mengharap belas kasih para penumpang KRL yang sudah duluan duduk. Berangkat lebih pagi dari jam sibuk memang membutuhkan tenaga ekstra karena dengan jam pulang yang kadang sudah terlalu malam sampai di rumah membuat waktu tidur kurang dari seharusnya. Apalagi waktu baru pertama kali pindah rumah baru, mata rasanya berat, perut juga panas karena kurang tidur ditambah bakat maag yang menemani sedari SMA.

Naik KRL di pagi buta itu menyenangkan. Nyaman. Dingin. Gak kena macet. Bisa minum jamu ekstrak kunyit untuk mendinginkan perut sembari menunggu KRL datang. Naik KRL menyenangkan karena di salah satu gerbong itu keluarga kecil kami senantiasa pergi pulang kerja bersama. Akhtar, anak laki-laki pertama kami dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA) yang ada di komplek perkantoran. Senang rasanya bisa selalu bersama. Pernah suatu waktu saat Akhtar sakit dan istriku cuti untuk merawatnya, berangkat sendiri adalah hal yang aneh setelah biasanya pergi pulang bersama mereka. Kami pun belum yakin untuk mencarikan pengasuh untuk Akhtar lalu ditinggal dirumah karena banyaknya kisah cerita yang tidak baik berhubungan dengan para pengasuh anak. Memang tidak semua, tetapi mencari pengasuh yang baik dan benar adalah hal khusus yang harus melalui tahapan yang panjang bagi kami. Mungkin nanti, kalau sudah besar, supaya bila terjadi suatu hal yang tidak baik Akhtar sudah bisa mengadu.

Mungkin sebuah hal yang lumrah saat memiliki anak lalu menitipkan sang anak kepada pengasuh. Tanpa bermaksud menghakimi tapi menurut saya itu adalah sebuah bentuk pelarian dari tanggung jawab jikalau orang tua benar-benar lepas tangan mengenai pengasuhan anak. Sudah seharusnya kita sebagai orang tua mendidik, merawat langsung anak-anak kita. Menjalani hal yang masih asing di mata dan telinga orang-orang sekitar, tak sedikit yang mencibir. Tak sedikit yang berkomentar. Tapi begitulah orang-orang itu. Berkomentar untuk menjatuhkan, bukan komentar yang membangun. Tidak semua, karena beberapa orang yang menurut saya well educated memberikan dukungan moral atas usaha kami. Terima kasih.

Kami tinggal di pinggir kota Jakarta, sebuah wilayah yang masuk Kabupaten yang baru saja memilih Bupati pertamanya, Tangerang Selatan. Kota ini cocok untuk kami, sedari pertama kami melihat perumahan yang saat ini telah ditempati 1 tahun lebih. Mulai dari suasana jalanan sampai tempat-tempat nongkrong yang tak kalah meriah dan gemerlap dibanding kota Jakarta, tempat kami memulai kehidupan selepas sekolah. Aku dan istriku sama-sama lulusan sekolah kedinasan dan mendapatkan jatah penempatan pertama kali di Jakarta, di sebuah kantor di komplek lapangan banteng tempat kami pertama kali berkenalan.

“Jauh ya..?”

Kalimat tanya pendek yang lagi-lagi menjatuhkan dan berusaha mematahkan perjuangan kami.

“Kasian, pasti capek tuh anaknya”

Lagi-lagi tak ada komentar ataupun basa-basi busuk yang lebih cerdas dari orang-orang ini. Wake up guys!

Senyum adalah jawaban terpendek yang paling aman daripada mengeluarkan sejuta alasan yang gak akan sampai ke otak mereka.

Sabar dan konsisten adalah hal terbaik yang harus dilakukan karena orang yang terbaik mengetahui kebutuhan kita adalah diri kita sendiri.

 

PS : udah diedit ya? Maaf kalo kemarin pilihan kata saya salah 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *