MRT Jakarta dan Kemacetan Jakarta

Eaaa.. kira-kira klo banjir gimana ya? Yang pasti membutuhkan teknologi yang tinggi untuk daerah banjir seperti kota Jakarta ini. Well.. sebagai warga kelas bawah saya hanya bisa melihat  dan berkomentar saja. Bagaimana mekanisme dan segala risiko pasti sudah dipertimbangkan oleh yang berwenang dengan baik. Seharusnya.

Walaupun begitu saya sangat berharap bahwa proyek MRT ini ataupun suatu saat nanti proyek monorail Jakarta dilanjutkan kembali, hal ini akan sangat mengurangi kemacetan di Jakarta seperti sekarang ini yang sedang dalam kondisi parah.

Beberapa bulan yang lalu pun kondisi jalanan masih tak separah sekarang. Sekarang mah buset dah.. dari Gunung Sahari ke Johar Baru saja butuh waktu hampir 1 jam. Padahal tinggal lurus dan dalam kondisi lengang saja bisa di akses dalam 10 menit – gas pol tentunya.. hehe.. 😛

Indonesia itu unique. Menurut saya negara kita tidak bisa disamakan dengan Singapura atau negara lain yang sering disamakan oleh orang-orang yang menuntut pengurangan kemacetan. Indonesia adalah negara yang besar dengan rakyat yang banyak. Negara yang luas namun memiliki infrastruktur jalanan yang tak seluas tanahnya. Standar luas jalanan harusnya minimal 2x lipat 1 jalur jalanan yang ada sekarang. Dulu, waktu rakyat Indonesia belum pada mampu beli kendaraan bermotor otomatis jalanan akan lengang dan orang-orang berduit yang bisa beli kendaraan bermotor, baik mobil ataupun motor akan leluasa menggunakan jalanan. Namun keadaan sekarang sudah membaik. Banyak rakyat kecil yang sudah bisa membeli sepeda motor. Namun saat mereka sudah mampu beli dan rakyat kecil segebitu banyaknya hanya baru mampu beli motor maka jalanan pun penuh sesak dengan motor dan ujung-ujungnya dibatasi karena dianggap mengacaukan jalan. Padahal jalanan juga milik rakyat. Mereka berhak menikmati fasilitas negara yang tidak hanya diperuntukkan bagi para orang berduit yang bisa bawa mobil mewah. Suatu hari nanti saat rakyat Indonesia sudah mampu membeli mobil semua, saya yakin jalanan akan bersih dari motor dengan sendirinya karena beralih menggunakan mobil. Dan saat itu jalanan akan benar-benar mampet jika infrastruktur jalan masih seperti sekarang. Macet, semrawut, lampu lalu lintas mati, pengendara ugal-ugalan, sanksi pelanggaran lalu lintas yang tak tegas dan bisa damai, semua bisa ditemui di jalanan Jakarta.

Sebagai sesama pengguna jalananan, saya mencoba untuk tak selalu menyalahkan pengendara motor yang ugal-ugalan, naik trotoar, berhenti di depan garis penyeberangan pejalan kaki. Karakter seperti itu terbentuk akibat situasi dan kondisi jalanan, saya percaya bahwa bukan sepenuhnya salah mereka. Bagaimana mau tahu peraturan kalau pendidikan saat memperoleh SIM (Surat Ijin Mengemudi) saja tidak didapat karena bisa ‘nembak’. Bagaimana mereka mau mengerti peraturan kalau ijin mereka menaiki kendaraan mereka pun mereka peroleh secara instan tanpa dibekali hal-hal peraturan yang harus mereka mengerti. Mereka memang wajib mencari tahu tentang hukum peraturan dan semua orang dianggap tahu hukum oleh hukum tapi tak semua orang peduli dengan hal-hal seperti itu. Mereka hanya tahu yang penting mereka bisa mengendarai kendaran mereka tanpa harus ditilang sama pak Polisi. Untuk itulah mereka harus punya SIM.

Semuanya berawal dari pendidikan. Saya setuju, karena pemikiran orang yang berpendidikan akan lebih masuk akal dibanding mereka yang tak berpendidikan. Mindset mereka akan lebih menghargai peraturan. Majukan pendidikan bagi rakyat Indonesia dan semua hal akan membaik seiring pendidikan layak yang rakyat bisa peroleh.

Maju terus Indonesiaku…

*Tulisan yang tertuang dari pikiran setelah motor yang ku kendarai bersama istriku yang sedang hamil diserempet oleh pengendara yang ugal-ugalan di jalanan Jakarta yang semrawut. Thanks God, they’re OK..{jcomments on}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *