Selamat Jalan, Om

Hari Selasa dua minggu lalu, Ibu nelpon di jam kantor. Hal yang biasa walo jarang sekali. Ibu ngabarin kalo Om Nono, suami dari Cek Era (well, harusnya aku manggil Makcik Era sih, tapi udah kadung kebiasaan dari kecil :P), masuk ICU di Cirebon sana. Aku, si ratu tega ini, tiba-tiba gak bisa menahan air mata supaya gak memenuhi mata

Ibu itu 8 bersaudara. 5 laki-laki dan 3 perempuan. Ibu menikah di taun 1986, lalu adik terdekatnya baru menikah di sekitar tahun 1993, sementara aku lahir di tahun 1987. Setelah menikah, ayah ibu memilih ngontrak di dekat rumah Yai dan Mbah (orang tua Ibu). Jadi, sepanjang ingatanku, aku tumbuh besar dengan banyak sekali kenangan bersama muka-muka pakcik dan makcikku ini. Lalu kami tumbuh bersama-sama. Aku mulai merasakan yang namanya ditinggal pergi. Satu-satu pakcik pergi merantau kerja dan kuliah. Satu-satu makcik pergi merantau dan menikah. Dan akhirnya, aku sendiri yang mengalami merantau dan menikah.

Saat ibu ngasih kabar itu, aku langsung kebayang muka Cek Era, saat terakhir kami ketemu. She looks much older than she should be. Is that hard your life is? πŸ™

Langsung ingatan mundur belasan tahun ke belakang. Pada suatu masa, kami pernah sekitar 2 tahun tinggal di rumah mbah, sebelum kami pindah ke rumah yang sekarang. Karena kamar yang terbatas, aku sama Nia jadi tidur sekamar sama Cek Era. Kamar yang panaaaas sekali karena di atasnya cuma dak yang dibeton buat jemur pakaian. Kamar yang dicat dengan bentuk-bentuk asimetris dengan banyak warna dan banyak sekali bantal beraneka bentuk dari bahan yang berbeda, tentu saja hasil karya Cek Era πŸ˜› Kamar yang di dalamnya, aku pernah ngerasain sakitnya sesak nafas berat sampai-sampai minta suntik sama dokter! Haa! Kamar yang di dalamnya, banyak β€˜ramuan’ hasil racikan Cek Era. Yang itu buat rambut, yang itu buat muka. Lalala. Oh, waktu kecil katanya rambut aku sedikiiit banget, dan Cek Era setiap hari membalurkan β€˜ramuan’nya di kepala aku πŸ™‚

Aku agak-agak lupa, waktu itu sebelum atau sesudah Cek Era disuruh pulang sama Mbah dari kerja di Aceh karena waktu itu marak tentang GAM. Cek Era pulang dengan banyak sekali kardus yang berisi banyak sekali baju dan kaset. Baju-baju yang dibagikan, dan aku memilih beberapa, dan aku pakai dengan bangganya. Hahaha, entah ya dulu itu keliatannya gimana, ABG yang pake baju bekas tantenya kerja πŸ˜› Cek Era, yang bikin iri. Kerja di kantor keren. Badannya putih bersih dan mulus sekali. Haha, minder banget si anak SMP yang kulitnya terbakar sengatan matahari karena pulang pergi jalan cukup jauh dari sekolah ke jalan besar buat nunggu angkot buat ke rumah. Mungkin tanda iri terbaca sama Cek Era, jadi hampir tiap minggu, kami akan luluran bareng pake β€˜ramuan’ bikinannya πŸ˜› Hatiku hangat sekali mengingat ini πŸ™‚

Lalu kami pindah ke rumah baru. Di malam pertama kami di rumah baru, Cek Era ikut nemenin aku sama Nia tidur di kamar atas, yang waktu itu cuma pake genteng, dan pas hujan, jadi ada serpihan air yang masuk ke kamar :’) Lalu, Cek Era merantau lagi ke Pulau Jawa. Gak lama, ketemu jodoh πŸ™‚ Lalu Cek Era menetap di Indramayu πŸ™‚ Alhamdulillah, gak lama, Cek Era hamil, dan Ari lahir πŸ™‚

Tahun 2004, pertama kalinya aku ke Pulau Jawa demi mengucap salam perpisahan sama Unpad. Pertama kalinya juga, kami ke Indramayu. Dari situ, kami dianter ke Bandung lewat Tangkuban Perahu. Beberapa bulan kemudian, Cek Era pulang ke Palembang mudik lebaran. Beberapa waktu kemudian, kami dapet kabar adek tersayang kami, Ari, yang waktu itu sekitar 1,5tahun meninggal, di pelukan Cek Era karena sesak. Perih. Kehilangan kedua terbesar yang aku rasakan (Yang pertama, waktu Yai meninggal saat aku kelas 1 SMA). Aku masih ingat, aku menangis di tengah ujian mid semester, aku menangis kalo liat foto Ari yang memang aku pajang di mading di kamar waktu kami sama-sama di Bandung, bahkan aku menangis di bis kota di perjalanan pulang dari kampus ke rumah. Oh, andai waktu itu aku tau, kalo Ari akan menunggu Ayah Ibunya di surga nanti πŸ™‚ Allah Maha Baik, setelah itu, Cek Era dikarunia 2 anak perempuan lagi πŸ™‚

Lalu aku pun merantau ke Jakarta. Lalu menikah, dan baru ngerasain yang namanya gak selalu pulang buat berkumpul bersama keluarga waktu lebaran πŸ™‚ Tapi alhamdulillah, walau jarang ketemu, jarang juga telpon-telponan, saat ketemu, langsung klik. Bahkan anak-anak juga begitu ke tante-tante kecilnya. Keluarga πŸ™‚ Beberapa kali, kami ketemu di Palembang. 1-2 kali, kami ketemu di rumah Serpong cuma buat beberapa jam saja, karena Om Nono ditunggu kerjaannya. Dan pernah 1 kali lagi kami ke Indramayu ini.

Makanya waktu Ibu nelpon ngabarin Om Nono masuk rumah sakit beberapa bulan sebelum ini, aku bingung. Iya, aku memang canggung kalo ketemu. Iya, kami jarang ketemu. Tapi di sepanjang ingatanku, he’s just fine. Dia adalah sosok Om yang sayang sekali sama Cek Era. Nyetir dari Indramayu non stop sampe ke Palembang cuma buat nganterin anak istri liburan lama di sana, untuk kemudian balik lagi ke Indamayu setelah cuma istirahat beberapa jam. Kalo bukan sayang, apa itu namanya? Om yang sekuat itu loh. Lah kenapa kok sehat-sehat tau-tau ngedrop? Lah kok malah ini masuk ICU? Cek Era gimana? Dia sendiri di sana πŸ™

Yada yada yada, Sabtu lalu, satu Pakcik dari Palembang, Mbah yang berangkat dari Batam, Ayah yang ada tugas ke Parung, dan kami sekeluarga, pergi ke Cirebon. Sudah, gak usah pikirin, saldo di tabungan yang udah hampir kosong di akhir bulan itu πŸ˜›

Sekitar 7 jam karena muatannya banyak dan emang jalannya santai, kami akhirnya sampe RSUD Gunung Jati. Disambut Cek Era yang tampak tegar dan dua anak kecil yang kok udah makin tinggi. Alhamdulillah sudah keluar ICU, sudah dirawat di ruang biasa. Dan betapa aku kaget liat kondisi Om Nono. Itu pun katanya, hari itu jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Begitu jauh dari ingatan terakhir aku saat terakhir kami ke Indramayu. Mana rambut gondrongnya? Kenapa badannya bengkak? Kenapa nafasnya tampak berat? Kenapa kenapa kenapa? But, I hide my tears. Aku peluk erat Cek Era. Aku peluk erat Balqis dan Aliyah. Pengen banget nyemangatin Om Nono, tapi aku gak bisa berkata-kata, selain ngintil di belakang ayah. Malam itu juga, kami dan ayah harus pulang, karena ayah sudah punya tiket pulang ke Palembang jam 9 pagi besoknya. And for that, I thank my husband so much. Makasih Mamas nyetir PP Cirebon satu hari itu buat jenguk keluarga :’)

Semingguan itu, doa kami sama. Berikanlah yang terbaik ya Allah. Apapun itu.

Jam 5 tadi, pas anak-anak sudah sama aku sementara Masku masih ada kerjaan, aku cek hape. Ada missed calls dari ayah, dari pakcik opek, banyak tanda pesan yang belum aku buka. DEG. Ada apa ini?

Innalillahi wainnalillahi rojiun. Om Nono sudah dipanggil oleh Allah SWT.

Aku kasih tau anak-anak dan ngajakin mereka berdoa. Dan ternyata gak kuat ya gak nangis.

Terbayang muka Om Nono waktu kami besuk dan pamit. Terbayang muka Cek Era. Terbayang muka Balqis dan Aliyah. Nanti kalo sedih, Cek Era meluk siapa? Balqis baru kelas 4. Aliyah baru kelas 2, masih kecil-kecil. Dan tumpahlah tangis itu.

Tapi siapalah kami mau mengubah takdir? Allah berkehendak, maka jadilah.

Selamat jalan Om Nono. Selamat jalan Om yang nyetirnya keren banget, sampe buat muter di jalan sempit aja, cuma perlu sekali usaha. Selamat jalan Om yang nyetir PP Indramayu cuma buat nganterin Cek Era sama anak-anak ke Serpong supaya bisa ketemu sama Ibu, sama kami. Selamat jalan Om pekerja keras yang banting tulang untuk keluarga. Semoga setiap peluh keringatmu, lelah di badanmu, menjadi pahala untukmu. Semoga Allah berkenan menerima segala perbuatan baikmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan memasukkanmu ke golongan orang yang pantas masuk ke surga.

Lalu semoga Cek Era semakin kuat, sabar, dan tabah menjalani takdir Allah ini. Allah gak tidur, Cek Era. Cek Era itu sosok yang sangat kuat, meski kelihatan kalau kehidupan di Indramayu sana penuh dengan perjuangan (berat), gak pernah sekali pun, aku dengar Cek Era mengeluh. Keluarga juga gak akan membiarkan Cek Era sendirian membesarkan Balqis dan Aliyah supaya jadi anak sholehah, yang doa-doanya adalah amalan yang tak terputus untuk orang tuanya.

2 di antara hak muslim/muslimah adalah menjenguk saat sakit dan menguburkan saat meninggal. Mungkin supaya jadi pengingat kepada kita, bahwa sehat itu nikmat, ajal bisa datang kapan saja. Semoga jadi pemacu untuk berusaha menjadi pribadi yang terus berusaha mendekatkan diri pada Allah. Amin ya robbal allamin.

Β P.S : Aku nulis ini di tengah malam tadi. Cuma merasa harus nulis hal-hal yang berseliweran di kepala supaya pikiran liar dan perih hati karena orang yang begitu dekat dengan aku sejak kecil ini diberi cobaan begitu besar sama Allah. So lame, but I woke up in the morning with the new spirit. Bertambah alasan supaya berjuang untuk hidup yang lebih baik supaya kami bisa membantu saudara kami. Ya Allah, bantulah kami ya πŸ™‚

One thought on “Selamat Jalan, Om”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *