Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Udah keliyengan baca materinya? Hihi, tenang, ini copy paste terakhir sejak terpaksa libur ngeblog 😛

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Oleh : Ustadzah Poppy Yuditya

 Di dalam suatu keluarga, yang wajib mencari nafkah adalah suami. Nafkah suami diberikan pada orang yang menjadi tanggungannya, ibunya, ayahnya, saudarinya, saudaranya, dan seterusnya. Jika istri juga mencari nafkah, maka akan terdapat dua pintu rejeki. Walau begitu, pintu yang dibuka hanya satu saja, yaitu suami. Walau yang dikeluarkan adalah dari istri, tetap melalui suami (bisa melalui izin). Hal itu bisa menumbuhkan dan meningkatkan qowammah suami.

 Jika suami dan istri telah mengerti peran masing-masing dan memiliki pola pemahaman yang sama, maka hubungan dengan mertua, ipar, dan keluarga besar sudah pasti akan baik. Sayangnya, karena suami istri belum mengerti secara baik peran masing-masing, banyak masalah bermunculan. Tidak cocok dengan ibu mertua, pilihan berbeda, sampai perahu pernikahan terancam karam. Sangat ironis jika perahu itu benar-benar karam bukan karena pasangan suami istri dan anak (ring 1) saja, namun karena hubungan dengan keluarga yang masih mahram (ring 2), apalagi karena keluarga yang bukan mahram (ring 3). Maka benahilah dulu ring 1, baru ke ring berikutnya. Bagaimana ring 2 dan 3 bisa baik, jika ring 1 saja masih berantakan? Jangan mengorbankan ring 1 untuk ring 2 apalagi ring 3.

 Kita harus yakin bahwa tujuan syariat itu pasti memudahkan, bukan menyusahkan. Salah satu contohnya, saat Islam mengharuskan istri keluar rumah harus dengan izin suami. Jangan dipikir bahwa itu menyusahkan istri, bahkan keluar mencari kerupuk saja harus izin suami. Jangan terlalu memikirkan susahnya tanpa dijalankan dahulu. Karena saat dijalankan, istri belum tentu akan susah. Yakinlah pada perintah Allah.

 Seperti diriwayatkan H.R. Tarmidzi, Rasulullah SAW bersabda orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrinya. Maka seorang suami yang baik akan senantiasa berbuat baik pada istrinya, termasuk memberi nafkah yang layak.

 Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim : dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya. Jadi, saat memang bisa membantu keluarga yang lain, maka bantulah. Niscaya Allah akan menggantikan keikhlasan kita akan digantikan Allah dengan pahala yang sangat besar.

 Kita juga harus sangat memperhatikan tentang bahayanya ipar masuk ke dalam rumah. Bahkan di dalam HR Bukhori dan Muslim, saat seorang Ansar bertanya pada Rasulullah bagaimana pendapatnya tentang saudara lelaki suami, Rasulullah menjawab Saudara lelaki suami adalah kematian. Mari belajar lagi tentang mahram lalu berlakulah sesuai ketentuan Allah. Jangan hanya karena malu, segan, maka ketentuan itu dilanggar. Contohnya : Berboncengan dengan ipar laki-laki. Jika tidak mau dengan alasan menjaga hubungan dengan mahram, mungkin akan dicap berlebihan oleh masyarakat. Tapi tidak apa-apa, kita sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu ridho Allah.

 Namun jangan terlalu kaku, di luar yang sudah ditentukan Allah tentang halal dan haramnya, selalu perhatikan adab. Jika terjadi masalah dalam hubungan suami istri, maka boleh dibicarakan dengan orang saleh di sekitar. Orangtua boleh dimintai pendapat asal masuk kategori tersebut. Jika memang butuh waktu, maka berilah waktu. Jangan memaksakan menyelesaikan masalah saat masih emosi. Solusi yang ditawarkan supaya tetap kuat kokoh berdiri adalah terus bersabar. Bersabarlah, tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, atau kesedihan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan karenanya.

 Semoga hubungan kita dengan pasangan, anak-anak, orang tua, mertua, dan keluarga besar senantiasa berjalan baik. Amin ya rabbal alamin.

Banyak ya PRnyaaa? Hihii…

Pulang dari sekolah, disuruh Masku nunggu dijemput. Dijemputnya ternyata pake motor temen yang lupa kalo ternyata dia bawa helm 1. Jadi melipir dulu ke rumah temen yang lain pinjem helm. Aku ‘diculik’ nemenin mancing bareng temen-temen kantor! Padahal lagi ngambek juga 😛 Tentu saja aku bawel. Soalnya pas pergi, anak-anak belum bangun! Dan gak pamit kan mau mancing 🙁 Huhuhu…tapi kan istri sholehah harus nurut suami yaa? 🙂 Lagian gak ngerti dari situ gimana caranya pulang sendiri 😛

Selesai hampir magrib, bawa banyaaaaaaak sekali ikan patin 🙂 Makasih ya ibu jagain anak-anak seharian lagi 🙂 Ikan-ikan juga dibersihin besoknya, dimasukin ke plastik kecil-kecil isi beberapa potong 😀 Alhamdulillah 😀

4 thoughts on “Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar”

    1. ada koook. Itu Banyak PRnyaaa 🙂

      Masih ada itu di freezer kalo mau. KAmi anterin deh, tapi kamu yang masak yaaa? Gimana? 😛

    1. Looh kalo gak ada masalah apa-apa, harusnya materi ini gak ada kata ustadzahnya 😛
      Kuncinya kalo sudah tau peran masing-masing itu ndah, insya Allah gak akan ada masalah apa-apa 😀

      Bingung aku nulisnya, soalnya pas materi ini lebih byk sharing cerita 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *