Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Lompat ke satu bulan setelahnya. Hoooop! 13 Desember 2014 😀

Kali ini sekolahnya cuma berdua karena di rumah masih ada Ibu. Konyolnya aku gak baca lokasinya. Udah sampe di Kelapa Dua, ternyata pindah ke Djuanda 😛 Telat 5 menit, tapi insya Allah gak ketinggalan materi apa-apa 🙂

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Oleh : Ustad Galan

 Pendidikan dimulai dari rumah. Rumah adalah lembaga pendidikan pertama. Di dalam rumah, semua pelajaran pertama seharusnya dimulai. Seorang pemimpin keluarga akan diminta pertangungjawaban tentang keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Ikutilah jalan yang ditunjukkan dalam Alquran dan Hadis karena jalan yang ditunjukkan pasti lurus. Jadi kuat tidaknya masyarakat dapat dilihat dari kuat tidaknya rumah-rumah di dalam masyarakat tersebut.

 Jika rumah, sekolah, dan masyarakat adalah pilar utama pendidikan. Maka rumah adalah yang pertama dan yang paling kuat. Rumah adalah tempat anak-anak diterima pertama kali dalam keadaan fitrah. Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu banyak waktu di rumah dibanding di tempat lain. Orangtua bertanggungjawab pada anaknya. Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orangtua di hadapan anak-anaknya. Allah menjadikan rasa cinta untuk anak-anak di hati kedua orangtua. Keluarga adalah satu-satunya jamaah yang orang berafiliasi selama hidupnya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya rumah dalam pendidikan.

 Sayangnya, pendidikan saat ini sangat jauh dari tuntunan dalam Islam. Sekolah ‘jauh’ dari masjid. Sekolah di negara Islam mengikuti kurikulum dan manajemen di sekolah barat. Bahkan di banyak sekolah, sekolah menghancurkan apa yang diajarkan di dalam rumah.  Padahal seharusnya sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hubungan antara sekolah dan orangtua harus berjalan harmonis. Bisa dilakukan dengan kegiatan belajar bersama orangtua, pertemuan rutin orangtua dan guru, sampai tugas harian yang ditujukan guru agar anak lebih dekat kepada orangtuanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih sekolah yaitu wajib tidak menyebutkan keburukan sekolah (apalagi gurunya) di hadapan anak. Guru harus memiliki wibawa yang besar sekali untuk anak. Anak sudah mulai diajak untuk melihat bakal sekolah dan kegiatannya. Peralatan sekolah pun sudah harus disiapkan sebelum mulai tahun ajaran. Yang perlu disoroti saat ini adalah fenomena orangtua yang mengajak anaknya untuk memilih sekolahnya. Padahal anak adalah tanggung jwab orangtua. Orangtua lah yang seharusnya memutuskan, bukan anak (apalagi anak di bawah usia sekolah wajib).

Lalu, fenomena yang lain adalah memberi anak banyak sekali kursus tambahan. Lebih banyak lebih baik. Apakah itu perlu? Menurut Khalid Asy-Sayntut, seorang pakar pendidikan Islam, hal itu tidak perlu. Guru/kursus tambahan hanya untuk anak-anak yang lemah dan orangtua yang tidak mengerti. Khalid Asy-Syantut bahkan menjabarkan agenda harian anak sejak bangun sampai tidur lagi yang dibedakan dengan agenda jika anak ujian untuk dapat dijadikan pedoman sehari-hari.

Jika memiliki anak banyak, orangtua mengajarkan anak pertama, lalu anak pertama mengajarkan adiknya sambil orangtua mengontrol. Jika liburan, bukan tidur dan bermain yang diperbanyak. Terus rutin belajar adalah yang paling disarankan. Namun waktu belajar boleh dikurangi. Waktu tidur boleh diperbanyak tapi hanya sedikit. Boleh menambah waktu main, tapi sedikit juga. Akan jauh lebih baik jika ada kegiatan tambahan yang membawa manfaat. Jika mulai besar, liburan bisa digunakan untuk magang kerja.

Jadilah orangtua yang tidak hanya fokus pada nilai. Fokuslah pada usaha dan perbaikan pada jawaban yang diberikan anak-anak. Mari berusaha menjadikan rumah yang akan menghasilkan anak-anak sholeh dan sholehah yang berprestasi gemilang. Lagi-lagi, jika ingin anak yang dekat dengan fitrahnya, orangtua pun harus sekuat tenaga berusaha untuk lebih dahulu dekat dengan fitrah.

Lagi-lagi mata berkaca-kaca. Membayangkan sebuah sekolah yang sedang berusaha menanamkan kekaguman anak pada guru, namun tak lupa bahwa kekaguman pada orangtua pun tak oleh luntur :’) Sebuah sekolah yang menanamkan iman :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *