Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Satu kali terpaksa bolos ‘sekolah orang tua’ pas mudik Oktober lalu. Dapet sih modulnya, tapi aku kok belum dapet kliknya kalo cuma baca ringkasan materi dalam format powerpoint itu. Jadi ada 2 sesiย  yang belum aku share ya. Semoga ada jodoh buat nulis 2 sesi itu sebisa aku ๐Ÿ˜€

Lompat ke sesi 13 ๐Ÿ™‚ Sekolah bulan November 2014.

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Oleh : Ustadzah Nunu Karlina

ย Tema pertama, Panduan Wisata. Di dalam Alquran, perjalanan bisa diterjemahkan sebagai bepergian (terutama untuk berdagang), yang mengembara (atau menjelajahi bumi), dan yang berpuasa (karena hanya makan bekal seadanya). Wisata bisa diartikan sebagai bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya dalam rangka rekreasi, penyelidikan, atau investigasi. Tujuan wisata yang disebutkan syariat adalah perjalanan menuju ke tiga masjid, yaitu Masjid Haram, Masid Rasulullah, dan Masjid Aqsa.

Hukum berwisata pada dasarnya adalah mubah. Jika untuk ibadah haji atau berjihad, maka hukumnya menjadi wajib, karena menjadi sebuah ketaatan pada Allah SWT. Jika dilakukan dalam rangka berdakwah, mengambil pelajaran dengan jalan merenungkan tanda-tanda alam yang mereflesikan kebesaran Allah, dan untuk mengamati nasib bangsa-bangsa terdahulu termasuk apa yang menimpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka, makan berwisata menjadi dianjurkan. Jika berwisata hanya untuk kesenengan ke tempat yang di dalamnya tersebar kerusakan, hukum berwisata menjadi Makruh. Sedangkan yang menyebabkan hukumnya menjadi haram, adalah wisata yang dilakukan dengan tujuan maksiat dan menjadi mempersempit hak-hak orang lain yang ditetapkan Allah (misal, berwisata tapi menunda membayar hutang).

Selain itu, kita harus sangat memperhatikan adab berpergian. Banyak berdoa dari sejak keluar rumah, naik kendaraan, perjalanan, sampai kembali lagi ke rumah. Bukankah doa musafir adalah salah satu doa yang diijabah oleh Allah? Hapalkan juga dzikir yang disunahkan oleh Rasulullah. Alih-alih menyanyi “naik-naik ke puncak gunung”, lebih baik jika bertakbir. Seperti dalam hadits,

Etika bepergian pun harus selalu dijaga, seperti berniat mencari ridho Allah, membawa perbekalan rukhiyah dan materi, dan berakhlak baik selama perjalanan. Sebaiknya ditunjuk pemimpin, yaitu ayah. Kenakan pakaian yang menutup aurat.

Aktivitas di perjalanan pun harus tetap berpegang pada syariah. Tidak menunda waktu sholat. Wisata kuliner tentu saja diperbolehkan, namun harus tetap memperhatikan halal dan haramnya. Tahan lah diri untuk selalu memakan makanan yang halal. Jika di tempat wisata, ada permainan yang berbahaya, silahkan dihitung manfaat dan mudharatnya.

Tema kedua, Bermain Keluarga Muslim. Di dalam Alquran, kata main diartikan sebagai lalai dan perkataan yang sia-sia. Makna yang negatif. Di zaman Nabi, banyak anak kecil yang saat mereka besar menjadi orang yang mulia. Seperti apakah mereka bermain?

Dunia anak-anak identik dengan permainan. Bukan tidak boleh, diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Aisyah ra. biasa bermain-main boneka perempuan saat Rasulullah datang ke rumahnya pada waktu beliau kecil. Sebagai orangtua, bukan mainan mahal yang diperlukan anak, tapi interaksi per hari yang harus selalu dijaga.

Jangan biarkan anak lalai karena bermain. Ajari anak mengenal waktu bermain. Sebaliknya, jangan paksa anak bermain. Di dalam Islam, belajar itu ada adabnya. Bermain bukan tujuan, tapi jembatan saja. Belajar memang harus dikondisikan belajar, bukan sambil bermain. Duduk tertib, mendengarkan yang berbicara di depan. Dan pilih alat bermain yang benar (contoh : dadu dekat dengan judi, dilarang).

Kehidupan ini adalah perjalanan yang akhirnya adalah bertemu Allah SWT, mari kita isi dengan banyak kegiatan bermanfaat dan diridhoi, dan menjauhi kesia-siaan sebagai bekal kita untuk pulang ke negeri akhirat nanti.

Yang paling jleb tentang adab belajar. Weeew, jadi gak ada itu pembenaran anak kinestetik! Belajar ya harus duduk *lirik tajam ke Akhtar ๐Ÿ˜› Bermain sambil belajar jadi berasa mentah sekali ๐Ÿ™

Semoga bisa lebih disiplin tentang belajar dan bermain ini ya ๐Ÿ™‚

6 thoughts on “Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim”

  1. Mba, saya juga minta izin untuk copi catatan2 mba di akademi keluarga ya, sbg bahan belajar sya dan suami, kami dari Kalimantan Selatan mba, belum ada kuttab di sini, ^-^ Jazakillah khairan sudah berbagi, apa boleh saya tau nama lengkap mba, saya sangat menghargai hak cipta mba, he2, terbiasa menyebutkan sumber/penulis.

  2. Assalamu’alaikum mbak..
    Terimakasih banyak, saya mendapat banyak ilmu dengan membaca tulisan tulisan mbak.
    Saya izin save ya mbak, dan apakah boleh saya share kan, tulisan nya mbak, untuk teman teman yang lain, dengan tetap menuliskan sumber web nya.
    Terimakasih mbak. Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *