Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Lompat ke satu bulan setelahnya. Hoooop! 13 Desember 2014 πŸ˜€

Kali ini sekolahnya cuma berdua karena di rumah masih ada Ibu. Konyolnya aku gak baca lokasinya. Udah sampe di Kelapa Dua, ternyata pindah ke Djuanda πŸ˜› Telat 5 menit, tapi insya Allah gak ketinggalan materi apa-apa πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Oleh : Ustad Galan

Β Pendidikan dimulai dari rumah. Rumah adalah lembaga pendidikan pertama. Di dalam rumah, semua pelajaran pertama seharusnya dimulai. Seorang pemimpin keluarga akan diminta pertangungjawaban tentang keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Ikutilah jalan yang ditunjukkan dalam Alquran dan Hadis karena jalan yang ditunjukkan pasti lurus. Jadi kuat tidaknya masyarakat dapat dilihat dari kuat tidaknya rumah-rumah di dalam masyarakat tersebut.

Β Jika rumah, sekolah, dan masyarakat adalah pilar utama pendidikan. Maka rumah adalah yang pertama dan yang paling kuat. Rumah adalah tempat anak-anak diterima pertama kali dalam keadaan fitrah. Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu banyak waktu di rumah dibanding di tempat lain. Orangtua bertanggungjawab pada anaknya. Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orangtua di hadapan anak-anaknya. Allah menjadikan rasa cinta untuk anak-anak di hati kedua orangtua. Keluarga adalah satu-satunya jamaah yang orang berafiliasi selama hidupnya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya rumah dalam pendidikan.

Β Sayangnya, pendidikan saat ini sangat jauh dari tuntunan dalam Islam. Sekolah β€˜jauh’ dari masjid. Sekolah di negara Islam mengikuti kurikulum dan manajemen di sekolah barat. Bahkan di banyak sekolah, sekolah menghancurkan apa yang diajarkan di dalam rumah. Β Padahal seharusnya sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hubungan antara sekolah dan orangtua harus berjalan harmonis. Bisa dilakukan dengan kegiatan belajar bersama orangtua, pertemuan rutin orangtua dan guru, sampai tugas harian yang ditujukan guru agar anak lebih dekat kepada orangtuanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih sekolah yaitu wajib tidak menyebutkan keburukan sekolah (apalagi gurunya) di hadapan anak. Guru harus memiliki wibawa yang besar sekali untuk anak. Anak sudah mulai diajak untuk melihat bakal sekolah dan kegiatannya. Peralatan sekolah pun sudah harus disiapkan sebelum mulai tahun ajaran. Yang perlu disoroti saat ini adalah fenomena orangtua yang mengajak anaknya untuk memilih sekolahnya. Padahal anak adalah tanggung jwab orangtua. Orangtua lah yang seharusnya memutuskan, bukan anak (apalagi anak di bawah usia sekolah wajib).

Lalu, fenomena yang lain adalah memberi anak banyak sekali kursus tambahan. Lebih banyak lebih baik. Apakah itu perlu? Menurut Khalid Asy-Sayntut, seorang pakar pendidikan Islam, hal itu tidak perlu. Guru/kursus tambahan hanya untuk anak-anak yang lemah dan orangtua yang tidak mengerti. Khalid Asy-Syantut bahkan menjabarkan agenda harian anak sejak bangun sampai tidur lagi yang dibedakan dengan agenda jika anak ujian untuk dapat dijadikan pedoman sehari-hari.

Jika memiliki anak banyak, orangtua mengajarkan anak pertama, lalu anak pertama mengajarkan adiknya sambil orangtua mengontrol. Jika liburan, bukan tidur dan bermain yang diperbanyak. Terus rutin belajar adalah yang paling disarankan. Namun waktu belajar boleh dikurangi. Waktu tidur boleh diperbanyak tapi hanya sedikit. Boleh menambah waktu main, tapi sedikit juga. Akan jauh lebih baik jika ada kegiatan tambahan yang membawa manfaat. Jika mulai besar, liburan bisa digunakan untuk magang kerja.

Jadilah orangtua yang tidak hanya fokus pada nilai. Fokuslah pada usaha dan perbaikan pada jawaban yang diberikan anak-anak. Mari berusaha menjadikan rumah yang akan menghasilkan anak-anak sholeh dan sholehah yang berprestasi gemilang. Lagi-lagi, jika ingin anak yang dekat dengan fitrahnya, orangtua pun harus sekuat tenaga berusaha untuk lebih dahulu dekat dengan fitrah.

Lagi-lagi mata berkaca-kaca. Membayangkan sebuah sekolah yang sedang berusaha menanamkan kekaguman anak pada guru, namun tak lupa bahwa kekaguman pada orangtua pun tak oleh luntur :’) Sebuah sekolah yang menanamkan iman :’)

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Masih di hari yang sama…

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Oleh : Ustadzah Nurliani Rahma Dewi

Adab adalah 2/3 dari ilmu itu sendiri. Jadi dalam belajar, adab harus diterapkan. Sebelum belajar, dilakukan pengkondisian supaya adab belajar tetap bisa terjaga. Baca tulis di Kuttab adalah aplikasi iman dengan pedoman Alquran. Urutannya dimulai dari juz 30 tentang alam, manusia, kisah, dan tadabur.

Calistung haruslah berangkat dari satu tujuan besar. Allah memerintahkan supaya kita membaca, menulis, dan berilmu. Tujuan besar itu ada di surat Al Alaq. Ayat pertama untuk Rasulullah adalah Iqra, bacalah. Membaca adalah perintah pertama Allah. Apakah ada yang lebih jelas daripada itu? Jadi benahi niat kita, ajarakan anak membaca untuk menaati perintah Allah, supaya Allah ridho, bukan hanya mengikuti kurikulum semata. Menghapal dan memahami arti harus sepaket, tidak boleh dipisahkan.

Membaca harus diartikan secara utuh, yaitu membaca kitab Alquran, membaca hukum alam, dan membaca norma-norma. Pelajaran membaca harus mengukuhkan iman kepada Allah dengan pedoman Alquran. Iqro adalah keseimbangan dalam ilmu. Artinya apa yang kita baca, harus kita aplikasikan dan diwujudkan dalam amal. Maka, jagalah apa yang kita baca. Begitu pun, apa yang kita tulis, apa pun itu harus kita pertangungjawabkan. Periksa lagi, benarkah apa yang kita baca/ tulis.

Kedua, tentang menghitung. Islam juga adalah agama yang mengharuskan umatnya supaya pintar berhitung. Sangat miris, di lingkungan kita pasti banyak sekali anak-anak yang pintar matematika, namun jarang sekali kita menemukan seseorang yang ahli menghitung waris. Padahal dasar mengitung waris, sudah jelas besarannya dalam Alquran. Jangan sampai ilmu yang ada dibuat untuk melakukan hal maksiat.

Di Kuttab, menghitung adalah ilmu pilihan. Diajarkan tersendiri, namun diintegrasikan pada ilmu lain. Tentu saja didasarkan pada Alquran. Contohnya, kisah di surat Ad Dhuha, tentang Asbabun Nuzul. Dari situ, bisa diajarkan tentang durasi kegiatan lama/ sebentar, bilangan belasan dan kelipatannya. Contoh integrasi, misalnya dengan IPS, saat belajar angka 3, tugasnya adalah bersilaturahmi dengan 3 tetangga.

Mengajarkan ilmu juga harus berkesinambungan supaya ilmu melekat. Jika merunut dari shiroh, perintah membaca jauh lebih dahulu daripada perintah sholat. Sholat saja diajarkan saat 7 tahun, berarti bukan masalah jika calistung diajarkan sebelum 7 tahun.

Sebagai orangtua boleh punya target, tapi jiika anak belum mampu, jangan kecewa berlebih. Sabar dalam proses, hati-hati pada niat. Sudah berusaha, sudah konsisten, ikhlaskan pada Allah. Berusaha saja, serahkan pada Allah. Allah yang menciptakan, dengan izin Allah pula, anak akan diberi pemahaman.

Iman sebelum Alquran, mempelajari Alquran untuk menambah keimanan. Jadi jadikan membaca, menulis, dan berhitung sebagai salah satu cara kita mendidik anak supaya menaati perintah Allah, supaya lebih dalam imannya karena pengetahuan calistungnya nanti.

Insya Allah, Allah akan mudahkan πŸ™‚

Waktu pemaparan ini, mataku sampai berkaca-kaca. Wooooow, saat iman seseorang sudah tinggi, bahkan calistung aja jadi bermakna begitu besar. Ayo niat ulang, ngajarin anak calistung adalah salah satu cara kita supaya Allah ridho karena itu adalah perintah Allah. Iqro’ πŸ˜€

Abis sekolah, karena malemnya masih aja sibuk ngurusin album Kirana #2 dan ngebut bikin PR ini, pergi sekolah pas belum beres-beres sama sekali. Dan telat beberapa menit πŸ™ Suami sama anak juga gak disiapin bekal, Jadi mereka harus cari sendiri. Maaf yaaa pak suamii :* Makasiih jagain anak-anak πŸ™‚

Pulang dari sekolah, mampir bentar ke rumah Chaca. Main sekalian nganterin pesenan gamis sama kerudung ibu ini πŸ˜› Sebenernya pengen lama, tapi inget cucian yang segunung dan rumah yang berantakan bangeeeet, ditambah tempat parkir biasa udah dipalang jadi harus parkir di depan RM Padang, jadi cuma bentar ke sana πŸ˜› Maaf ya Chaaa πŸ˜›

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Satu kali terpaksa bolos ‘sekolah orang tua’ pas mudik Oktober lalu. Dapet sih modulnya, tapi aku kok belum dapet kliknya kalo cuma baca ringkasan materi dalam format powerpoint itu. Jadi ada 2 sesiΒ  yang belum aku share ya. Semoga ada jodoh buat nulis 2 sesi itu sebisa aku πŸ˜€

Lompat ke sesi 13 πŸ™‚ Sekolah bulan November 2014.

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Oleh : Ustadzah Nunu Karlina

Β Tema pertama, Panduan Wisata. Di dalam Alquran, perjalanan bisa diterjemahkan sebagai bepergian (terutama untuk berdagang), yang mengembara (atau menjelajahi bumi), dan yang berpuasa (karena hanya makan bekal seadanya). Wisata bisa diartikan sebagai bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya dalam rangka rekreasi, penyelidikan, atau investigasi. Tujuan wisata yang disebutkan syariat adalah perjalanan menuju ke tiga masjid, yaitu Masjid Haram, Masid Rasulullah, dan Masjid Aqsa.

Hukum berwisata pada dasarnya adalah mubah. Jika untuk ibadah haji atau berjihad, maka hukumnya menjadi wajib, karena menjadi sebuah ketaatan pada Allah SWT. Jika dilakukan dalam rangka berdakwah, mengambil pelajaran dengan jalan merenungkan tanda-tanda alam yang mereflesikan kebesaran Allah, dan untuk mengamati nasib bangsa-bangsa terdahulu termasuk apa yang menimpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka, makan berwisata menjadi dianjurkan. Jika berwisata hanya untuk kesenengan ke tempat yang di dalamnya tersebar kerusakan, hukum berwisata menjadi Makruh. Sedangkan yang menyebabkan hukumnya menjadi haram, adalah wisata yang dilakukan dengan tujuan maksiat dan menjadi mempersempit hak-hak orang lain yang ditetapkan Allah (misal, berwisata tapi menunda membayar hutang).

Selain itu, kita harus sangat memperhatikan adab berpergian. Banyak berdoa dari sejak keluar rumah, naik kendaraan, perjalanan, sampai kembali lagi ke rumah. Bukankah doa musafir adalah salah satu doa yang diijabah oleh Allah? Hapalkan juga dzikir yang disunahkan oleh Rasulullah. Alih-alih menyanyi “naik-naik ke puncak gunung”, lebih baik jika bertakbir. Seperti dalam hadits,

Etika bepergian pun harus selalu dijaga, seperti berniat mencari ridho Allah, membawa perbekalan rukhiyah dan materi, dan berakhlak baik selama perjalanan. Sebaiknya ditunjuk pemimpin, yaitu ayah. Kenakan pakaian yang menutup aurat.

Aktivitas di perjalanan pun harus tetap berpegang pada syariah. Tidak menunda waktu sholat. Wisata kuliner tentu saja diperbolehkan, namun harus tetap memperhatikan halal dan haramnya. Tahan lah diri untuk selalu memakan makanan yang halal. Jika di tempat wisata, ada permainan yang berbahaya, silahkan dihitung manfaat dan mudharatnya.

Tema kedua, Bermain Keluarga Muslim. Di dalam Alquran, kata main diartikan sebagai lalai dan perkataan yang sia-sia. Makna yang negatif. Di zaman Nabi, banyak anak kecil yang saat mereka besar menjadi orang yang mulia. Seperti apakah mereka bermain?

Dunia anak-anak identik dengan permainan. Bukan tidak boleh, diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Aisyah ra. biasa bermain-main boneka perempuan saat Rasulullah datang ke rumahnya pada waktu beliau kecil. Sebagai orangtua, bukan mainan mahal yang diperlukan anak, tapi interaksi per hari yang harus selalu dijaga.

Jangan biarkan anak lalai karena bermain. Ajari anak mengenal waktu bermain. Sebaliknya, jangan paksa anak bermain. Di dalam Islam, belajar itu ada adabnya. Bermain bukan tujuan, tapi jembatan saja. Belajar memang harus dikondisikan belajar, bukan sambil bermain. Duduk tertib, mendengarkan yang berbicara di depan. Dan pilih alat bermain yang benar (contoh : dadu dekat dengan judi, dilarang).

Kehidupan ini adalah perjalanan yang akhirnya adalah bertemu Allah SWT, mari kita isi dengan banyak kegiatan bermanfaat dan diridhoi, dan menjauhi kesia-siaan sebagai bekal kita untuk pulang ke negeri akhirat nanti.

Yang paling jleb tentang adab belajar. Weeew, jadi gak ada itu pembenaran anak kinestetik! Belajar ya harus duduk *lirik tajam ke Akhtar πŸ˜› Bermain sambil belajar jadi berasa mentah sekali πŸ™

Semoga bisa lebih disiplin tentang belajar dan bermain ini ya πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 10 : Mengajarkan Qur’an dan Zikir

Oleh : Ustad Ja’far bin Hanbal

Β Diriwayatkan oleh Muslim, β€œSesungguhnya Allah mengangkat banyak kaum dengan Kitab ini dan menghinakan banyak kaum dengan Kitab ini”. Nabi Muhammad SAW pun juga mengatakan β€œTelah aku tinggalkan bagi kamu (ummatku) dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selamanya: Yaitu Kitabulloh dan Sunnahku”.

Β Membaca dan mengamalkan Alquran adalah kunci kebesaran Islam di masa lampau. Sejarah membuktikan bahwa hafal Aquran adalah tradisi orang-orang dahulu. Mereka biasa menyuruh anak-anak mereka menghapal Alquran sebelum mengarahkan ke bidang tertentu sesuai kecenderungan sang anak. Kita lihat beberapa contoh orang besar. Ibnu Sina hafal Alquran sejak usia 5 tahun. Ketika dewasa ia menjadi filosof dan ilmuwan di bidang kedokteran yang ilmunya masih dipakai sampai saat ini. Imam Syafi’i adalah penghapal Alquran di usai 7 tahun. Ketika dewasa ia menjadi ulama besar dalam ilmu fikih dan ahli bahasa. Muhammad Al Fatih, penakluk Konstantinopel hafal Alquran di usia kecil. Dan masih banyak contoh lainnya. Siapalah kita ini dibanding mereka?

Β Seseorang yang dekat dengan Alquran akan mudah diingatkan ke jalan yang benar saat menyimpang dan akan memiliki orientasi yang terarah. Alquran dijadikan pedoman di setiap langkah kehidupan sebagai bimbingan dan arahan jiwa. Di zaman penuh pertimbangan materi ini, waktu adalah uang. Membuang waktu hidup sia-sia artinya membuang uang. Tapi hal itu tidak sinkron dengan lamanya sistem pendidikan formal yang membutuhkan waktu belasan tahun sampai selesai.

Sejarah Islam membuktikan irit usia dengan segudang prestasi diperoleh dari tahap menghapal alquran 30 juz terlebih dahulu sampai usia 10 tahun, lalu di usia belasan menghapal kitab hadits, fikih, bahasa, dan ilmu-ilmu lainnya. Di umur 20an, menjadi orang besar dengan prestasi gemilang. Sebuah siklus yang digagas oleh Nabi Muhammad. Proses yang menghasilkan orang-orang besar yang memakmurkan bumi dengan prestasi yang lebih hebat dari ilmuwan saat ini. Sekali lagi, siapalah kita dibanding mereka?

Menghapal Alquran bukan cuma untuk menjadi ahli agama. Menghapal Alquran adalah tangga standar yang harus dilalui oleh setiap generasi muslim, apapun keahlian mereka nantinya. Jadi marilah kita perbaiki niat kita supaya walau terlambat, kita bisa berusaha mulai menghapalkan Alquran.

Sistem hapalan dan murajaah terbagi tiga. Ziyadah, Sabki, dan Murajahah. Ziyadah adalah hafalan baru untuk disetorkan. Sabki adalah mengulang hafalan yang baru selesai disetorkan kemudian disambung dengan hapalan yang lama. Murajaah artinya mengulang hafalan yang lama.

Mengajari anak menghapal bisa dilakukan dengan talaqqi, yaitu membacakan alquran per ayat berulang-ulang dan minta anak menirukan. Jika anak sudah mahir membaca Alquran, perintahkan ia menghapal mandiri dan kita simak. Simak hafalannya sampai hafalan anak menguat. Jika sudah hafal, ikutkanlah anak dalam halqah tahfiz agar anak bisa menyetorkan hafalan, jadwalkan waktu sabki dan murajaah, berikan ujian ringan seputar ayat, dan biasakan anak mendengarkan murrotal.

β€œJika tunas iman mulai tumbuh, jagalah. Dan jangan biarkan ayam mematuknya”. Berikan teladan yang baik, pandailah berkisah tentang keutamaan Alquran, ajak anak berkumpul dengan orang sholeh, berikan reward jika anak berhasil, dan jangan palingkan ia dari kebaikan padahal imannya telah menguat.

Kunci sukses keluarga Alquran adalah Niat yang ikhlas, keridhaan Allah, perjuangan orangtua, guru yang sholeh, anak yang selalu didoakan, lingkungan yang baik, dan sabar. Semoga Allah memudahkan langkah kita πŸ™‚

Alhamdulillah paaaaaas banget kakak udah mulai belajar surat pendek di sekolah dan sama aku. Sudah hapal selain Al Fatihah, surat Annas, Alfalaq, sama Al Ikhlas. Beberapa hadits pendek seperti hadis kasih sayang dan hadis menuntut ilmu juga udah hapal. Itu sih karena di sekolah belajar, aku juga harus hapal dong biar gak malu sama Akhtar πŸ˜› Karena kakaknya lagi belajar, Kirana juga tau-tau menggumamkan surat Annas. Aku terharu bayi 26 bulan aku udah mulai menghapal Alquran πŸ˜€

Ya Allah, bantu bukakan jalan yang lebar sekali ya supaya anak-anak kami ini menjadi hafidz dan hafidzoh. Bukakanlah hati dan pikiran mereka untuk selalu membenarkan ajaranmu ya Allah. Amiiiiin πŸ™‚

Akademi Keluarga Sesi 9 : Mengajarkan Anak tentang Uang

Oleh : Ustadzah Poppy Yuditya

Β Di dalam Alquran, peranan uang dalam kehidupan manusia adalah sebagai Fadhl Allah (kelebihan yang bersumber dari Allah), sebagai qimayah (sarana pokok kehidupan), dan sebagai khoir (kebaikan). Uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Di dalam QS. Thaha : 117 – 119, kebutuhan primer manusia yaitu sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan sekunder dan tersier bisa berdeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Oleh karena itu, keluarga muslim harus bisa membedakan dengan baik antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants).

Penting juga mengetahui cara membelanjakan harta karena untuk harta, kita harus bertanggung jawab untuk dua hal, yaitu dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya. Janganlah membelanjakan harta melainkan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Belanjakanlah harta dengan tidak berlebih-lebihan, tetapi jangan pula menjadi orang yang kikir. Keluarga muslim, bukanlah keluarga yang boros, tapi keluarga yang penuh pertimbangan dan perhitungan. Jangan sampai kita menjadi orang yang biasa membelanjakan barang mahal hanya karena merk. Hati-hati sekali dengan niat kita sewaktu membelanjakan harta.

Di dalam Alquran, ada 34 ayat yang memuat kata Ar Rusyd (cerdas). Di dalam 33 dari 34 ayat itu, cerdas diartikan siap menerima kebeneran saat kebenaran itu ada di depan mata. Menariknya, ada satu ayat yang mengartikan cerdas sebagai pandai memelihara harta (QS Annisa’ 5 – 6). Lawannya di dalam surat itu adalah orang yang belum sempurna akalnya. Pemuda yang Ar Rusyd adalah pemuda yang mampu mengatur, mengembangkan, menjaga, memperbaiki dan membelanjakan harta serta mampu membedakan mana yang manfaat dan mana yang berbahaya. Jadi mendidik anak supaya menjadi baligh yang memiliki Ar Rusyd adalah tantangan untuk kita sebagai orangtua. Supaya anak pandai mengelola hartanya, orangtua harus pandai mengelola harta dahulu πŸ™‚

Jika orangtua sudah mampu mengelola harta dengan baik, latihlah anak untuk mengendalikan harta dalam jumlah kecil. Saat anak SD, beri uang jajan sesuai kebutuhan, tapi beri tahu, uang itu untuk dibelikan apa saja. Jika mereka sudah memasuki usia baligh, latih lagi dengan jumlah harta yang lebih besar untuk dianalisa apakah ia telah mampu menjaga harta dengan baik, dan mengembangkannya. Jika dia mampu, maka ia telah layak mengendalikan hartanya sendiri. Namun bila belum, sampai usia berapapun, Islam tidak mengizinkan agar pemuda tersebut diserahi amanah harta yang lebih besar.

Janganlah kita melakukan kesalahan orangtua seperti memberi uang tanpa alasan, mengajarkan belanja barang-barang yang tidak jelas manfaatnya, dan menyenangkan anak selalu dengan uang. Jika hal tersebut kita lakukan, maka akan terbentuk anak yang menganggap uang sebagai sarana kemuliaan.

Jika kita tengok ke shiroh Nabi Muhammad SAW, di umur 8 – 10 tahun, nabi hanya mengembala kambing, padahal pamannya adalah pedagang besar. Nabi baru ikut menemani berdagang di usia 12 tahun. Lalu baru lah di usia 17 tahun, Nabi mulai berdagang sendiri. Jadi mari kita telaah lagi, apakah memang baik mengajarkan anak berdagang sejak dini? Ingatlah, kita harus tahu adab sebelum Ilmu.

Nasihat Khalid Asy-Syantut untuk cara mengajarkan anak tentang uang adalah jangan memberi uang pada anak tanpa sebab, orang tua memberikan uang ied sebagai bentuk cinta dan menyenangkan di hari Ied, biasakan menabung sejak kecil, SMP baru beri uang saku dengan catatan dia bertanggungjawab atas apa yang dibelinya setelah bermusyawarah dengan orangtua, SMA lanjutkan beri tambahan untuk tambahan tugas di rumah, ajarkan anak menulis perencanaan dan tanggungjawab pemakaian uang, beri penghargaaan jika perencanaan baik, dan hukum jika buruk. Dan biasaan anak berinfaq.

Ini materi sekolah bulan September πŸ˜› Satu point lagi, ustadzah bilang kalo jualan, untung gede-gede itu gak akan bikin kaya kok. Jauh lebih baik dan berkah kalo jualan yang ada unsur membawa kebaikannya πŸ˜€ Terus kalo mau beli barang, usahakan ke orang yang paling butuh atau paling dekat hubungannya sama kita. Nah, makanya kalo beli kerudung atau gamis sama aku, gak usah lagi nawar kejam yaaa, insya Allah memang untungnya gak sampe berlipat-lipat koook. Hahaha…ujungnya malah promosi jualan gini πŸ˜›

Semoga bermanfaat yaaa πŸ˜€

Just Try and Taste

Yes, as Simple as that! πŸ˜€

Sekarang kalo mau masak-masak, browsingnya langsung nama masakan yang dipengeni ditambahin akhiran Just Try and Taste πŸ˜€

My new Favourite blog! πŸ˜€

20140114_SotoLamongan

Soto Lamongan ‘lebay’. Saking lebaynya sampe kepenuhan dan gak bisa diaduk sama Masku πŸ˜›

Resepnya di sini πŸ˜€

Sebelum masak soto kan mesti ke pasar karena pas hari libur itu tukang sayur gak jualan. Pas nyobain jalan lain, bahagiaaaaaaa banget nemu gerobak jualan Toge Goreng! Ini kedua kali makan ini πŸ˜› Bela-belain nungguin panas-panas buat ngeliatin Masnya masak. Dan curaaang, itu bumbunya udah jadi! Aku kan jadi gak bisa nyontek πŸ˜›

Lumayan lah buat mengganjal perut sampe si soto jadi πŸ˜›

20140114_TogeGorenggg

Sorenya, yah makan donat cinta laaah πŸ˜€

Makasih ya Mbak Endang, aku akan sering mampir buat nyontek di blogmu πŸ˜€ *sok akrab πŸ˜›

Muslimah Bahagia

15 Juli 2013, ada talkshow muslimah di gedung seberang yang dibuka untuk kementerian ini juga. Terima kasih mbak Intan, yang mengundang kami lewat group chat di gtalk πŸ˜€ Judulnya “Membangun Sinergi Keluarga Kokoh dan Karir Cemerlang”, pembicaranya Bunda Neno Warisman πŸ™‚ Moderatornya Azimah Rahayu. Lucky Me! Sejujurnya g terlalu tau Neno Warisman sebagai pemain film. Yang aku inget cuma dulu dibeliin ayah ibu kaset ini, liriknya di buku yang baguuuuus banget ilustrasinya. Yang masih aku inget, lagu “Allah Turunkan Hujan” sama “A Ba Ta Tsa” πŸ˜€ Beberapa tahun lalu pas inget lagi, didownloadin sama Renny! Makasiiiih πŸ˜› Terus bernostalgia, nyari-nyari lirik dan ketemu di web ini πŸ™‚ Lagu “A Ba Ta Tsa” itu sekarang juga jadi lagu kesukaan kakak walo judulnya berubah jadi “Saya bu” Hahaha, karena ada bagian lagu yang ada kalimat itu πŸ˜› Kalo Azimah Rahayu, aku suka banget sama buku “Pagi ini Aku Cantik Sekali“nya. Kado ulang tahun ke berapa gitu dari Kak Iman πŸ™‚ Sempet jadi semacam buku pegangan aku. Haha.. Lucky Me, aku berkesempatan ketemu 2 orang yang hasil karyanya bikin aku kagum πŸ™‚ Alhamdulillah πŸ™‚

Oke, kembali ke talkshow πŸ™‚ Bismillah, semoga masih inget, karena g ada contekan hand out πŸ˜›

20130715_TalkshowMuslimah

dengan 2 anak gadisnya. Adorable ;’)

“Bu, kerja dimana?” / “Cuma pegawai rendahan” atau “Cuma tukang ketik” atau “Cuma ibu rumah tangga”. Sering denger percakapan seperti itu? Sering ya? πŸ™ Lihat betapa seringnya wanita merendahkan dirinya sendiri. Padahal Allah sudah begitu meninggikan wanita. Di Alquran aja sampai ada satu surat tersendiri tentang wanita. Q.S. Annisa. Muslimah itu istimewa πŸ™‚ Hal pertama yang harus kita muliakan sendiri adalah tubuh kita. Bunda Neno ini waktu pertama berjilbab pun langsung memakaikan jilbab dua anak perempuannya walo ditentang keluarga, karena mereka masih kecil. Tapi beliau tetap berpendirian teguh dan bersabar karena yakin kalau apa yang dilakukan adalah untuk mengistimewakan anak perempuannya. Jleb! πŸ˜›

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. Al Ahzab : 59)

Lalu, g perlu dibahas lagi pula kan karena bukan hal baru tentang kemampuan multitasking wanita. Multi tasking karena banyak peran yang harus dijalani. Jadi ibu, istri, anak, menantu, pegawai, bagian dari lingkungan, dan lain-lain πŸ™‚ Pengen bisa semuanya oke, kita butuh mengatur strategi. Jangan mengikuti arus! πŸ˜€

Dimulai dari bekerja dulu ya. Bekerja itu bisa diibaratkan pohon. Penghasilan kita adalah buah. Walau semua bagian penting, bagian terpenting adalah akar yang kuat. Akar ini adalah niat bekerja. Kita bekerja buat apa? *Makasih Yuli bantu aku nyari hadits ini πŸ™‚

Ω…ΩŽΩ†Ω’ Ψ³ΩŽΨΉΩŽΩ‰ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ ΩˆΩŽΨ§Ω„ΩΨ―ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω فَفِي Ψ³ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡ΩΨŒ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ†Ω’ Ψ³ΩŽΨΉΩŽΩ‰ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ ΨΉΩΩŠΩŽΨ§Ω„ΩΩ‡ΩΨŒ فَفِي Ψ³ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡ΩΨŒ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ†Ω’ Ψ³ΩŽΨΉΩŽΩ‰ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ω†ΩŽΩΩ’Ψ³ΩΩ‡Ω Ω„ΩΩŠΩΨΉΩΩΩŽΩ‘Ω‡ΩŽΨ§ فَفِي Ψ³ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡ΩΨŒ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ†Ω’ Ψ³ΩŽΨΉΩŽΩ‰ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„ΨͺΩŽΩ‘ΩƒΩŽΨ§Ψ«ΩΨ±ΩΨŒ ΩΩŽΩ‡ΩΩˆΩŽ فِي Ψ³ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ„Ω Ψ§Ω„Ψ΄ΩŽΩ‘ΩŠΩ’Ψ·ΩŽΨ§Ω†Ω
β€œBarangsiapa yang berusaha/bekerja untuk menafkahi kedua orang tuanya, maka terhitung fii sabiilillah. Barangsiapa yang berusaha/bekerja untuk menafkahi keluarga yang menjadi tanggungannya, maka terhitung fii sabiilillah. Dan barangsiapa yang berusaha/bekerja untuk kehormatan dirinya sendirinya (agar tidak meminta-minta), maka terhitung fii sabiilillah. Akan tetapi siapa saja yang berusaha/bekerja untuk bermegah-megahan, maka terhitung fii sabiilisy-syaithaan (di jalan syaithan)” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 9/23 dan dalam Syu’abul-iimaan no. 3875, Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 1867, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 4214, dan yang lainnya; dishahihkan Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah no. 2232]

Di situ ada kata ‘Barang Siapa’, g ada pembeda laki-laki atau perempuan. Poin lainnya lihat kata ‘berusaha/bekerja untuk kehormatan diri sendiri’, bahasa kerennya mengapresiasi diri :). Poin berikutnya ‘mencari nafkah untuk keluarga”, bisa keluarga kecil baru kita, orangtua kita, bahkan menghidupi sekeliling kita. Poin terakhir ‘Fii Sabiilillah’. Jadi jika kita bekerja, tentu saja di jalan yang halal, dengan niat untuk harga diri, kehormatan, keluarga, bahkan lingkungan sekeliling kita, Allah menyamakan dengan mujahid. Mujahid yang kalo meninggal, meninggal dalam syahid. Apa balasan syahid? Di antaranya, surganya di bawah singgasana Allah, saat menunggu hari akhir nanti, para mujahid diperbolehkan mencium aroma surga yang akan ditempatinya, dan yang terakhir yang bikin merinding, setiap pagi dan sore nanti bisa berhadapan dan melihat langsung wajah Allah swt *mrebes mili

Sudahlah, g usah kita pertentangkan tentang status ibu-ibu. Working mom lah, stay at home mom lah, dll. Semuanya tetap bisa membuat rumahnya sebagai rumah surga selama punya strategi yang strategis πŸ™‚ Jika mau belajar kisah nabi Muhammad SAW, dan khusuk membaca semua riwayat istri nabi, bisa kita lihat, semua istri nabi pun adalah wanita yang aktif, yang tidak hanya diam di rumah. Ini PR besar buat aku, nama-nama istri nabi aja g hapal. Gimana pengen anaknya jadi anak yang sholeh/ sholehah kalo ilmu agama masih aja cetek gini. JLEB! T__T

Semua orang punya mimpinya sendiri, tapi ujung-ujungnya adalah ingin meraih surga Allah kan? Mimpi yang benar, dengan cara yang benar, hasilnya pun insya Allah benar.

Nah, untuk bisa mencapai mimpi itu, strateginya harus dibikin. Sekali lagi, jangan mengikuti arus aja. Untuk bisa bikin strategi yang selalu bikin kita mikir “everything gonna be alright”, kita harus punya 4 kecerdasan. Pertama, kecerdasan intelektual. Kedua, kecerdasan emosional, kecerdasan yang sangat berhubungan dengan cara kita mengelola emosi dan perasaan. Bagian otak yang banyak berperan di sini adalah Amigdala. Jangan manjakan perasaan. Kelola amarah, hati, dan emosi kita. No drama! Hahaha πŸ˜› Kalo mau marah, coba tutup mata, menjauh dulu. Dan selalu upayakan untuk THINK POSITIVE (Apa yang kau sangka, itulah dirimu :)) πŸ˜€ Kalau masalah seperti g bisa diubah, coba cara memandang yang diubah πŸ™‚ Ketiga, kecerdasan spiritual, yakin semua yang terjadi adalah dengan izin Allah. Everything happen is a part of us. Takdir Allah. Jangan berburuk sangka pada Allah. Yang terakhir, adversity quotient, mental berjuang. Kecerdasan terakhir ini, sudah jelas kisahnya, Ibunda kita Siti Hajar. Bagaimana beliau tidak menyerah di saat ditinggal berdua di gurun pasir yang panas dan tandus. Ada satu artikel yang bagus dan jleb banget menurut aku, silahkan dibaca di sini πŸ™‚

So, what to do? Pertama, bina hubungan dengan Allah. Kedua, bina hubungan dengan anak (Misalnya, pakai mulut kita untuk menyapa hati mereka, jangan cuma marah-marah, jangan mengungkit apalagi minta balas jasa pada anak, jangan merendahkan anak, jangan membanding-bandingkan, dan sebagainya *ngomong sama diri sendiri sebelum nyodorin kaca buat yang baca :P), dan Gaulkan Nilai Baik dalam Keluarga (bangun nilai dan kultur baik di keluarga kita). Siapa ya familiar dengan ini “Kakak, Adek, Bunda kerja dulu ya?” / “Bunda kenapa kerja?”/ “Buat nyari uang buat beli susu adek, mainan kakak, bla bla bla”. Sadar g kalau kita mengajarkan anak jadi anak yang materialistis hanya dengan ucapan yang berulang itu setiap hari πŸ™ Gpp loh terdengar lebay dengan bilang “Bunda mau berjuang mencari nafkah buat keluarga kita” sehingga nilai berjuang dan nilai mencari nafkah sudah melekat di hati dan pikiran anak kita. Tapi kan maluuu didenger orang #abaikan πŸ˜›

Β Terakhir, Siapa yang sholatnya masih buru-buru? *ngacung πŸ˜› Aku baru tau dan semoga ini berguna untuk dibagi di sini. Surat Al Fatihah selalu dibaca di setiap rakaat yang kita kerjakan. Di sholat fardu aja berarti dibaca 17 kali. Sudah banyak yang tau betapa Allah menunjukkan keadilannya di dalam surat tersebut. 3 Ayat pertama untuk Allah, dan 3 ayat terakhir untuk Umat-Nya. Dan tahukah bahwa Allah ternyata menjawab di setiap ayat yang kita bacakan?

Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT ber-Firman :
“Aku membagi Shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku”.
β–  Artinya, tiga ayat diatas Iyyaka Na’budu Wa iyyaka nasta’in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya.
β–  Ketika Kita mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”. Allah menjawab :”Hamba-Ku telah memuji-Ku”.
β–  Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmanir-Rahim”, Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengaagungkan-Ku”.
β–  Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”, Allah menjawab : “Hamba-Ku memuja-Ku”
β–  Ketika kita mengucapkan β€œIyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in” , Allah menjawab : β€œInilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku”.
β–  Ketika kita mengucapkan β€œIhdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.” Allah menjawab : β€œInilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (H.R. Muslim dan At-Turmudzi)
β–  Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat. Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.
β–  Selanjutnya kita ucapkan “Aamiin” dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikatpun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.
β–  Barang siapa yang ucapan β€œAamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.”
(HR Bukhari, muslim, Abu Dawud)
sumber : ini

β€œInilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.”Β That’s it! Allah telah berjanji memenuhi semua yang kita minta. Jadi kenapa berkeluh kesah? πŸ™‚

Yuk, jadi muslimah yang bahagia! πŸ˜€

PR : Benerin sholat! Belajar kisah Nabi Muhammad supaya bisa lebih mencintai rasul bukan cuma di mulut saja. Belajar kisah istri dan sahabat, orang-orang yang beruntung berada dalam binaan Rasul πŸ™‚ Banyak ya PRnyaaa πŸ˜›

Semangat untuk jadi muslimah yang lebih baik! Amin πŸ™‚

*towel Yuli buat nge-review postingan ini πŸ˜€

Jadi Ayah Ada dong!

2 Senin berturut-turut dapet kesempatan menambah ilmu gratis. G perlu jauh-jauh pergi pula. Alhamdulillah πŸ™‚

Yang pertama 8 Juli, menjelang Ramadhan di kantor, cuma perlu naik lift πŸ˜› Jadi sekarang kan lagi digalakkan work-life balance. Perdana ini ada seminar parenting di kantor πŸ™‚Β  Judul di flyer β€œTantangan Ayah/ Ibu Pekerja dalam Membangun Quality Time dengan Anak-anak”. Pembicaranya Ayah Irwan Rinaldi. Alhamdulillah, ini kali ke-3 ketemu beliau, pas lagi hamil Akhtar, dan pas jadi pembuka seminar Komunikasi Pasangan ini. Dari pembicara yang dipilih kelihatan sasaran bidiknya adalah para ayah dan calon ayah di kantor. Makanya sedih, pas acara dimulai kuota 60 orang g terpenuhi. Banyak kursi kosong. Itu pun, udah ditambahin ibu-ibu πŸ™ Sempet sedih, masku batal ikut karena ngantuk, baru pulang jam Β½ 2 pagi dari Anyer itu. Jadi pas liat dia tiba-tiba masuk ruangan, dan duduk di baris depan, walo telat itu, rasanya aku bahagia sekaliiiii *peluuuk πŸ˜€

Diskusi ini lebih ke sharing pengalaman, berbagi cerita aja. Jadi alurnya random y? πŸ™‚ Di sini juga g 100% ucapan Ayah Irwan ya, di sana sini sudah aku interpretasi sesuai pemahaman aku πŸ˜›

Diskusi dimulai dengan satu slide yang tulisannya β€œMau dibawa kemana anak kita?” yang besar. Beberapa peserta ditanya, dan jawabannya beda-beda. Terus ditanya udah ngelakuin apa buat mencapai cita-cita itu. The 1st Jleb adalah sudahkah tujuan pengasuhan itu dikomunikasikan ke pasangan. Indonesia ini angka perceraian sudah semakin tinggi, karena masalah komunikasi ini. Karena waktu menikah, kebanyakan belum pernah dapet pelajaran jadi suami/ istri apalagi jadi ayah/ ibu πŸ™

Dipaparkan data-data tentang perilaku seksologis anak-anak Indonesia, di bukan kota besar yang sangat-sangat mencengangkan. Betapa bebasnya pergaulan anak-anak sekarang ini, bahkan dari usia yang masih kecil πŸ™ Udah banyak berseliweran di dunia maya ini sebenernya. Terutama yang pernah ikut seminar dari Yayasan Buah Hati. Sudahlah, g perlu lagi dijeber di sini ya?

Kenapa bisa begitu? Karena banyak anak-anak yang merasa jenuh, kesepian, takut/marah, stress, lelah, dan terutama FATHER HUNGER. Kekurangan sosok ayah. Ayah ada, Ayah tiada. Ayah yang terlalu sibuk bekerja atas nama mencari penghasilan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi lupa kalau anaknya butuh perhatian dan pengajaran darinya. Naudzubillahhiminzalik πŸ™

Dari kecil, anak-anak ini di sekelilingnya didominasi perempuan. Ibu, pengasuh, guru TK yang mayoritas perempuan, guru-guru sekolah. Misalnya sedang menceritakan sahabat nabi Ummar bin Khattab yang kuat. Ekspresi kuat perempuan gimana sih? G akan bisa menyamai laki-laki. Itu yang terekam dalam pikiran anak laki-laki kita. Padahal di usia itu dia butuh sosok yang bisa diteladani. Di situ, ayah berperan besar sekali. Untuk menunjukkan laki-laki itu yang seperti ini. Untuk anak perempuan pun juga besar perannya, memberikan hujaman kasih sayang dan perhatian, sehingga anak-anak tidak kekurangan dan jadi mencari perhatian dari laki-laki lain di luar sana. Penuhi hati anak-anak kita ini dengan cinta yang melimpah πŸ™‚ Ini hampir sama seperti yang ditulis Masku di sini.

Kenapa kita harus mengasuh anak menjadi generasi yang tangguh? Anak punya milyaran sel otak yang siap diisi dan masa depan anak tergantung dari apa yang didapat selama masa usia dini 0 – 15 tahun. Pembentuk karakter kita adalah ayah dan ibu. Kita yang sekarang adalah kita hasil pengasuhan ayah ibu kita dari 0 – 15 tahun yang lalu. Anak kita adalah hasil pengasuhan kita selama dia 0 – 15 tahun! Berat ya kewajiban ini? *puk-puk sesama orangtua πŸ˜›

Contoh : Waktu kecil ada anak jatuh dari sepeda. Familiar dengan kalimat ini “Kenapa jatuuh? Dindingnya ya yang nakal?” terus dinding dipukul sama orangtua si anak. Kelihatan sangat sederhana. Tapi efek ke jangka panjang sangat besar. Dari peristiwa-eristiwa yang seperti itu bisa tumbuh seorang pemuda/ pemudi yang g fighting, yang sering lari dari masalah, karena kurang punya tanggungjawab πŸ™ Jadi, berhati-hatilah dengan semua ucapan dan tindakan kita πŸ™‚

Wajib salah supaya tau yang benar.

Waktu bangun tidur adalah waktu pembukaan simpul fisik dan psikologis. Ditutup di waktu akan tidur. Waktu-waktu ini tidak boleh abu-abu. Waktu yang tepat untuk bertanya dan berbicara dari hati dan jiwa ke anak. Tanya ke anak perasaannya hari ini, apa yang menarik hari ini. Biasanya yang akan keluar adalah hal yang paling berkesan. Hal yang sangat baik atau hal yang sangat buruk. Saat itulah, kita bisa menguatkan yang baik, dan memutus yang buruk. Apalagi kalo yang melakukan ini adalah ayah. Lebih bermakna dalam untuk anak πŸ™‚

Betapa penting ya waktu-waktu itu? Jangan sampai lah ya mereka tidur di depan televisi atau gadget yang berteknologi canggih. Entah apa yang mereka lihat sebelum tidur, dan masuk ke simpul psikologis mereka. Syukur kalo yang baik, kalau ternyata yang buruk? πŸ™

Apa yang harus kita siapkan sebagai orang tua? Pertama, cek rumah kita, jenis seperti apa. Banyak pamrih kah? Sepi kah? Hangat kah? Yang kedua, periksa diri kita, kenali diri kita, bagaimana kita diasuh dulu. Lalu dibicarakan dengan pasangan yang juga memeriksa dirinya dan cara diasuh dulu. Ambil yang benar untuk dilanjutkan. Yang dirasa mengganggu, apalagi mengganggu pasangan kita, pelan-pelan diperbaiki. Kita g bisa balik ke masa lalu kan? Diingat kembali pola apa yang menimbulkan karakter yang seperti itu, lalu eliminasi, tinggalkan supaya tidak kita ulangi lagi ke anak-anak kita πŸ™‚ Lalu jadilah tokoh dan peran yang sesuai dengan umur anak.

Misalnya memuji. Untuk anak 0- 10 tahun, jangan tunda pujian, jangan pelit pujian. Lihat anak bisa naliin sepatu sendiri, datengin, turunkan badan sejajar mata anak, langsung puji β€œWah, anak ayah hebat bisa naliin sepatu sendiri. Ayah bangga sama kamu, nak” sambil dipeluk. Anak 10-15 tahun, cukup kasih 2 jempol kalo dia melakukan hal yang baik. 15 tahun ke atas? Tinju kecil ayah di pundak anak laki-lakinya itu udah yang paling besar artinya buat anak πŸ™‚ Jika orangtua g pelit memuji, anak akan menjadi pribadi yang g pelit pujian. Gampang memuji istri yang dandan lama demi terlihat lebih cantik di depan suami, misalnya πŸ˜›

Ini aku ringkas dari slide, karena waktu diskusi yang g banyak, jadi di bagian ini hanya sekilas, dan langsung ke contoh tadi πŸ™‚

Anak 0 – 10 tahun, perilaku tidak berakar kesadarannya, sehingga masih tidak tetap dan mudah berubah (misalnya, hari ini bilang mau jadi dokter, besok sudah berubah lagi :P), lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal (berupa respon lingkungan terhadap yang dilakukannya), sangat egosentris, kriteria baik buruk masih ditentukan oleh kesenangan material yang diterima (yang baik adalah enak, yang buruk adalah tidak enak), dan perilaku didominasi eksternal bukan hatinya. Di tahapan ini orang tua harus melakukan PENGARAHAN, PEMBIASAAN, dan KETELADANAN.

Anak 10 -15 tahun, perkembangan intelektualnya yang semakin rasional, perilakunya mulai mengakar pada kesadaran, mulai bisa membedakan yang baik dan buruk , luwes dalam berperilaku, penilaian baik buruk berpindah ke dampak perilaku, Perilaku masuk tahap kebiasaan dan berkembang menjadi karakter kepribadian, dan mulai berorientasi ke masa depan. Di tahapan ini orang tua MENANAMKAN NILAI LEWAT DIALOG yang bertujuan meyakinkan, PEMBIMBINGAN BUKAN INTRUKSI, dan PELIBATAN BUKAN PEMAKSAAN.

Anak 15 tahun ke atas, menguatkan nilai-nilai di atas, perilaku sudah mengakar kuat dan cenderung tetap. Konsep diri sudah kuat, sehingga merasa memiliki kebebasan dalam memilih dan menentukan. DI tahapan ini orangtua membantu dalam PERUMUSAN VISI dan MISI HIDUP PRIBADI, dan PENGUATAN TANGGUNG JAWAB SECARA SPIRITUAL.

Banyak ilmu parenting, dengan segala teori dan prakteknya, tapi satu yang pasti. Pakar Parenting itu adalah AYAH dan IBU. IMHO, That’s the point πŸ™‚

Semangat ya para Ayah Ibu! Semoga berguna πŸ˜€

Komunikasi Pasangan

Disclaimer : Postingan ini akan sangat panjang πŸ™‚

Sesungguhnya sangat merasa beruntung masukin anak ke TPA, jadi bisa ketemu orangtua terutama ibu-ibu yang hebat. Beberapa di antaranya udah pernah ikut Pelatihan Komunikasi Pengasuhan Anak sama Bu Elly Risman. Jadi, sedikit banyak bisa sangat belajar dari cara mereka bertutur sama anak πŸ™‚ Pengen banget ikut, tapi pas tau biayanya sangat lumayan, apalagi buat sepasang, mundur pelan-pelan πŸ˜› Menurutku percuma kalo cuma salah satu aja yang ikut, karena mengasuh anak kan berdua πŸ™‚ Tapi terus mikir, ada g ya pelatihan komunikasi pasangan yang harganya terjangkau. Soalnya menurutku lagi, percuma kalo udah tau cara berkomunikasi yang bener ke anak, sama pasangan g bener komunikasinya. Anak-anak pasti akan mencontoh πŸ™‚ Keinginan itu cuma mengendap aja, sampai baca retweetnya @anakjugamanusia yang ngasih tau kalo Kelompok Peduli Anak-nya @mratuliu bikin Seminar Komunikasi Pasangan yang biayanya masih terjangkau buat kami. Pas liat tanggal, langsung senyum merekah, pas ada ibu di Serpong! Horee, anak-anak ada yang jagain. Alam berkonspirasi πŸ™‚ Nanya ke masku, masku mau! Double Yay! Anggaplah sebagai early gift Ulang Tahun Pernikahan ke-3 kami πŸ˜›

29 September lalu berangkat pagi dari rumah, karena seminarnya dimulai jam 9, registrasi dari 1/2 jam sebelumnya. Kami sampai jam 8.45. Ndilalah, pas masuk ruangan seminar, Masku langsung bilang “Komunikasi Pasangan? Kirain Komunikasi Pengasuhan Anak” Aiish, aku sediiih πŸ™ Tapi biarin lah, g akan kabur juga kan dia πŸ˜› Seminar dibuka langsung sama Mona Ratuliu, cantik πŸ™‚ Sempet baca salah satu puisi di buku “Ayah Ada Ayah Tiada” karangan Irwan Rinaldi. Buku yang isinya puisi bikinin anak kecil yang semuanya jleb banget, misalnya ini “Hanya Bi Imah yg tersenyum dan bercanda, tak pernah tanya PR segala”, “Kenapa kita harus makan malam segala kalau perut msh kenyang terasa”. Jleb! Setelah itu Pak Irwannya sempet bicara sedikit tentang peran ayah dalam pengasuhan. Dulu pernah ketemu juga sama bapak ini pas hamil Akhtar πŸ™‚

Kesimpulannya kurang lebih “Bergaullah lahir dan Batin sama Anak” Mesti waktu yang dimiliki sedikit sekali untuk anak, gunakan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa karena ayah adalah mentor terbaik untuk anak-anak. Waktu terbaik untuk ngobrol adalah 1/2 jam sebelum dan bangun tidur. Mulailah dengan menanyakan perasaan anak, lalu tanyakan apakah mau cerita. Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang kehilangan figur ayah. Bayangkan ya, di rumah sama ibu, di sekolah, rata-rata guru TK dan SD, hampir 97%, adalah perempuan. Itu tidak baik, terutama untuk anak laki-laki, karena dia g punya sosok laki-laki yang harus diteladani. Ayah-ayah supir taksi dan tukang ojek aja punya komunitas ayah sendiri loh! Hebat πŸ™‚

Setelah itu, sesi Bu Elly Risman dimulai. Aku g bisa nih nulis semuanya kali ya. Seinget aku aja πŸ˜€ Ini juga sambil nulis, sambil liat coretan di hand out aku sama masku dan contekan di twitternya @ParenThink πŸ˜› Oh iya, sebelum masuk sesi ini, dibagi angket tentang apa yang g disukai dari pasangan dan harapan apa buat pasangan. Hahaha, lucu deeh, aku sama masku g mau saling ngeliatin πŸ˜› Nah, Perkawinan itu terdiri dari harapan, mimpi, dan realitas. Realitas yang beda sama harapan dan mimpi ini yang bikin kita jadi terkaget-kaget di awal menikah dan sering jadi masalah, parahnya kalo sampai terperangkap di hati sendiri, bagai baca buku yang tebal, yang semakin kita bolak-balik, semakin g ngerti isinya apa. Nah, biar g terperangkap di hati sendiri, makanya penting komunikasi yang bener πŸ™‚

Sampe situ, tiba-tiba para istri di situ dikasih masing-masing satu bunga mawar. Udah seneng kan yaa? Ternyata bukan buat kami, disuruh berhadapan sama suami, dan mengungkapkan terima kasih yang sangat mendalam ke suami yang bersedia mengorbankan Sabtunya buat mau diajak ke seminar ini! Seneng yaa liat ayah-ayah yang mau belajar buat jadi orangtua yang lebih baik gini πŸ™‚ Momen itu lumayan ya bikin muka ini blushing-blushing lucu πŸ˜› Dan ternyata bikin suami-suami lebih rileks. Masku pas ditanyain Bu Elly, bilangnya terharu dikasih bunga mawar πŸ˜€ Nih, ada fotonya, pinjem dari twitternya @mratuliu. Yang aku tandain itu kami looh! πŸ˜€ #narsis πŸ˜›

Setelah itu dipajang lah hasil angket tadi. Ternyata kebanyakan harapan suami ke istri adalah supaya lebih sabar, hemat, dan mandiri. Yang terakhir bikin ngaca deeh πŸ˜› Nah lalu kebanyakan harapan istri ke suami adalah supaya jadi imam buat keluarga πŸ™‚ Nah harapan yang g terkomunikasikan inilah yang bikin bersitegang, saling mendiamkan, saling merendahkan. Ah, padahal ada anak-anak yang perasaannya sangat haluuus sekali, sangat peka terhadap ekspresi orang tuanya. Sekecil apapun mereka, mereka ngerti kalo ada yang g enak di keluarganya. Tegakah kita bikin hati mereka merasa tidak aman? πŸ™ *jleb, langsung inget anak-anak, langsung basah mata ini πŸ™

Iklim rumah itu cerminan fondasi keluarga, kesehatan pribadi dan kesehatan anggota keluarga, psikis maupun fisik. Jadi kalo pasangannya sering sakit-sakitan, mungkin saja itu semua karena sesuatu yang tak tersampaikan. Karena otak manusia, terutama wanita, tidak didesain untuk stress yang berlama-lama. Nah, PR besar buat kami, dan mungkin banyak pasangan muda lain adalah bikin tujuan pengasuhan anak. Kekuatan mimpi dan harapan itu sangat penting dalam keluarga supaya tau langkah apa yang harus diambil buat mencapai tujuan itu. Harus lebih banyak taqwa, syukur, sabar, beramal saleh, ditambah keterampilan interpersonal supaya langgeng πŸ™‚

Oke, jadi apa sih akar masalahnya? Pertama, lupa kalo masing-masing dari kita ini unik yang perlu perlakuan khusus yang tidak sama. Lalu, lupa juga kalo laki-laki dan perempuan itu memang beda, terutama dari cara berfikir ya πŸ™‚ Nah karena itu jadi salah pengertian dan salah harapan πŸ˜› Hadeeuh, panjang ini kalo mau ditulis satu-satu apa aja bedanya πŸ˜› Kita ke contoh beberapa kasus aja yaa? πŸ˜€

Jadi misalnya sekarang lagi perayaan ulang tahun pernikahan. Kita, si istri ini, pasti ngarepnya para suami itu inget ya, syukur-syukur beli kado. Karena kita pengen hari itu jadi lebih spesial, inisiatif lah ganti lay out ruang tamu, capeeek kan ya geser kursi dan meja sendiri πŸ˜› Terus masak atau beli makanan kesukaan suami, biar terasa lebih spesial lagi, dihiaslah dengan selada segala macem. Belum cukup, sepre diganti baru. Harapan kita adalah suami menghargai usaha kita kan yaa? Jadi pasti kecewa dan jadinya marah kalo pas suami pulang ngeloyor aja masuk, lewat ruang tamu tanpa noleh, lalu ganti baju, dan langsung makan makanan kesukaannya sambil bilang “enak ya ma?”, dan tidur aja gitu g sadar sepre baru! Jadi deh ogah-ogahan jawab suami sampe 2 hari, suami yang bingung nanya “Mama kenapa sih diem-diem gini?” Yaak, dan nyerocoslah kita kalo 2 hari yang lalu itu perayaan nikahan loh, kita udah ngapain aja! ah, siapa juga yang nyuruh kan? πŸ˜› Hahaha, padahal otak laki-laki emang gitu ternyata. Akan jauuuh lebih gampang dan bikin semua seneng kalo kita ini, to the point, hari ini perayaan nikahan kita, mau makan malem dimana! Selesai πŸ˜› Take it easy, jangan suka hidup dalam alam pikiran sendiri πŸ™‚ Sudah dipraktekin kalo yang ini, dapet deh sepatu ini πŸ˜›

 

Ada satu yang bikin mata berkaca-kaca lagi, inget ayah πŸ™‚ Jadi kan anak laki-laki itu dibesarkan dengan banyak sekali kalimat “Jangan nangis, anak laki-laki g boleh nangis!” Jadi mereka sudah terbiasa dengan pola yang seperti itu. Jadi, pas liat istri nangis yang ada di pikirannya “Kenapa nangis-nangis siih?” Mereka jadi sering menghindar. Nah, padahal kita ini, anak perempuan, dibesarkan dengan sangat penuh kasih sama ayah ibu kita. Jatuh sedikit aja “Anak perempuan ayah sakit? Apa yang sakit nak” bahkan dipeluk. Bayangkan perasaan mereka yang biasa diperlakukan seperti itu mendapati suaminya yang menghindar? Laki-laki kalo sedih butuh waktu dan ruang. Sementara wanita cenderung ingin berbagi, didengarkan, disentuh, dan dipeluk. Keliahatan kan bedanya? Makanya harus ngerti banget perbedaan itu supaya jadi tau harus bagaimana saat salah satu sedang emosi. Jangan sampai ‘gila’ dua-duanya πŸ˜€ Dengarkan dan peluk istrimu ya, suami-suami! Beri waktu suamimu berfikir ya, istri-istri πŸ™‚ Ingat yaa, bagaimanapun kita memperlakukan pasangan, itulah yang akan menjadi pola anak dan cucu kita nanti ke pasangan, bahkan anaknya nanti πŸ™ Jadi, marilah yuk sama-sama memperbaiki diri supaya generasi ke depan ini jauuh lebih baik daripada kita πŸ™‚

Satu lagi, suami itu kesadaran tentang masalah menyempit. Jadi dia emang hanya bisa fokus mikirin satu masalah. Sementara istri, kesadaran tentang masalahnya melebar. Jadi bisa banget mikir banyak hal dalam satu waktu. Nah, makanya kita ini mikirnya detail, dan kadang jadi kesel kan kalo suaminya terkesan cuek πŸ˜› Yaaah, emang itu perannya istri, otak suami emang didesain begitu, simple, karena dia laki-laki πŸ™‚ Tapi, suami jangan lupa ngingetin istri yaaa, karena saking banyaknya yang dia pikirin, sering lupa sama diri sendiri. Di situ lah, peran suami, buat puk-puk istri supaya tetep ‘waras’, biar istri merasa kalo usahanya dihargai πŸ™‚ Pasangan juga butuh validasi atas eksistensi, kasih sayang, dan peran mereka berupa pengertian, pengakuan dan pujian yaa? πŸ™‚

 

Yah semacam itu lah, selalu inget kalo kita emang beda sama suami, dan manusia itu unik. Untuk jadi seorang manusia aja, harus ada sperma yang berjuang berkompetisi sama jutaan sperma lain menuju ke sel telur yang cuma satu itu. Kita ini memang sudah diciptakan unik. Yang paling susah menurut aku adalah laki-laki itu g suka ngomong, sementara kita, wanita ini, kebutuhannya ngomong! Karena terlalu ekstrim perbedaannya itu, jadi semuanya harus bergeser ke tengah, g bisa narik ke salah satu kutub. Jadi jangan mimpi bisa mengubah pasangan seperti yang kita pengen πŸ™‚ Karena dia memang diciptakan Allah seperti itu. Justru perbedaan itu harusnya jadi kekuatan yang saling melengkapi πŸ™‚ Terima saja, karena jodoh itu Rahasia Allah dan sudah diatur sama Allah πŸ™‚

Nah, jadi apa nih yang dibutuhkan supaya komunikasi lancar? Pertama, keinginan buat berubah yang kuat, berupaya melakukan mendengar yang baik dan benar, dan mencoba merubah perilaku. Kita selalu diajari untuk bicara, tetapi tidak diajar untuk mendengarkan. Jauhkan semua penghalang untuk mendengarkan. Kebiasaan itu muncul karena sesuatu yang diulang-ulang, jadi bisa banget bikin kebiasaan baru yang lebih baik dengan rajin mengulang-ulang hal baik itu. Istri harus jadi pihak yang lebih sabar ya, abaikan dulu naluri di dalam diri yang pengen semuanya dikerjain cepet πŸ˜› Cinta itu memberi ya, beri saja, jangan meminta πŸ™‚ Percaya saja kalo semua hal baik yang kita lakukan akan berbalik baik pula ke kita πŸ™‚ If Mom Ain’t Happy Ain’t Nobody Happy! :)

Mungkin sharing ini g mengena dan tidak lengkap. Tapi semoga bisa sedikit aja membuka wawasan kita supaya membenahi komunikasi sama pasangan, dan akhirnya jadi contoh yang baik juga buat anak cucu kita nanti. Memberi teladan itu lebih kuat mempengaruhi daripada berjuta kata kan?Β  Oh iya, jangan luka bersedekah buat diri kita sendiri dengan SENYUM! πŸ˜€ Senyum membuat otak mengeluarkan hormon seretonin yang anti agresif, bikin otak rileks πŸ˜€

Selesai seminar, alhamdulillah masku seneng dengan seminar ini! Seneng liat banyak coretan di lembaran handout dia. Salah satunya ini “Sebaik-baiknya laki-laki adalah laki-laki yang baik bagi keluarganya” Semoga kita bisa menerapkan ini ke keluarga kecil kita ya, mas? I Love U πŸ™‚

PS : PR selesai ya, Renny? πŸ™‚