Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau bersabda,

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.

Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.

Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah,

dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu.

Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.

Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

Coba kalimat ini diulang-ulang..

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.

Ada kumpulan air mata yang rasanya pengen menyeruak keluar dari mata gak sih?

Sesederhana itu seharusnya. Tapi kenapa kelihatannya begitu sulit?

Ya Allah, bantu hambamu yang sedang belajar untuk senantiasa menjagaMu, supaya anak-anak juga akan melihat teladan bagaimana menjaga Allahnya 🙂

A long way to go, but I’ll try the very best of me 😀

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.

Akademi Keluarga Sesi 18 : Belajar Bahasa Peradaban

Akademi Keluarga Sesi 18 : Belajar Bahasa Peradaban

Oleh : Ustad Herfi Ghulam Faizi

Bahasa adalah bagian dari peradaban. Kita mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Kita juga seharusnya jangan melupakan bahasa daerah supaya tetap terpelihara. Kita juga mempelajari bahasa asing, namun bahasa Arab seringkali tidak dijadikan pilihan karena banyak hal dan alasan. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai dalam Alquran al-Karim (QS. Yusuf : 2, QS. Az-Zumar : 28, QS. Asy-Syu’ara’ : 195).

 “Dengan bahasa Arab yang menjelaskan”, bisa diterjemahkan semua bahasa lain memiliki keterbatasan dalam kemampuannya menjelaskan. Bahasa Arab adalah bahasa yang mampu menjelaskan. Bahasa Arab menjadi kunci untuk memahami Alquran dan Assunah.

 Sahabat mulia, Umar bin Khattab, mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab sesungguhnya adalah sebagai bagian dari agama Islam. Bahasa Arab sangat luas, konteks kalimat sangat banyak, makan yang terkandung bisa menjadi sangat banyak. Jika kita hanya percaya pada suatu terjemahan, kemungkinan kita akan kehilangan makna yang sebenarnya menjadi sangat besar. Jadi akan jauh lebih baik, jika kita mengerti setiap hurufnya. Pemahaman tentang Alquran akan semakin baik. Pemahaman akan pedoman menjadi baik akan membuat kita menjalankan agama dengan lebih baik pula.

Selain itu, perbedaan bahasa umat manusia adalah merupakan tanda kebesaran Allah. Bahasa pemersatu yang menyatukan seluruh umat di berbagai belahan dunia itu menjadi sangat penting. Dan sebagai bahasa pemersatu umat, bahasa tersebut adalah bahasa Arab.

 Bahasa Arab adalah bahasa yang santun. Bahasa Arab yang digunakan dalam Alquran adalah bahasa Arab yang paling tinggi. Bahasa Arab dalam Alquran adalah sebaik-baiknya bahasa.

 Bahasa Arab terlihat susah karena kita tidak terbiasa menggunakannya sehari-hari. Namun Allah adalah yang Maha Adil. Allah tidak menurunkan Alquran hanya untuk orang Arab saja. Bahasa Arab harus kita yakini pasti diturunkan oleh Allah supaya kita semua bisa mempelajarinya dan menjadi mengerti tentang pedoman agama kita ini.

“Sebaik-baik manusia di kalangan kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya” (Al-Bukhari)

Masih belum terlambat untuk memulai. Semoga Allah mudahkan.

Sejujurnya, materi ini adalah materi yang aku tulis dengan blank. Jadinya paling pendek 🙁 Iya, waktu diajarin, pas anak-anak tiba-tiba masuk ke kelas dan ikut duduk, yang bikin aku jadi gak konsen 😛 Tapi jauh di lubuk hati, tau banget walo seluruh hati menyetujui kalau memang harus belajar bahasa Arab, sisi hati yang kecil, yang bilang kalau belajar bahsa Arab itu susah lebih mendominasi 🙁 Jadi ya gitu, belum jalan juga. Sedih, padahal bahasa Arab adalah bahasanya umat Muslim 🙁

Di pertemuan bulan Februari, ustadzah bilang kami gak perlu bikin tugas lagi. Hahaha, senang sekaliiii! Tapi kok ya pas materinya bagus, jadi malah sayang kalo gak dibagi di sini. Semoga Allah kasih waktu dan jalan ya supaya aku bisa tetep nulis materi sekolah sampai programnya selesai bulan April nanti 🙂

Ah, sekolah udah mau selesai. Tapi kok tetep merasa jauuuh sekali dari keluarga yang sesuai ajaran Allah dan Rasul? 🙁

Akademi Keluarga Sesi 17 : Mengenalkan Tauhid dan Surga

Materi 17 Januari 2015.

Akademi Keluarga Sesi 17 : Mengenalkan Tauhid dan Surga

Oleh : Ustad Budi Ashari

 Seorang tokoh filosofi besar, penulis dan komposer pada abad pencerahan mengenalkan konsep bahwa anak di bawah 18 tahun tidak boleh diperkenalkan konsep ketuhanan karena ketuhanan adalah hal yang abstrak. Hal itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. DI dalam Islam, abstrak berbeda dengan ghoib. Percaya pada hal yang ghoib termasuk tauhid harus diajarkan sejak dini. Ilmu Tauhid adalah yang pertama dan utama. Tanpa tauhid, perababan yang ada adalah peradaban yang rusak, yang lebih parah, peradaban yang tidak sadar kalau mereka adalah bagian dari peradaban yang rusak. Apabila seorang muslim kehilangan tauhid, maka itu berarti dia telah kehilangan segala-galanya. Naudzubillahiminzalik.

Urutan menanamkan tauhid adalah Al Hifdt, yaitu menghapal. Lalu Al Fahm, yaitu memahami. Dan terakhir Al I’tiqod, Al Iqon, At Tashdiq, yaitu meyakini atau membenarkan. Misalnya, saat mengajarkan anak untuk sholat. Contohkan dulu, lakukan saja. Jika anak sudah mengikuti, beri tahu bacaan sholat. Tentang rukun atau sunnahnya, biarkan diajarkan di belakang. Lalu jika sudah dilakukan, ajarkan tentang makna sholat, salah satunya ibadah adalah bentuk syukur karena telah diberi banyak sekali nikmat oleh Allah Swt. Hasil akhirnya, diharapkan ibadah bukan dilakukan seperti robot, tetapi dilakukan dengan kesadaran karena sudah merasakan nikmatnya.

Al ghazali menjelaskan bahwa memulai mengenalkan tauhid harus dengan talqin, yaitu diperdengarkan dengan maksud supaya anak meniru. Anak yang diperdengarkan nyanyian, akan menyanyi. Anak yang diperdengarkan sumpah serapah akan menyumpah serapah. Anak yang diajarkan kalimat Allah akan mengeluarkan lisan berupa kalimat Allah pula. Mulailah persering mengucapkan bahwa Allah lah pencipta. Allah lah yang menjaga, dst.

Agar anak ‘berinteraksi’ baik dengan Allah, hal yang bisa kita lakukan adalah pertama, Hidupkan fitrah manusia. Contoh, Tidak perlu dalil hanya untuk memotong kuku yang mulai memanjang. Secara fitrah, kuku yang panjang akan mempersulit aktivitas. Ajarkan anak untuk peka terhadap fitrah manusianya. Lalu mulai pula kenalkan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Lebih baik jika yang dikenalkan adalah kenikmatan yang ada dalilnya di Alquran. Contoh, tentang nikmat anggota tubuh yang ada dalam QS. Fathir : 3 dan QS. Adz Dzariyat : 21. Ajarkan untuk berterima kasih selalu pada Allah atas semua nikmat. Urusan dunia lihatlah ke bawah supaya tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan. Semoga anak kita menjadi anak-anak yang lisannya selalu memuji Allah Swt.

Ketiga, muroqobatullah, yaitu, mengajarkan bahwa orang selalu dilihat Allah. Allah selalu bersama kita. Allah selalu mengawasi kita. Berlakulah tulus dan tidak munafik. Keempat, latihlah ibadah wajib, sambil berjalan, sambil selipkan nilai. Terakhir, perbanyak kisah tauhid (bukan dongeng) dan keutamaannya. Misalnya, kisah Nabi Ismail yang diperintahkan disembelih oleh Allah untuk mengajarkan anak kekuatan percaya pada perintah Allah.

Anak-anak yang memiliki tauhid akan tidak mudah lelah, bosan, putus asa, penat, dan sakit. Anak-anak yang bertauhid akan bisa menghibur diri di tengah rasa-rasa tersebut karena harapan mereka diletakkan hanya di sisi Allah. Harapan memberi semangat yang besar untuk berjuang. Selain itu, manusia tidak ada yang sempurna, anak-anak yang memiliki tauhid, akan mudah kembali ke jalan yang benar saat berbuat salah. Contohnya, adalah Nabi Adam dan Setan. Setan memilih menyalahkan Allah. Nabi Adam mengaku salah dan menerima hukuman dari Allah untuk tidak menjadi penghuni surga lagi.

Anak-anak yang memiliki tauhid akan mudah meminta maaf saat salah, di kemudian hari akan memudahkan melepas mereka saat mereka pergi jauh dari kita, orangtuanya. Anak yang kokoh tersebut insya Allah akan menjadi orangtua yang kokoh pula nanti yang akan membangun keluarga yang kokoh yang semoga satu peradaban gemilang umat Muslim akan terwujud kembali. Amin ya rabbal alamin.

Menurutku, ini adalah materi yang sangat penting. Waktu ada materi ini, aku jadi melihat hal-hal yang selama ini aku anggap kecil jadi berasa sangat besar. Beruntung sekali kami ini, punya anak yang saat hujan turun, refleks bilang “Alhamdulillah hujan”. Anak-anak yang bersyukur akan datangnya hujan sebagai berkah, bukan yang ‘mengutuk’ hujan.

Insya Allah, walau dimulai dengan telat, saat ini kami sudah on the track tentang menanamkan tauhid ini kepada anak-anak 🙂 Saat jatuh, Allah yang sembuhkan. Saat dibeliin mainan, Allah yang kasih rejeki. Saat lihat gunung, Allah yang ciptakan. Alhamdulillah, anak-anak sudah fasih sekali menyebutkan keimanannya kepada Allah.

Alhamdulillah, semoga Allah selalu menjaga keimanan kami sampai akhir waktu nanti. Amiiin 😀

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Udah keliyengan baca materinya? Hihi, tenang, ini copy paste terakhir sejak terpaksa libur ngeblog 😛

Akademi Keluarga Sesi 16 : Hubungan Baik dengan Mertua, Ipar, dan Keluarga Besar

Oleh : Ustadzah Poppy Yuditya

 Di dalam suatu keluarga, yang wajib mencari nafkah adalah suami. Nafkah suami diberikan pada orang yang menjadi tanggungannya, ibunya, ayahnya, saudarinya, saudaranya, dan seterusnya. Jika istri juga mencari nafkah, maka akan terdapat dua pintu rejeki. Walau begitu, pintu yang dibuka hanya satu saja, yaitu suami. Walau yang dikeluarkan adalah dari istri, tetap melalui suami (bisa melalui izin). Hal itu bisa menumbuhkan dan meningkatkan qowammah suami.

 Jika suami dan istri telah mengerti peran masing-masing dan memiliki pola pemahaman yang sama, maka hubungan dengan mertua, ipar, dan keluarga besar sudah pasti akan baik. Sayangnya, karena suami istri belum mengerti secara baik peran masing-masing, banyak masalah bermunculan. Tidak cocok dengan ibu mertua, pilihan berbeda, sampai perahu pernikahan terancam karam. Sangat ironis jika perahu itu benar-benar karam bukan karena pasangan suami istri dan anak (ring 1) saja, namun karena hubungan dengan keluarga yang masih mahram (ring 2), apalagi karena keluarga yang bukan mahram (ring 3). Maka benahilah dulu ring 1, baru ke ring berikutnya. Bagaimana ring 2 dan 3 bisa baik, jika ring 1 saja masih berantakan? Jangan mengorbankan ring 1 untuk ring 2 apalagi ring 3.

 Kita harus yakin bahwa tujuan syariat itu pasti memudahkan, bukan menyusahkan. Salah satu contohnya, saat Islam mengharuskan istri keluar rumah harus dengan izin suami. Jangan dipikir bahwa itu menyusahkan istri, bahkan keluar mencari kerupuk saja harus izin suami. Jangan terlalu memikirkan susahnya tanpa dijalankan dahulu. Karena saat dijalankan, istri belum tentu akan susah. Yakinlah pada perintah Allah.

 Seperti diriwayatkan H.R. Tarmidzi, Rasulullah SAW bersabda orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrinya. Maka seorang suami yang baik akan senantiasa berbuat baik pada istrinya, termasuk memberi nafkah yang layak.

 Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim : dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya. Jadi, saat memang bisa membantu keluarga yang lain, maka bantulah. Niscaya Allah akan menggantikan keikhlasan kita akan digantikan Allah dengan pahala yang sangat besar.

 Kita juga harus sangat memperhatikan tentang bahayanya ipar masuk ke dalam rumah. Bahkan di dalam HR Bukhori dan Muslim, saat seorang Ansar bertanya pada Rasulullah bagaimana pendapatnya tentang saudara lelaki suami, Rasulullah menjawab Saudara lelaki suami adalah kematian. Mari belajar lagi tentang mahram lalu berlakulah sesuai ketentuan Allah. Jangan hanya karena malu, segan, maka ketentuan itu dilanggar. Contohnya : Berboncengan dengan ipar laki-laki. Jika tidak mau dengan alasan menjaga hubungan dengan mahram, mungkin akan dicap berlebihan oleh masyarakat. Tapi tidak apa-apa, kita sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu ridho Allah.

 Namun jangan terlalu kaku, di luar yang sudah ditentukan Allah tentang halal dan haramnya, selalu perhatikan adab. Jika terjadi masalah dalam hubungan suami istri, maka boleh dibicarakan dengan orang saleh di sekitar. Orangtua boleh dimintai pendapat asal masuk kategori tersebut. Jika memang butuh waktu, maka berilah waktu. Jangan memaksakan menyelesaikan masalah saat masih emosi. Solusi yang ditawarkan supaya tetap kuat kokoh berdiri adalah terus bersabar. Bersabarlah, tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, atau kesedihan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan karenanya.

 Semoga hubungan kita dengan pasangan, anak-anak, orang tua, mertua, dan keluarga besar senantiasa berjalan baik. Amin ya rabbal alamin.

Banyak ya PRnyaaa? Hihii…

Pulang dari sekolah, disuruh Masku nunggu dijemput. Dijemputnya ternyata pake motor temen yang lupa kalo ternyata dia bawa helm 1. Jadi melipir dulu ke rumah temen yang lain pinjem helm. Aku ‘diculik’ nemenin mancing bareng temen-temen kantor! Padahal lagi ngambek juga 😛 Tentu saja aku bawel. Soalnya pas pergi, anak-anak belum bangun! Dan gak pamit kan mau mancing 🙁 Huhuhu…tapi kan istri sholehah harus nurut suami yaa? 🙂 Lagian gak ngerti dari situ gimana caranya pulang sendiri 😛

Selesai hampir magrib, bawa banyaaaaaaak sekali ikan patin 🙂 Makasih ya ibu jagain anak-anak seharian lagi 🙂 Ikan-ikan juga dibersihin besoknya, dimasukin ke plastik kecil-kecil isi beberapa potong 😀 Alhamdulillah 😀

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Lompat ke satu bulan setelahnya. Hoooop! 13 Desember 2014 😀

Kali ini sekolahnya cuma berdua karena di rumah masih ada Ibu. Konyolnya aku gak baca lokasinya. Udah sampe di Kelapa Dua, ternyata pindah ke Djuanda 😛 Telat 5 menit, tapi insya Allah gak ketinggalan materi apa-apa 🙂

Akademi Keluarga Sesi 15 : Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Oleh : Ustad Galan

 Pendidikan dimulai dari rumah. Rumah adalah lembaga pendidikan pertama. Di dalam rumah, semua pelajaran pertama seharusnya dimulai. Seorang pemimpin keluarga akan diminta pertangungjawaban tentang keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Ikutilah jalan yang ditunjukkan dalam Alquran dan Hadis karena jalan yang ditunjukkan pasti lurus. Jadi kuat tidaknya masyarakat dapat dilihat dari kuat tidaknya rumah-rumah di dalam masyarakat tersebut.

 Jika rumah, sekolah, dan masyarakat adalah pilar utama pendidikan. Maka rumah adalah yang pertama dan yang paling kuat. Rumah adalah tempat anak-anak diterima pertama kali dalam keadaan fitrah. Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu banyak waktu di rumah dibanding di tempat lain. Orangtua bertanggungjawab pada anaknya. Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orangtua di hadapan anak-anaknya. Allah menjadikan rasa cinta untuk anak-anak di hati kedua orangtua. Keluarga adalah satu-satunya jamaah yang orang berafiliasi selama hidupnya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya rumah dalam pendidikan.

 Sayangnya, pendidikan saat ini sangat jauh dari tuntunan dalam Islam. Sekolah ‘jauh’ dari masjid. Sekolah di negara Islam mengikuti kurikulum dan manajemen di sekolah barat. Bahkan di banyak sekolah, sekolah menghancurkan apa yang diajarkan di dalam rumah.  Padahal seharusnya sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hubungan antara sekolah dan orangtua harus berjalan harmonis. Bisa dilakukan dengan kegiatan belajar bersama orangtua, pertemuan rutin orangtua dan guru, sampai tugas harian yang ditujukan guru agar anak lebih dekat kepada orangtuanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih sekolah yaitu wajib tidak menyebutkan keburukan sekolah (apalagi gurunya) di hadapan anak. Guru harus memiliki wibawa yang besar sekali untuk anak. Anak sudah mulai diajak untuk melihat bakal sekolah dan kegiatannya. Peralatan sekolah pun sudah harus disiapkan sebelum mulai tahun ajaran. Yang perlu disoroti saat ini adalah fenomena orangtua yang mengajak anaknya untuk memilih sekolahnya. Padahal anak adalah tanggung jwab orangtua. Orangtua lah yang seharusnya memutuskan, bukan anak (apalagi anak di bawah usia sekolah wajib).

Lalu, fenomena yang lain adalah memberi anak banyak sekali kursus tambahan. Lebih banyak lebih baik. Apakah itu perlu? Menurut Khalid Asy-Sayntut, seorang pakar pendidikan Islam, hal itu tidak perlu. Guru/kursus tambahan hanya untuk anak-anak yang lemah dan orangtua yang tidak mengerti. Khalid Asy-Syantut bahkan menjabarkan agenda harian anak sejak bangun sampai tidur lagi yang dibedakan dengan agenda jika anak ujian untuk dapat dijadikan pedoman sehari-hari.

Jika memiliki anak banyak, orangtua mengajarkan anak pertama, lalu anak pertama mengajarkan adiknya sambil orangtua mengontrol. Jika liburan, bukan tidur dan bermain yang diperbanyak. Terus rutin belajar adalah yang paling disarankan. Namun waktu belajar boleh dikurangi. Waktu tidur boleh diperbanyak tapi hanya sedikit. Boleh menambah waktu main, tapi sedikit juga. Akan jauh lebih baik jika ada kegiatan tambahan yang membawa manfaat. Jika mulai besar, liburan bisa digunakan untuk magang kerja.

Jadilah orangtua yang tidak hanya fokus pada nilai. Fokuslah pada usaha dan perbaikan pada jawaban yang diberikan anak-anak. Mari berusaha menjadikan rumah yang akan menghasilkan anak-anak sholeh dan sholehah yang berprestasi gemilang. Lagi-lagi, jika ingin anak yang dekat dengan fitrahnya, orangtua pun harus sekuat tenaga berusaha untuk lebih dahulu dekat dengan fitrah.

Lagi-lagi mata berkaca-kaca. Membayangkan sebuah sekolah yang sedang berusaha menanamkan kekaguman anak pada guru, namun tak lupa bahwa kekaguman pada orangtua pun tak oleh luntur :’) Sebuah sekolah yang menanamkan iman :’)

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Masih di hari yang sama…

Akademi Keluarga Sesi 14 : Baca Tulis Hitung

Oleh : Ustadzah Nurliani Rahma Dewi

Adab adalah 2/3 dari ilmu itu sendiri. Jadi dalam belajar, adab harus diterapkan. Sebelum belajar, dilakukan pengkondisian supaya adab belajar tetap bisa terjaga. Baca tulis di Kuttab adalah aplikasi iman dengan pedoman Alquran. Urutannya dimulai dari juz 30 tentang alam, manusia, kisah, dan tadabur.

Calistung haruslah berangkat dari satu tujuan besar. Allah memerintahkan supaya kita membaca, menulis, dan berilmu. Tujuan besar itu ada di surat Al Alaq. Ayat pertama untuk Rasulullah adalah Iqra, bacalah. Membaca adalah perintah pertama Allah. Apakah ada yang lebih jelas daripada itu? Jadi benahi niat kita, ajarakan anak membaca untuk menaati perintah Allah, supaya Allah ridho, bukan hanya mengikuti kurikulum semata. Menghapal dan memahami arti harus sepaket, tidak boleh dipisahkan.

Membaca harus diartikan secara utuh, yaitu membaca kitab Alquran, membaca hukum alam, dan membaca norma-norma. Pelajaran membaca harus mengukuhkan iman kepada Allah dengan pedoman Alquran. Iqro adalah keseimbangan dalam ilmu. Artinya apa yang kita baca, harus kita aplikasikan dan diwujudkan dalam amal. Maka, jagalah apa yang kita baca. Begitu pun, apa yang kita tulis, apa pun itu harus kita pertangungjawabkan. Periksa lagi, benarkah apa yang kita baca/ tulis.

Kedua, tentang menghitung. Islam juga adalah agama yang mengharuskan umatnya supaya pintar berhitung. Sangat miris, di lingkungan kita pasti banyak sekali anak-anak yang pintar matematika, namun jarang sekali kita menemukan seseorang yang ahli menghitung waris. Padahal dasar mengitung waris, sudah jelas besarannya dalam Alquran. Jangan sampai ilmu yang ada dibuat untuk melakukan hal maksiat.

Di Kuttab, menghitung adalah ilmu pilihan. Diajarkan tersendiri, namun diintegrasikan pada ilmu lain. Tentu saja didasarkan pada Alquran. Contohnya, kisah di surat Ad Dhuha, tentang Asbabun Nuzul. Dari situ, bisa diajarkan tentang durasi kegiatan lama/ sebentar, bilangan belasan dan kelipatannya. Contoh integrasi, misalnya dengan IPS, saat belajar angka 3, tugasnya adalah bersilaturahmi dengan 3 tetangga.

Mengajarkan ilmu juga harus berkesinambungan supaya ilmu melekat. Jika merunut dari shiroh, perintah membaca jauh lebih dahulu daripada perintah sholat. Sholat saja diajarkan saat 7 tahun, berarti bukan masalah jika calistung diajarkan sebelum 7 tahun.

Sebagai orangtua boleh punya target, tapi jiika anak belum mampu, jangan kecewa berlebih. Sabar dalam proses, hati-hati pada niat. Sudah berusaha, sudah konsisten, ikhlaskan pada Allah. Berusaha saja, serahkan pada Allah. Allah yang menciptakan, dengan izin Allah pula, anak akan diberi pemahaman.

Iman sebelum Alquran, mempelajari Alquran untuk menambah keimanan. Jadi jadikan membaca, menulis, dan berhitung sebagai salah satu cara kita mendidik anak supaya menaati perintah Allah, supaya lebih dalam imannya karena pengetahuan calistungnya nanti.

Insya Allah, Allah akan mudahkan 🙂

Waktu pemaparan ini, mataku sampai berkaca-kaca. Wooooow, saat iman seseorang sudah tinggi, bahkan calistung aja jadi bermakna begitu besar. Ayo niat ulang, ngajarin anak calistung adalah salah satu cara kita supaya Allah ridho karena itu adalah perintah Allah. Iqro’ 😀

Abis sekolah, karena malemnya masih aja sibuk ngurusin album Kirana #2 dan ngebut bikin PR ini, pergi sekolah pas belum beres-beres sama sekali. Dan telat beberapa menit 🙁 Suami sama anak juga gak disiapin bekal, Jadi mereka harus cari sendiri. Maaf yaaa pak suamii :* Makasiih jagain anak-anak 🙂

Pulang dari sekolah, mampir bentar ke rumah Chaca. Main sekalian nganterin pesenan gamis sama kerudung ibu ini 😛 Sebenernya pengen lama, tapi inget cucian yang segunung dan rumah yang berantakan bangeeeet, ditambah tempat parkir biasa udah dipalang jadi harus parkir di depan RM Padang, jadi cuma bentar ke sana 😛 Maaf ya Chaaa 😛

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Satu kali terpaksa bolos ‘sekolah orang tua’ pas mudik Oktober lalu. Dapet sih modulnya, tapi aku kok belum dapet kliknya kalo cuma baca ringkasan materi dalam format powerpoint itu. Jadi ada 2 sesi  yang belum aku share ya. Semoga ada jodoh buat nulis 2 sesi itu sebisa aku 😀

Lompat ke sesi 13 🙂 Sekolah bulan November 2014.

Akademi Keluarga Sesi 13 : Panduan Wisata & Bermain Keluarga Muslim

Oleh : Ustadzah Nunu Karlina

 Tema pertama, Panduan Wisata. Di dalam Alquran, perjalanan bisa diterjemahkan sebagai bepergian (terutama untuk berdagang), yang mengembara (atau menjelajahi bumi), dan yang berpuasa (karena hanya makan bekal seadanya). Wisata bisa diartikan sebagai bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya dalam rangka rekreasi, penyelidikan, atau investigasi. Tujuan wisata yang disebutkan syariat adalah perjalanan menuju ke tiga masjid, yaitu Masjid Haram, Masid Rasulullah, dan Masjid Aqsa.

Hukum berwisata pada dasarnya adalah mubah. Jika untuk ibadah haji atau berjihad, maka hukumnya menjadi wajib, karena menjadi sebuah ketaatan pada Allah SWT. Jika dilakukan dalam rangka berdakwah, mengambil pelajaran dengan jalan merenungkan tanda-tanda alam yang mereflesikan kebesaran Allah, dan untuk mengamati nasib bangsa-bangsa terdahulu termasuk apa yang menimpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka, makan berwisata menjadi dianjurkan. Jika berwisata hanya untuk kesenengan ke tempat yang di dalamnya tersebar kerusakan, hukum berwisata menjadi Makruh. Sedangkan yang menyebabkan hukumnya menjadi haram, adalah wisata yang dilakukan dengan tujuan maksiat dan menjadi mempersempit hak-hak orang lain yang ditetapkan Allah (misal, berwisata tapi menunda membayar hutang).

Selain itu, kita harus sangat memperhatikan adab berpergian. Banyak berdoa dari sejak keluar rumah, naik kendaraan, perjalanan, sampai kembali lagi ke rumah. Bukankah doa musafir adalah salah satu doa yang diijabah oleh Allah? Hapalkan juga dzikir yang disunahkan oleh Rasulullah. Alih-alih menyanyi “naik-naik ke puncak gunung”, lebih baik jika bertakbir. Seperti dalam hadits,

Etika bepergian pun harus selalu dijaga, seperti berniat mencari ridho Allah, membawa perbekalan rukhiyah dan materi, dan berakhlak baik selama perjalanan. Sebaiknya ditunjuk pemimpin, yaitu ayah. Kenakan pakaian yang menutup aurat.

Aktivitas di perjalanan pun harus tetap berpegang pada syariah. Tidak menunda waktu sholat. Wisata kuliner tentu saja diperbolehkan, namun harus tetap memperhatikan halal dan haramnya. Tahan lah diri untuk selalu memakan makanan yang halal. Jika di tempat wisata, ada permainan yang berbahaya, silahkan dihitung manfaat dan mudharatnya.

Tema kedua, Bermain Keluarga Muslim. Di dalam Alquran, kata main diartikan sebagai lalai dan perkataan yang sia-sia. Makna yang negatif. Di zaman Nabi, banyak anak kecil yang saat mereka besar menjadi orang yang mulia. Seperti apakah mereka bermain?

Dunia anak-anak identik dengan permainan. Bukan tidak boleh, diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Aisyah ra. biasa bermain-main boneka perempuan saat Rasulullah datang ke rumahnya pada waktu beliau kecil. Sebagai orangtua, bukan mainan mahal yang diperlukan anak, tapi interaksi per hari yang harus selalu dijaga.

Jangan biarkan anak lalai karena bermain. Ajari anak mengenal waktu bermain. Sebaliknya, jangan paksa anak bermain. Di dalam Islam, belajar itu ada adabnya. Bermain bukan tujuan, tapi jembatan saja. Belajar memang harus dikondisikan belajar, bukan sambil bermain. Duduk tertib, mendengarkan yang berbicara di depan. Dan pilih alat bermain yang benar (contoh : dadu dekat dengan judi, dilarang).

Kehidupan ini adalah perjalanan yang akhirnya adalah bertemu Allah SWT, mari kita isi dengan banyak kegiatan bermanfaat dan diridhoi, dan menjauhi kesia-siaan sebagai bekal kita untuk pulang ke negeri akhirat nanti.

Yang paling jleb tentang adab belajar. Weeew, jadi gak ada itu pembenaran anak kinestetik! Belajar ya harus duduk *lirik tajam ke Akhtar 😛 Bermain sambil belajar jadi berasa mentah sekali 🙁

Semoga bisa lebih disiplin tentang belajar dan bermain ini ya 🙂

Akademi Keluarga Sesi 10 : Mengajarkan Qur’an dan Zikir

Oleh : Ustad Ja’far bin Hanbal

 Diriwayatkan oleh Muslim, “Sesungguhnya Allah mengangkat banyak kaum dengan Kitab ini dan menghinakan banyak kaum dengan Kitab ini”. Nabi Muhammad SAW pun juga mengatakan “Telah aku tinggalkan bagi kamu (ummatku) dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selamanya: Yaitu Kitabulloh dan Sunnahku”.

 Membaca dan mengamalkan Alquran adalah kunci kebesaran Islam di masa lampau. Sejarah membuktikan bahwa hafal Aquran adalah tradisi orang-orang dahulu. Mereka biasa menyuruh anak-anak mereka menghapal Alquran sebelum mengarahkan ke bidang tertentu sesuai kecenderungan sang anak. Kita lihat beberapa contoh orang besar. Ibnu Sina hafal Alquran sejak usia 5 tahun. Ketika dewasa ia menjadi filosof dan ilmuwan di bidang kedokteran yang ilmunya masih dipakai sampai saat ini. Imam Syafi’i adalah penghapal Alquran di usai 7 tahun. Ketika dewasa ia menjadi ulama besar dalam ilmu fikih dan ahli bahasa. Muhammad Al Fatih, penakluk Konstantinopel hafal Alquran di usia kecil. Dan masih banyak contoh lainnya. Siapalah kita ini dibanding mereka?

 Seseorang yang dekat dengan Alquran akan mudah diingatkan ke jalan yang benar saat menyimpang dan akan memiliki orientasi yang terarah. Alquran dijadikan pedoman di setiap langkah kehidupan sebagai bimbingan dan arahan jiwa. Di zaman penuh pertimbangan materi ini, waktu adalah uang. Membuang waktu hidup sia-sia artinya membuang uang. Tapi hal itu tidak sinkron dengan lamanya sistem pendidikan formal yang membutuhkan waktu belasan tahun sampai selesai.

Sejarah Islam membuktikan irit usia dengan segudang prestasi diperoleh dari tahap menghapal alquran 30 juz terlebih dahulu sampai usia 10 tahun, lalu di usia belasan menghapal kitab hadits, fikih, bahasa, dan ilmu-ilmu lainnya. Di umur 20an, menjadi orang besar dengan prestasi gemilang. Sebuah siklus yang digagas oleh Nabi Muhammad. Proses yang menghasilkan orang-orang besar yang memakmurkan bumi dengan prestasi yang lebih hebat dari ilmuwan saat ini. Sekali lagi, siapalah kita dibanding mereka?

Menghapal Alquran bukan cuma untuk menjadi ahli agama. Menghapal Alquran adalah tangga standar yang harus dilalui oleh setiap generasi muslim, apapun keahlian mereka nantinya. Jadi marilah kita perbaiki niat kita supaya walau terlambat, kita bisa berusaha mulai menghapalkan Alquran.

Sistem hapalan dan murajaah terbagi tiga. Ziyadah, Sabki, dan Murajahah. Ziyadah adalah hafalan baru untuk disetorkan. Sabki adalah mengulang hafalan yang baru selesai disetorkan kemudian disambung dengan hapalan yang lama. Murajaah artinya mengulang hafalan yang lama.

Mengajari anak menghapal bisa dilakukan dengan talaqqi, yaitu membacakan alquran per ayat berulang-ulang dan minta anak menirukan. Jika anak sudah mahir membaca Alquran, perintahkan ia menghapal mandiri dan kita simak. Simak hafalannya sampai hafalan anak menguat. Jika sudah hafal, ikutkanlah anak dalam halqah tahfiz agar anak bisa menyetorkan hafalan, jadwalkan waktu sabki dan murajaah, berikan ujian ringan seputar ayat, dan biasakan anak mendengarkan murrotal.

“Jika tunas iman mulai tumbuh, jagalah. Dan jangan biarkan ayam mematuknya”. Berikan teladan yang baik, pandailah berkisah tentang keutamaan Alquran, ajak anak berkumpul dengan orang sholeh, berikan reward jika anak berhasil, dan jangan palingkan ia dari kebaikan padahal imannya telah menguat.

Kunci sukses keluarga Alquran adalah Niat yang ikhlas, keridhaan Allah, perjuangan orangtua, guru yang sholeh, anak yang selalu didoakan, lingkungan yang baik, dan sabar. Semoga Allah memudahkan langkah kita 🙂

Alhamdulillah paaaaaas banget kakak udah mulai belajar surat pendek di sekolah dan sama aku. Sudah hapal selain Al Fatihah, surat Annas, Alfalaq, sama Al Ikhlas. Beberapa hadits pendek seperti hadis kasih sayang dan hadis menuntut ilmu juga udah hapal. Itu sih karena di sekolah belajar, aku juga harus hapal dong biar gak malu sama Akhtar 😛 Karena kakaknya lagi belajar, Kirana juga tau-tau menggumamkan surat Annas. Aku terharu bayi 26 bulan aku udah mulai menghapal Alquran 😀

Ya Allah, bantu bukakan jalan yang lebar sekali ya supaya anak-anak kami ini menjadi hafidz dan hafidzoh. Bukakanlah hati dan pikiran mereka untuk selalu membenarkan ajaranmu ya Allah. Amiiiiin 🙂

Akademi Keluarga Sesi 9 : Mengajarkan Anak tentang Uang

Oleh : Ustadzah Poppy Yuditya

 Di dalam Alquran, peranan uang dalam kehidupan manusia adalah sebagai Fadhl Allah (kelebihan yang bersumber dari Allah), sebagai qimayah (sarana pokok kehidupan), dan sebagai khoir (kebaikan). Uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Di dalam QS. Thaha : 117 – 119, kebutuhan primer manusia yaitu sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan sekunder dan tersier bisa berdeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Oleh karena itu, keluarga muslim harus bisa membedakan dengan baik antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants).

Penting juga mengetahui cara membelanjakan harta karena untuk harta, kita harus bertanggung jawab untuk dua hal, yaitu dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya. Janganlah membelanjakan harta melainkan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Belanjakanlah harta dengan tidak berlebih-lebihan, tetapi jangan pula menjadi orang yang kikir. Keluarga muslim, bukanlah keluarga yang boros, tapi keluarga yang penuh pertimbangan dan perhitungan. Jangan sampai kita menjadi orang yang biasa membelanjakan barang mahal hanya karena merk. Hati-hati sekali dengan niat kita sewaktu membelanjakan harta.

Di dalam Alquran, ada 34 ayat yang memuat kata Ar Rusyd (cerdas). Di dalam 33 dari 34 ayat itu, cerdas diartikan siap menerima kebeneran saat kebenaran itu ada di depan mata. Menariknya, ada satu ayat yang mengartikan cerdas sebagai pandai memelihara harta (QS Annisa’ 5 – 6). Lawannya di dalam surat itu adalah orang yang belum sempurna akalnya. Pemuda yang Ar Rusyd adalah pemuda yang mampu mengatur, mengembangkan, menjaga, memperbaiki dan membelanjakan harta serta mampu membedakan mana yang manfaat dan mana yang berbahaya. Jadi mendidik anak supaya menjadi baligh yang memiliki Ar Rusyd adalah tantangan untuk kita sebagai orangtua. Supaya anak pandai mengelola hartanya, orangtua harus pandai mengelola harta dahulu 🙂

Jika orangtua sudah mampu mengelola harta dengan baik, latihlah anak untuk mengendalikan harta dalam jumlah kecil. Saat anak SD, beri uang jajan sesuai kebutuhan, tapi beri tahu, uang itu untuk dibelikan apa saja. Jika mereka sudah memasuki usia baligh, latih lagi dengan jumlah harta yang lebih besar untuk dianalisa apakah ia telah mampu menjaga harta dengan baik, dan mengembangkannya. Jika dia mampu, maka ia telah layak mengendalikan hartanya sendiri. Namun bila belum, sampai usia berapapun, Islam tidak mengizinkan agar pemuda tersebut diserahi amanah harta yang lebih besar.

Janganlah kita melakukan kesalahan orangtua seperti memberi uang tanpa alasan, mengajarkan belanja barang-barang yang tidak jelas manfaatnya, dan menyenangkan anak selalu dengan uang. Jika hal tersebut kita lakukan, maka akan terbentuk anak yang menganggap uang sebagai sarana kemuliaan.

Jika kita tengok ke shiroh Nabi Muhammad SAW, di umur 8 – 10 tahun, nabi hanya mengembala kambing, padahal pamannya adalah pedagang besar. Nabi baru ikut menemani berdagang di usia 12 tahun. Lalu baru lah di usia 17 tahun, Nabi mulai berdagang sendiri. Jadi mari kita telaah lagi, apakah memang baik mengajarkan anak berdagang sejak dini? Ingatlah, kita harus tahu adab sebelum Ilmu.

Nasihat Khalid Asy-Syantut untuk cara mengajarkan anak tentang uang adalah jangan memberi uang pada anak tanpa sebab, orang tua memberikan uang ied sebagai bentuk cinta dan menyenangkan di hari Ied, biasakan menabung sejak kecil, SMP baru beri uang saku dengan catatan dia bertanggungjawab atas apa yang dibelinya setelah bermusyawarah dengan orangtua, SMA lanjutkan beri tambahan untuk tambahan tugas di rumah, ajarkan anak menulis perencanaan dan tanggungjawab pemakaian uang, beri penghargaaan jika perencanaan baik, dan hukum jika buruk. Dan biasaan anak berinfaq.

Ini materi sekolah bulan September 😛 Satu point lagi, ustadzah bilang kalo jualan, untung gede-gede itu gak akan bikin kaya kok. Jauh lebih baik dan berkah kalo jualan yang ada unsur membawa kebaikannya 😀 Terus kalo mau beli barang, usahakan ke orang yang paling butuh atau paling dekat hubungannya sama kita. Nah, makanya kalo beli kerudung atau gamis sama aku, gak usah lagi nawar kejam yaaa, insya Allah memang untungnya gak sampe berlipat-lipat koook. Hahaha…ujungnya malah promosi jualan gini 😛

Semoga bermanfaat yaaa 😀

Akademi Keluarga Sesi 8 : Pengenalan Halal Haram Pada Anak

Oleh : Ustad Iwan Setiawan

 Di Taman Kanak-Kanak sudah umum diketahui kalau anak-anak diajarkan tentang rambu-rambu lalu lintas supaya mereka tahu dan berhati-hati. Padahal mereka baru akan menggunakan ilmu itu setelah mereka menjadi pengemudi kendaraan bermotor saat besar nanti. Mengapa kita tidak memulai mengajarkan tentang halal haram sejak kecil juga? Sesuatu yang sangat penting diketahui sejak dini supaya dari kecil terjaga dari hal yang haram. Sesuatu yang langsung harus dipraktekan. Menunda mengajarkan kebaikan padahal sudah mengetahui ilmunya sama halnya dnegan memberikan kesempatan pada setan untuk mengisinya.

 Mengetahui ilmu halal dan haram adalah 1/3nya agama. Halal adalah yang diperbolehkan oleh Allah. Halal itu bukan hanya mencakup makanan dan minuman saja. Haram adalah yang tidak diperbolehkan/ dilarang oleh Allah. Yang haram lebih sedikit daripada yang halal. Namun yang sedikit itu sangat menuntut kita untuk berhati-hati. Kita juga harus sangat berhati-hati tentang yang samar-samar hukumnya.

 Islam mengajarkan bahwa pendidikan anak dimulai jauh sebelum anak lahir dengan memilihkan rahim terbaik tempat mereka tumbuh, yaitu sang ibu. Lalu suami, sebagai pemberi nafkah, tidak memberikan nafkah kecuali yang halal sehingga sesuatu yang haram tidak sedikit pun hinggap dalam tubuh yang kelak akan menjadi darah dan daging.Begitu anak lahir, pilihkan nama yang baik dan penuh doa, haram menggunakan nama-nama yang dilarang oleh Rasulullah untuk dipakai.

 Lalu sedini mungkin kenalkan hal baik dan buruk. Bila anak melakukan hal baik, jangans egan untuk memuji. Namun jika dia melakukan hal buruk, tegur dan luruskanlah. Anak yang telah terbiasa dengan kata-kata diperbolehkan atau dilarang Allah insya Allah akan lebih terjaga. Tentu saja, contoh dari orang tua adalah hal yang mutlak.

 Pengaruh makanan dan minuman ternyata bukan hanya bagi kita sebagai individu, tapi ternyata juga bisa berpengaruh bagi keluarga, masyarakat, dan masyarakat muslimin. Dari makanan bisa menentukan bersih/kotornya hati, baik/buruknya perilaku, semangat berbuat baik/buruk, terkabul/ tidak terkabulnya doa, sehat/ sakitnya fisik, kuat/lemahnya suatu generasi, dan surga/neraka.

 Dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, kita bisa belajar dari Rasulullah untuk mendidik anak-anak kita tentang halal dan haram, yaitu wajib untuk mendidik dan mengajarkan halal dan haram sejak dini (sekalipun mereka belum baligh), pelarangan anak yang belum baligh dari sesuatu yang diharamkan dan menjelaskan sebab pelarangan agar anak mengetahui mengapa ia tidak boleh melakukannya, teguran/tindakan langsung dari orang tua begitu melihat anak-anak berdekatan dengan sesuatu yang haram, dan mengajak orang lain untuk juga belajar tentang halal dan haram karena kita tidak sendirian dalam mendidik dan melindungi keluarga kita.

 Jika sudah terlanjur bersinggungan dan menggunakan yang haram, segera lah kembalikan pada yang berhak lalu bertaubatlah. Sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Pengampun.

 Jadi, mari kita mulai mengajarkan anak-anak kita sekecil apa pun mereka tentang halal dan haram. Berulang-ulang ucapkan. Beberapa materi halal haram yang bisa kita ulangi dari anak-anak kecil misalnya seorang laki-laki tidak memakai emas dan sutera, sedangkan wanita boleh keduanya, tidak boleh melihat kemaluan teman, haram bagi muslim memelihara anjing di dalam rumahnya kecuali anjing penjaga dan anjing pemburu, haram seorang laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya, haram membuat tato, menyambung rambut, dan tindik bagi laki-laki.

Sebelum denger materi ini belum kepikiran sama sekali tentang ngenalin halal dan haram ke kakak sama adek. Alhamdulillah sekarang Akhtar udah cukup aware dengan selalu semangat mencari logo halal setiap dikasih/ beli makanan/ minuman. Kadang aku yang bingung jawab apa kalo pas beli makanan yang emang gak ada logonya semacam asinan. Lah emang gak ada logonya sih, jadi mikir juga eh, beneran semuanya halal gak sih ini yang dibeli 😛

Lebih bingung kalo Akhtar yang udah tau kalo babi dan anjing haram, nanya “Kalo jerapah? Gajah? bla bla bla”. Naaah, ketauan kan kalo selama ini ilmunya masih aja kurang. Jadi harus belajar lagi jauuuh lebih banyak 🙂

Tentang izin alhamdulillah udah lama dimulai sebelum ikut sekolah, tapi Akhtar masih suka lupa izin. “Kakak kalo gak izin, makanannya jadi apa hayo?” / “Harem ya?”/ “Alllem” (Kirana ikut-ikutan kakak terus kan?) :P/ “Haram kak” / “Iya, harem” / “Terus kalo haram gimana dong?” / “Dosa ya bunda? Nanti gak disayang Allah ya bunda? Nanti aku masuk meraka ya?” / “Iya” / “Besok-besok aku gak ulang deh biar disayang Allah”

Besoknya? diulang lagi kadang-kadang 😛 Gpp, jangan menyerah untuk mengajarkan kebaikan 😀